NOVITASARI: "MENANTI ANAK KEDUA"
KETIKA ia menghilang bersama tayangan iklan Silver Queen dan lagu Cintaku Nempel Terus, berita burung pun mulai bersabung, “Novi hamil di luar nikah!,” begitu kata kabar yang berakhir.
1995, ia datang lagi bersama klip lagu Rela. Seperti judul lagunya, Novi memang telah rela menjalani nasibnya. Ia bercerita terus terang tentang masa-masa “menghilang”-nya, tentang lelaki yang memberinya anak bernama Giovanni, dan tentu pula tentang anak kedua yang (waktu itu) tengah dinantinya.
PERAN UTAMA – NOVITASARI: “JANGAN MACEM-MACEM….!”
NOVITASARI muncul lagi (waktu itu). Mendendangkan lagu Rela, penampilannya dalam video klip di layar kaca (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red) sungguh jauh berbeda dibanding dua tahun sebelumnya (1993-red). Bukan cuma jenis lagunya yang tidak lagi berirama pop dangdut, bukan cuma gayanya yang tidak lagi banyak goyang, tapi juga raut wajahnya yang tampak lebih dewasa dan matang, “Habis sudah jadi ibu, sih,” ucapnya ketika Citra mengomentari penampilannya.
Namanya Giovanni
Seorang bocah lelaki (era itu) berumur kurang lebih 1,5 tahun, menangis dalam gendongan ‘babysitter’ saat melihat Novitasari. “Ini anaknya Novi,” ujar Ny. Nelly Asriel, ibunya Novi yagn sore itu menemani Novi ngobrol dengan Citra.
Novi hanya senyum sambil menyambut anaknya dari gendongan ‘babysitter’. Tangis sang anak pun terhenti dan dia merasa aman adalam rengkuhan Novi. Tak lama kemudian, Novi kembali menyerahkan anaknya pada ‘babysitter’ karena dia harus dandan untuk pemotretan.
Sore itu, langit mendung. Kondisi yang sesungguhnya kruang menguntungkan untuk mendapatkan hasil pemotretan yang bagus. Tapi karena Novi hanya bersedia meluangkan waktu saat itu, dengan sangat terpaksa, pemotretan pun dilakukan.
“Soalnya saya sibuk. Dan sebenarnya, saya malas diwawancarai wartawan,” ungkap artis yang namanya melejit lewat lagu Cintaku Nempel Terus ini. Sementara pemotretan berlangsung, sang anak yang digendong ‘babysitter’ masih terus menangis setiap kali melihat Novi. “Dia memang dekat sekali sama Novi,” ujar Ny. Nelly lagi. “Gue,” timpal Novi. “Yang ngandung 9 bulan dan melahirkannya,” sambungnya lagi.
GIOVANNI, itulah nama yang diberikan Novi pada bocah ‘lanang’ (era itu) yang dilahirkannya pada Desember 1993. Beberapa bulan sebleumnya, ketika kandungan Novi sudah mulai tampak, banyak media menulis berita yang menurut Novi dan ibunya, sungguh sangat merugikan nama Novi.
Saat itu, Novi memang tak pernah muncul di tengah masyarakat, baik lewat layar kaca maupun media cetak. Kandungannya yang mulai membesar, membuatnya harus banyak beristirahat dan membatasi ruang geraknya sebagai ‘public figure’. Itulah alasan utama kenapa Novi saat itu seperti menjauh dari pemberitaan media.
Beberapa media kemudian mengartikan alasan Novi ini dengan tafsiran yang bermacam-macam. Hamil di luar nikahlah, kawin lari karena tidak disetujui orangtualah, dan banyak berita lain yang hampir semuanya bernada minor. Ini membuat Novi dan keluarganya bertambah berang.
Novi tambah segan bertemu dengan wartawan. Dia seperti alergi pada mereka yang berprofesi wartawan. Tak peduli siapapun dia, selama profesinya wartawan, maka Novi langsung menarik diri untuk tidak bicara sepatah kata pun.
Hingga saat itu (1995-red) pun, Novi masih merasa risih pada wartawan. Juga pada Citra. Setiap kali ditanya soal “gosip” masa lalunya, Novi selalu berusaha menghindar, hingga akhirnya dia menjawab, “Itu masa lalu, saya nggak mau ngomong apa-apa soal itu. Terserah orang mau bilang apa, saya punya hak untuk memilih apa yang terbaik buat saya. Sudahlah jangan macem-macem!” Dan kalimat “jangan macem-macem!” ini beberap akali diucpakannya dalam obrolan di sore hari itu.
Masa Pacaran
Tapi, ketika ditanya soal masa-masa pacarannya dengan sang
suami, Novi tak lagi sempat bilang “jangan macem-macem.” Dengan mata berbinar
dan mulut tersenyum, dia bilang, “Sangat singkat.” Awalnya, dia bertemu dengan
Roger Widjoyo yang akrab dipanggil Roy, sata pemotretan untuk sampul majalah
ibukota.
“Waktu pertama kali ketemu dan kenalan, saya sudah merasa suka sama Roy. Dia orangnya lucu, banyak humor, dan dewasa,” ujar ibu muda (era itu) yang lahir di Jakarta, 16 November 1973 ini. Seminggu kemudian, Novi sudah tampak akrab dengan Roy. Mereka pun sempat jalan-jalan ke Puncak. Dan tak lama kemudian, mereka sepakat memadukan cinta mereka dalam sebuah biduk rumah tangga.
Niat ini ternyata tidak semulus yan gmereka bayangkan. Perbedaan agama, itulah persoalan besar yang menghadang. Roy, lelaki keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Sorong-Irian Jaya ini, adalah pemeluk agama Katolik, sementara Novi yang berdarah Minang, sejak lahir sudah memeluk agama Islam.
Ny. Nelly, tentu saja menentang keras niat putri bungsunya ini. Namun “betotan” asmara sudah begitu kuat menyedot Novi. Tekadnya bulat untuk menikah dengan Roy. Maka keduanya pun pergi ke Singapura dan melnagsungkan pernikahan di catatan sipil pada awal Januari 1993. Lantas siapa yang mengalah untuk pindah agama? “Say ayan gikut agama dan keyakinan Roy!,” jawab Novi singkat dan tegas.
Ny. Nelly sempat syok berat dengan kenekadan putrinya ini. Barangkali, asat itulah Ny. Nelly mengalami cobaan yang sungguh berat bagi seorang ibu. Cobaan ini ternyata tidak berhenti hingga di situ. Beberapa media cetak, rupanya mencium informasi pernikahan Novi.
“Sayangnya, mereka mendapat informasi yang salah, dan bertendensi menjatuhkan nama baik Novi,” ujar Ny. Nelly. Dan mulailah gosip-gosip berseliweran. Hampir semua telinga yang ada di rumah Ny. Nelly, berwarna merah terendam amarah. Saking kuatnya gelombang yang mendera, Ny. Nelly pun jatuh sakit. “Berat badan saya turun sampai 15 kilo.”
Menanti Anak Kedua
CINTA, dengan segala kekuatannya, dengan segala kesaktiannya,
dengan segala macamnya, telah menyatukan Novi dan Roy sebagai suami-istri. Kekuatan
cinta Roy dan Novi, akhirnya meluluhkan hati Ny. Nelly. “Bagaimanapun dia anak
perempuan saya. Dia telah melakukan pilihannya sebagai wnaita dewasa. Saya
mesti menghargainya,” ucap Ny. Nelly.
Ya, Novitasari (belakangan itu) memang sudah dewasa. Pilihannya untuk menjalani hidup berasma Roy seperti dia bilang, adalah haknya. Roy yang lucu, yang penuh humor, dan kebapakan, dan barangkali merupakan pelabuhan harapan Novi yang sejak umur 2 tahun sudah menjadi anka yatim ini. Roy yang (saat itu) berumur 31 tahun, rupanya cukup mumpuni memenuhi kerinduan Novi akan kasih sayang seorang ayah.
“Saya tak sempat mengenal ayah saya. Wajahnya pun hanya saya kenal lewat foto,” ujar Novi. Jadi, Roy bagi Novi bukan hanya seorang kekasih, suami, kawan dalam suka dan duka, tapi lebih dari itu, Roy juga bisa menjadi ayah baginya.
1995, Novitasari yang pernah melantunkan lagu Seperti Di Film, Asyik Pacarku Datang, bermain dalam film Ketika Senyummu Hadir (layar lebar-red), dan sinetron Rumahku Istanaku (Indosiar), serta menjadi bintang iklan beberapa produk ini, secara hukum (saat itu) sudah resmi menjadi Ny. Roger Widjoyo. Dia pun berlenggang bnagga sambil menuntun tangan Giovanni.
Bahkan saat berbincang dengan Citra, Novi (waktu itu) tengah mengandung anaknya yang kedua. “Baru empat bulan,” katanya (waktu itu) sambil melirik perutnya yang belum kelihatan membuncit.
Setelah “prahara” yang mengguncang kehidupannya reda, Novi
dan Roy (belakangan itu) bisa dengan tenang mengayuh biduk rumah tangga mereka.
Roy yang membuka usaha jasa bergerak di bidang ekspor-impor, mengajak Novi
untuk ikut membantunya. Dan Novi pun tak keberatan karena semetnara itu, Novi
merasa belum terlalu repot mengurus anak dan keluarganya.
“Kalau nanti sudah banyak yang mesti diurus dalam rumah tangga, saya ingin di rumah saja. Mengurus anak dan menjadi ibu rumah tangga yang baik,” katanya. Lantas, bagaimana dengan tarik suara? “Sampai saat ini (1995-red) saya masih belum berpikir, mau diteruskan atau berhenti saja? Tawaran untuk rekaman, main film, atau sinetron, walaupun tidak banyak, tapi ada,” jawab Novi (waktu itu).
Dan kalau pemirsa teve (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red), melihat Novi muncul melantunkan Rela, percyalaah klip itu dibuat jauh sebelum wawancara ini berlangsung. Dan menurut Novi, lagu itu bisa dibilang sebagai “bayar hutang” kepada produser. “Sebelum Novi kawin, kontraknya sudah dibuat. Karena Novi sibuk ditambah kemudian hamil, jadi rekamannya tertunda. Baru November 1994 lalu, rekaman selesai langsung bikin klipnya.”
Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi
Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar