MUSIK TV - VIDEO MUSIK INDONESIA: "NIKE ARDILLA JAUH MENINGGALKAN SLANK DAN P-PROJECT" (TVRI PROGRAMA 1 – SENIN, 10 APRIL 1995 Pkl: 21.30 WIB)

 Farid Hardja (bertopi), artis dengan interpretasi terbaik

MASIH beruntung (waktu itu), para pecinta Video Musik Indonesia (VMI) yang hanya bisa menyaksikan pergelaran VMI babak ‘grand final’ periode ke-2, 1994/1995, melalui tayangan tunda TVRI, Sabtu, 8 April 1995, mulai kira-kira jam 21.30, selama kurang lebih 2,5 jam.

Betapa tidak? Mereka tak ikut “menikmati” acara kebetulannya yang dilagnsugnkan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Minggu malam, 2 April 1995. Mereka cuma tinggal memirsa hasil syutingnya yang sudah dipoles dengan diedit.

PT CUT (Citraceria Usaha Triputra) Indonesia, Jakarta, bersama TVRI Stasiun Pusat Jakarta, boleh berbangga dengan keberhasilan mereka memproduksi VMI sebagai tayangan TV yang punya banyak penggemar di berbagai tempat di tanah air. Namun, rupanya, mereka kudu banyak belajar lagi untuk memproduksi pergelaran ‘grand final’ VMI yang bisa menyenangkan hati penonton langsungnya di tempat pertunjukan, selain pemirsanya di depan pesawat TV.

Sebagai tontonan langsung, pergelaran yang kali ini bertema ‘Back To Nature’ alias Kembali Ke Alam, secara umum boleh dibilang jauh dari kesan istimewa.

Skenarionya tak mampu membangun klimaks, katakanlah saat-saat paling berkesan, yang seharusnya ada mulai di bagian “upacara”, yang melibatkan sejumlah penari Irian Jaya “modern” dari TMII dan model pendukung klip, untuk menghadirkan Piala Visia bagi pemenang kategori klip video terbaik, hingga di bagian penyerahan piala tersebut kepada pemenang kategori tadi, yaitu klip Katon Bagaskara, Negeri Di Awan garapan kelompok SET-nya sutradara Garin Nugroho.

Tanpa bermaksud merendahkan Didi Ninik Thowok cs, penempatan lawakan mereka oleh dibilang kurang cocok sebagai perangkai bagian penyerahan penghargaan-pengahrgaan khusus untuk teknologi ‘special effect’ terbaik (pemenang: Dicky Prasetyo dari Duta Media Grafika untuk klip Anang Hermansyah, Lepas), dari penyalur peralatan pertelvisian Ronny Chandra, klip video favorit (klip almarhumah Nike Ardilla, Biarkan Cintamu Berlalu, garapan VIP Production dengan Ria Irawan sebagai sutradara), penampilan panggung terbaik (untuk penampilan panggung klip Vina Panduwinata, Aku Makin Cinta, yang ditata Eliza Supit, sang sutradara, penata artistik dan editor klip Aku Makin Cinta, yang juga fotografer PT CUT) dari Guruh Sukarno Putra dan GSP Production, model pendukung terbaik (Ragil Mumpuni dalam klip Negeri Di Awan) dari sekolah kepribadian John Robert Powers, dan gagasan inovatif terbaik (Garin Nugroho untuk klip Negeri Di Awan) dari PWI Jaya Koordinatoriat Musik.

Bagian penyerahan penghargaan-penghargaan khusus tadi jadi terasa “main-main”. Penulis naskahnya juga kurang teliti. P-Project (sebagai pengantar penyerahan penghargaan atau presenter) – waktu itu – masih disebut Padhyangn Project.

Tantowi Yahya yang (belakangan itu) sudah jadi boss Ceepee Prodeuction, (kala itu) masih didudukkan sebagai “orang BASF”, didampingkan (sebagai presenter) bersama Venna Melinda, yang ditempatkan sebagai “orang HDX”, walaupun cuma pembawa acara Bintang Musik (TVRI) yang disponsori HDX. P-Project dan Tantowi sampai harus meralat pernyataan tadi di panggung.

 

Geng Negeri Di Awan (ki-ka) Riri, Garin, German, Katon, Surjoko, (produser) dan Arturo 


PADA malam itu, banyak pula terjadi penggarapan teknis yang “belepotan”. Volume ‘sound’ yang keluar dari pengeras suara tidak stabil. Kadang keras, kadang kurang keras. Mikrofon tanpa kabel untuk Mieke Amalia dan Marcel (presenter sekaligus duo model Romeo dan Juliet ala klip Ismi Aziz, Aku Rindu, garapan PT Kantor-nya Mathias Muchus), mati.

Kabel untuk “menerbangkan” Katon di akhir penampilan panggung klip Negeri Di Awan, sempat macet dan mengakibatkan Katon terlambat “terbang”. Suara seorang kru produksi pergelaran dan sepenggal intro lagu instrumentalia Winter Games milik David Foster sempat nyelonong keluar dari pengeras suara.

Beberapa kru produksi yang bertugas di bagian balkon tengah GKJ tampak berjalan dengan langkah yang menimbulkan bunyi gedebag-gedebug atau berbicara dengan volume keras, sehingga terdengar olhe penonton yang duduk di bangku-bangku belakang di bagian bawah GKJ. Ternyata, penyebabnya, adalah jaringan komunikasi antar kru produksi lewat ‘headset’, mati.

“Kami akhirnya kerja berdasarkan insting masing-masing saja,” tutur Nova Sardjono, manajer program PT CUT, yang bertugas di bagian acara pergelaran tersebut. Kerja berdasarkan insting seperti itu menyebabkan, antara lain, beberapa syuting tepukan penonton tidak diikuti sorotan lampu ke penonton. “Padahal, sampai waktu gladibersih, 1 April (1995-red), semuanya beres-beres saja,” lanjut Nova.

Ronnie Sianturi, personil Trio Libels yang juga berkarir sendirian, termasuk penonton langsung yang tak terkesan oleh pergelaran itu. “yang tahun ini (1995-red) nggak seperti yang digembargemborkan lewat media massa. Yang tahun lalu (1994-red) lebih mengesankan. Penggarapan teknisnya lebih rapih.

Pertunjukannya ada klimaksnya, penampilan panggung klip-klipnya lebih bagus, para presenter bagian-bagian penyerahan penghargaan-penghargaannya kelihatan lebih percaya diri, nggak grogian,” ucap Ronnie yang tahun 1994 lalu juga jadi penonton langsung. “Apalagi yang tahun ini (1995-red) nggak bisa menghadirkan Broery Marantika dan Leo Kristi untuk penampilan panggung klip-klip mereka,” sambungnya.

Soal itu, sehubungan dengan klip-klip mereka, masing-masing Before U Go (bikinan Rizal Mantovani dan Richard Buntario cs dari BDI) dan Catur Paramitha (buatan Ken Project-nya Franky Sahilatua dan kawan-kawan) masuk ke babak ‘grand final’, Nova menyatakan, “Sampai batas waktu yang ditentukan, produser rekaman mereka, yang kami mintai bantuan untuk menghubungi mereka, nggak bisa memastikan mereka bisa hadir dan tampil di panggung atau nggak. Apalagi kami. Akhirnya, klip-klip mereka, kami tampilkan di panggung dengan koreografi saja.”

BAGI Ronnie, dan bisa jadi bagi banyak di antara 400-an penonton langsung yang merupakan undangan, baik yang selebriti maupun non-selebriti, paling-paling agak terkesan sekaligus terharu dengan terpilihnya klip Nike Ardilla, Biarkan Cintamu Berlalu, sebagai klip video favorit. Itu lantaran Nike (waktu itu) baru saja berpulang.

Terhitung setelah penayangan VMI episode ke-12 (13 Maret 1995) atawa episode pra-‘grand final’ 1994-1995, hingga seminggu sebelum penayangan VMI episode ‘grand final’ 1994-1995 (8 April 1995), pemirsa, lewat kartu pos, memang bisa memilih klip favorit ‘grand final’ dari 11 klip favorit dari 11 episode VMI 1994-1995.

Awalnya, menurut Nova, tanpa bersedia menyebut angkanya, kartu pos untuk klip Slank, Kamu Harus Pulang (episode ke-9, produksi BDI), jauh lebih banyak daripada kartu pos untuk klip Nike (episode ke-4) yang bersaing ketat dengan klip P-Project, Pingin Beken (episode ke-8, juga produksi BDI). “Tapi setelah Nike meninggal, jumlah pemilih klip Nike jauh meninggalkan jumlah pemilih klip-klip Slank dan P-Project,” lanjutnya.

‘Grand final’ VMI 1994-1995, (waktu itu) baru saja digelar, dengan dana yang menurut Nova, “Terbatas. Sponsor cuma sedikit. Hadiah minibus, yang tahun lalu (1995-red) dari sponsor tahun ini (1995-red) kami beli sendiri. Untung, dari pemasukan tiap episode VMI 1994-1995, kami bisa menabung 10 juta rupiah untuk pergelaran ini.”

Dewan jurinya, yang diketuai Guruh Sukarno Putra telah menetapkan para perenggut piala-piala Visia-nya. Penyunting gambar terbaik: Arturo GC (untuk klip Negeri Di Awan), penata artistik terbaik: Garin Nugroho dan Riri (Negeri Di Awan), penata kamera terbaik: German GM (Negeri Di Awan), sutradara terbaik: Garin Nugroho (Negeri Di Awan), artis dengan interpretasi terbaik: Farid Hardja (Cinta, digarap Ken Project), dan klip video terbaik: Negeri Di Awan.

Senin, 10 April 1995 ini, episode pertama VMI 1995-1996 ditayangkan TVRI. Dari VMI 1995-1996, Mira Lesmana, istri Mathias Muchus, yang juga “orang rumah produksi dan klip”, berharap (waktu itu) bakal lahir orang-orang baru lagi untuk dunia klip kita, dengan pendekatan-pendekatan yang lain lagi terhadap klip.

Seperti juga Garin dan Rizal, Mira berpendapat, “Bagus, tiap penggarap klip punya pendekatan sendiri-sendiri terhadap klip. Garin, filmis. Muchus, teatrikal. Dunia klip kita jadi lebih hidup, khan?”

Selain itu, ia berharap lagi, “Menggarap klip, yang pendekatan-pendekatan untuknya lebih longgar daripada untuk iklan, sinetron atau film, sebetulnya merupakan awal mereka belajar menggarap paket-paket TV. Dari situ, mereka bisa berkembang, menggarap paket-paket TV. Dunia paket-paket TV kita juga jadi lebih hidup lagi.”

Ditulis oleh: Ati Kamil


Klip/artis/rumah produksi (dalam Video Musik Indonesia edisi 10 April 1995):

 

Bidadari – Andre Hehanusa – BDI

Bukan Aku Menolakmu – Dessy Ratnasari – VIP Production

Kenangkan – Fifty-Fifty – Porti Komas Berkat Film

Seandainya – Betharia Sonatha – Cipta Visual Indonesia

Kartini – Hemmy Pesolima – Pesona Production Indonesia

Sambutlah – Denada – BDI

Malam Jingga – Kin – Ken Project

Telah Terbiasa – Rita Effendi – BDI

Lelaki dan Telaga – Franky Sahilatua – Ken Project

Lepas – Imaniar – Box Tiga Production

 

Pembawa acara: Dian Nitami

 

Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer