NADYA HUTAGALUNG: "ANAK SAYA LEBIH BATAK DARI SAYA"
SUKSES di usia muda, di negeri seberang lagi, ternyata tidak
membuat Nadya Hutagalung, VJ-MTV Asia, tercerabut dari akar budaya. Tindak-tanduknya
mencerminkan orang timur. Yang lebih membanggakan lagi, ibu seorang anak (era
itu) itu dengan lantang mengatakan, “Saya bangga sekali jadi orang Batak, meski
ke Medan baru sekali,” ujarnya (waktu itu). Kebanggaan lain? “Anak saya lebih
Batak dari saya,” ujarnya lagi.
Terlepas dari rasa bangga, Nadya ingin menetap di Jakarta. “Tapi entah kapan? Minimal setelah siap mental dalam menghadapi gosip,” tuturnya. Tapi, di mana pun dunia selebritis tak jauh dari gosip Nadya? “Ya, tapi jangan bohong! Kalau dibohongi saya akan marah! Ingat, saya ini orang Batak, berzodiak Leo dan bershio Macan,” ujarnya disertai tawa yang renyah. Iya deh. (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) ‘welcome to Jakarta’, Nadya.
PROFIL UTAMA: NADYA HUTAGALUNG
BARU berusia 22 tahun pada 28 Juli 1996, Nadya Hutagalung
seperti sudah punya segala-galanya. Bayangkan, 10 tahun sebelum bacaan ini
dimuat Bintang (1987-red), kala baru berusia 12 tahun, Nadya sudah menikmati
kilatan blitz fotografer yang mengabadikan wajah rupawannya untuk menghaisi
aneka majalah terbitan Australia dan Jepang.
1997, ia diakui publik sebagai VJ (‘video jockey’) MTV (‘Music Television’) Asia yang berhasil. Memang, menyenangkan mencermati wanita satu ini. Kadang ia nampak dewasa dan mandiri, tapi sering pula terlihat kekanakan (kala itu).
Tak heran kalau kemudian banyak yang tergoda untuk mengeksplorasinya. Mulai dari biro-biro iklan, yang berniat mengkomersialisasikan paras cantiknya untuk mengiklankan produk tertentu, hingga seniman sekelas Garin Nugroho yang ingin betul Nadya membintangi film terbarunya (era itu).
Lantas, barangkali, di antara sekian banyak pemuja perempuan blasteran Indonesia-Australia ini, ada juga yang cemburu melihatnya diperlakukan seistimewa itu. Padahal tidak perlu. Toh, sukses demi sukses yang dikecapnya, 1997, tak lain buah kerja kerasnya sendiri. Model terbaru (kala itu) iklan sabun Lux ini, tak kenal istilah fasilitas. “Semua saya peroleh dari keringat sendiri. Bukan karena orangtua dan orang lain. Saya bangga karenanya,” tutur Nadya.
Tentu ia pantas bangga. Nadya juga tak mau sembarang mengiyakan semua kontrak yang diajukan padanya. “Kalau harus memilih antara ‘job’ yang mahal tapi berselera rendah, dengan yang murah tapi punya manfaat untuk orang banyak, jelas saya pilih yang terakhir!,” tegasnya. Sebuah sikap profesional yang mesti disaluti.
Begitupun, Nadya nyatanya tetap pribadi yang rendah hati – tak peduli betapa tingginya sanjungan yang ia terima. Sepanjang wawancara dan pemotretan, misalnya, sama sekali tak tercetus sikap, “Saya ini bintang! Perlakukanlah saya seperti itu!”
Kesederhanaan yang agak mengherankan, sebab tak sedikit para pemula yang sudah berani bersikap arogan dan menuntut diperlakukan istimewa. Ingat pula bagaimana pertengahan tahun 1996 lalu ia berani mengumumkan statusnya sebagai ibu seorang putra yang sebelumnya tak diketahui khalayak. Agaknya, kedewasaan seperti inilah yang bisa kita pelajari darinya.
Ditulis oleh: Sandra Kartika
Saya Memilih Tante Sebagai Manajer
“SETELAH muncul sebagai VJ MTV Asia sejak satu setengah tahun lalu (1995-red), saya menerima banyak sekali tawaran ‘job’. Ada yang meminta saya membintangi sinetron, membintangi iklan, menyanyi, menjadi ‘cover’ majalah, menjadi model video klip, dan masih banyak lagi. Tentu menyenangkan. Saya menganggap semua tawaran ini sebagai konsekuensi dari pemunculan saya di MTV.
Karena saya muncul di layar teve, tentu saya dilihat banyak orang. Itu saja. Tapi jelas tak semua saya bisa terima. Selain karena punya jadwal syuting yang ketat di MTV, saya juga ingin muncul di proyek yang berkualitas baik. MTV sendiri membebaskan saya dan sangat suportif. Saya hanya dipesan untuk tidak terlalu capek, sebab dikhawatirkan akan mengganggu jadwal syuting.
Bagi saya sendiri, memang tawaran kontrak yang bernilai mahal, menggoda juga. Cuma, saya lebih bangga kalau bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Misalnya, saya senang sekali ditawari main film ‘art’ oleh Garin Nugroho. Sebab, perfilman Indonesia khan sedang lesu. Kalau saya bisa turut berperan dalam membangkitkan kelesuan ini, jelas saya bangga.
Selama ini, semua keputusan bisnis saya ambil setelah berembug dengan manajer saya. Dia ini tante saya. Namanya Esther Sitompul. Orangnya pintar bisnis. Dengan tante, saya merasa aman. Karena sudah sejak kecil saya diurus oleh tante. Jadinya khan enak. Dia sudah tahu betul siapa saya, demikian pula saya sudah sangat kenal dia.
Karena itu kami bisa mengkomunikasikan semua urusan dengan baik. Tapi kami sering juga tidak sepaham. Setiap kali dia bilang tidak, saya bilang iya, juga seblaiknya. Cuma kami tidak pernah berantem serius. Argumentasi dilakukan sambil santai. Kemarin ini (1997-red) misalnya, kami selisih paham soal warna lipstik yang paling cocok untuk saya.
Menurut tante, saya pantas kalau mengenakan lipstik warna merah menyala. Padahal saya lebih suka warna lembut. Kemudian kami banding-bandingkan hasil foto saya (Nadya menunjukkan sejumlah fotonya, red). Ternyata saya yang benar.
Kalau didandani dengan lipstik berwarna kalem, saya malah lebih terlihat cantik. Barulah tante setuju. Begitu. Tapi kami hampir tidak pernah selisih paham mengenai masalah-masalah prinsipil. Saya sadar, hampir semua keputusan tante benar. Wuah, jangan sampai dia tahu saya memuji dia setinggi ini. Bisa GR dia, hahahaha.”
Kadang Jenuh Bekerja Keras
“SAYA sadar betul, dibanding teman-teman sebaya, saya jauh lebih matang. Bagaimana tidak, pada usia yang baru 22 tahun, saya sudah punya seorang putra berusia 3 tahun. Menjadi ibu, jelas memberikan banyak pengalaman yang mendewasakan saya. Bayangkan, saya harus menjaga diri sendiri dan menjaga anak saya tanpa bantuan orang lain.
Selain itu, saya sudah bekerja keras sejak usia yang sangat muda. Karena itu, saya tidak pernah iri dengan teman-teman sebaya yang masih asyik di bangku kuliah, sementara saya sudah harus bekerja keras dan mengasuh anak. Justru saya bangga. Pengalaman hidup seperti ini, barangkali tidak bisa didapat mereka di bangku kuliah.
Tapi, tentu saja saya tidak merendahkan pendidikan formal. Bahkan meski sudah mendapat uang yang tak sedikit sekarang (1997-red) ini, saya masih ingin sekolah! Saya ini jenis manusia yang senang belajar, yang ingin tahu banyak hal, yang ingin mengerti yang tidak saya mengerti! Pokoknya, walau sudah mereguk banyak pengalaman, saya merasa masih harus menempa diri!
Saya yakin, masih banyak yang bisa dilakukan. Jadi, kalau ada yang bilang saat ini (1997-red) saya tengah di puncak karier dan menanyakan apakah saya tidak gelisah mengenai apalagi yang bisa saya lakukan pada usia 30, saya tidak setuju! Masih banyak yang bisa dan harus saya lakukan, paling tidak untuk diri saya sendiri.
Jujur saja, sebenarnya kadang saya jenuh dan lelah juga menjalani pekerjaan demi pekerjaan. Jadwal saya begitu ketat, sampai-sampai saya tak sempat melakukan kesenangan pribadi. Kalau sudah merasa begitu, saya ingin jadi orang biasa saja yang bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, tidak mungkin saya menjalani kehidupan yang rutin begitu. Pasti lebih membosankan lagi, karena saya orang yang ingin tahu banyak hal. Karena itu, saya memilih melakukan pekerjaan yang variatif. Kalau capek, ya istirahat. Atau mengutak-atik internet, baca buku, dan tidur.
Sekarang (1997-red) ini saya sadar betul betapa beruntungnya saya. Karena meskipun hidup saya tidak gampang, saya selalu bisa mengatasinya. Karier saya pun maju, meski masih muda. Bukankah saya sangat beruntung? Tuhan benar-benar baik pada saya, dan saya sangat bersyukur karenanya.”
Ingin Pindah Ke Jakarta
“RENCANA pribadi? Banyak, antara lain pindah ke Jakarta. Di Singapura, saya khan hampir selalu sendirian. Ada anak saya, memang. Tapi keluarga dan teman-teman saya lebih banyak di Jakarta. Jelas lebih menyenangkan berada di dekat orang-orang yang kita sayangi. Tapi saya belum tahu kapan akan pindah. Yang jelas, saya harus menyiapkan mental dulu. Kalau menetap di Jakarta, pasti saya banyak diserang gosip. Wah, saya tidak mau mendengar berita-berita bohong mengenai saya!
Nah, kalau ditanya soal pacar, dengan cepat akan saya jawab: tidak punya! Selain karena sibuk sehingga tidak sempat lihat kanan-kiri, saya juga belum bertemu dengan laki-laki yang sifatnya saya ingini. Karena punya karier, saya harus didampingi pacar yang mengerti kesibukan saya. Kalau tidak, tentu akan cemburu melihat saya sering pergi ke mana-mana. Saya juga ingin pacar yang tahu membedakan saya sebagai pribadi dan saya sebagai pekerja.
Jadi, dia tidak boleh marah kalau melihat saya tampil di teve dengan laki-laki lain. Satu hal lagi, pacar saya harus pintar. Kalau cuma keren, mana bisa diajak bicara bermacam-macam hal, atau diajak nonton film yang “tidak biasa”? Itu saja syaratnya. Sebenarnya saya ini orangnya memang simpel. Cuma, jangan sampai membohongi saya! Pasti saya marah! Ingat, saya ini orang Batak, berzodiak Leo, dan bershio macan.”
Dok. Bintang – Edisi 305/Th. VI/minggu kedua Januari 1997, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar