MUSIK TV Selasa, 8 Februari 1994-Senin, 14 Februari 1994

 Nia Zulkarnaen dalam syuting di Waikiki

VIDEO MUSIK INDONESIA: “PROMOSI WISATA AS ALA NIA ZULKARNAEN DAN ULAR BETINA BERNAMA SUSI” (TVRI PROGRAMA 1 – SENIN, 14 FEBRUARI 1994 Pkl: 21.30 WIB)

USAHA untuk menjadikan klip video menarik, dalam rangka menambah jumlah ‘copy’ album yang terual, sungguhlah beragam. Soal usaha itu, ada dua contoh dari isi Video Musik Indonesia (VMI/TVRI) kali ini, yang pasti mengundang perhatian. Yang pertama: klip video nyanyian mutakhir (ketika itu) Nia Zulkarnaen, Kuingin Bersamamu. Yang kedua; klip video lagu Takkan Kembali dari grup baru (waktu itu), Sket.

Untuk Takkan Kembali, usaha Prabowo alias Bobby, bersama rekan-rekannya dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), rada “horor”. Mereka memakai ular betina bernama Susi sebagai model, di samping seorang model wanita betulan.

“Lirik lagunya khan tentang orang yang kecewa. Saya gambarin cowok dikecewain cewek, dan cewek itu sifatnya kayak ular,” terang Bobby, sang penggagas, pengonsep, dan sutradara, yang membuat klip video tersebut atas nama Musica Enterprise dan juga bekerjasama pada PT CUT Indonesia, penyelenggara VMI bersama TVRI.

Syuting grup, model dan ular dilakukan teprisah, di studio mini IKJ, pada Januari 1994 lalu, selama kira-kira 2 X 10 jam. “Dalam ‘editing’ baru digabung. Ular itu nanti berubah bentuk (‘morphing’) jadi cewek, dengan bantuan ‘computer-graphic’ untuk animasi 2 dimensi,” jelas Bobby lagi, yang – sampai berita ini diturunkan masih mengedit. Ada lagi yang juga rada horor. Selama syuting, supaya mau “beradegan”, Susi diberi makan seekor kelinci kecil hidup. Hiii…

Lain lagi usaha Nia dan rumah produksi Mandala Avipro Productions. Mereka sampai ke sebagian AS belahan barat. Sekalian berlibur di sana selama 2 minggu, Nia – selama 10 hari – syuting klip video lagu ciptaan Tito Sumarsono tadi, dari album gres Nia (kala itu), Ku Ingin Bersamamu.

KLIP video Kuingin Bersamamu tampak begitu mengandalkan keindahan dan ke-wah-an sebagian AS belahan barat itu, dan sosok Nia sendiri. “Saya menerjemahkan lirik lagu itu ke dalam gambar begini: ceritanya Nia sedang melamun, ‘flashback’, pernah sama-sama kekasihnya di sana,” jelas Isya Amroussi, penggagas, pengonsep, sutradara, kamerawan, dan editor klip video tersebut, yang bekerja dengan menerima masukan dari Nia dan Tito.

“Maunya Nia, dia harus kelihatan memang syuting di sana. Dia nggak mau kelihatan kayak syuting di Jakarta pakai ‘chromakey’, terus digabung ‘stock shoot’ pemandangan sana. Makanya, dia minta ada adegan ‘lipsync’-nya (menggerakkan bibir sesuai bunyi lirik lagu) dan syutingnya di sana.

Makanya, selain kamera dan sebagian besar lampu, kami juga bawa peralatan ‘sound’,” sambung Isya dari Avipro, yang membawa 2 rekan kerjanya sebagai kru, dan merasa kerja mendadak untuk ‘order’ yang datang dari Nia seminggu sebelum mereka terbang ke Los Angeles (LA). Hasilnya? Tampillah gambar-gambar indah dan wah, yang bak mempromosikan wisata AS sekaligus seperti dokumentasi liburan Nia di sana, di samping menonjolkan Nia sebagai penyanyi maupun model beradegan.

Misalnya: Nia duduk-duduk di kolam air mancur di kawasan pertokoan mewah Rodeo Drive (LA), jalan-jalan di Walk of Fame Hollywood (LA), berkuda di dekat Waikapuu (Hawaii), bersedan ‘sport’ di Malibu dan berski es di Big Bear (dekat LA). Atau Nia menyanyi di gurun Red Canyon (Nevada, dekat lokasi syuting klip video I Said I Love U But I Lied Michael Bolton), depan Hard Rock Café Las Vegas dan Waikiki (Hawaii).

Untuk syuting di tempat yang memerlukan ‘blocking’ agar tak mengganggu kepentingan umum, seperti di depan Beverly Wilshire Hotel (LA) yang dikenal sebagai hotel Pretty Woman, diurus izin.

Juga selain lampu tambahan, ‘dolly track’, mobil van dan 2 kru setempat, helikopter beserta pengemudi (untuk syuting adegan Nia menyanyi di atas tebing Diamond Head, Hawaii), limosin berikut sopir (untuk adegan di depan Beverly Wilshire Hotel) dan sedan ‘sport’ (untuk adegan di Malibu) pun disewa.

Memang indah dan wah. Tapi akan lebih indah kalau Nia tidak nanggung di beberapa adegan. Sebut saja, Nia (waktu itu) masih tampak canggung untuk tampil anggun, dibukakan pintu oleh sang sopir limosin, turun dari limosin, melangkah k “kekasih”-nya dan menerima mawar dari pria yang diperankan oleh seorang kenalan Nia di LA itu. Mungkin kita kelewat berharap banyak dari Nia yang juga bintang film, ya?

Ditulis oleh: Ati Kamil

Artis/lagu (dalam Video Musik Indonesia edisi 14 Februari 1994):

Novia Kolopaking – Dengan Menyebut Nama Allah

Voodoo – Katakan

Cindy Claudia Harahap – Bukan Untuk Kembali

Andy Atis – Waiting

Digital Music Crew (CMC) – Terima Kasih

Nia Zulkarnaen – Ku Ingin Bersamamu

Sket – Takkan Kembali

Anggun C. Sasmi – Yang Hilang

Klip video pembanding: Estranged dari Guns N’ Roses

Info klip video: teknik ‘chromakey’

Pembawa acara: Dian Nitami

Ditulis oleh: Ati Kamil

 
ORCHESTRA DANGDUT: “KENALKAN PENYANYI DANGDUT BARU 1994: RATU TRIA” (TVRI PROGRAMA 1 – RABU, 9 FEBRUARI 1994 Pkl: 21.35 WIB)

 Nindy Ellise

KRITIK yang sifatnya konstruktif dan pada tempatnya, pasti akan diterima oleh siapa saja. Dalam kaitan dengan kritik ini, paket Orchestra Dnagdut yang hadir dalam tatanan megah, dengan perangkat orkestra, namun tidak menghilangkan khas spesifik dari musik dangdut itu sendiri – yakni suling dan gendang – yang disyuting 18 dan 19 Januari 1994 lalu mendapatkan kritik dari artisnya.

Bahwa Jimmie Manoppo Band yang merekayasa lagu Tanggal Cinta ke dalam nuansa musiknya membuat cukup repot Camelia Malik untuk menyanyikannya. Sehingga Jimmie harus memperhatikan khusus penulisan notasi balok untuk beberapa perangkat alat musik yang sudah disusun seperti biola dan saksofon. Karena memang ada bagian-bagian yang tidak menyalahkan aturan bermain musik, namun dampaknya kurang enak saja untuk didengarkan.

“Kalau bisa jangan begitu,” protes Mia (Camelia Malik) yang merasa kupingnya sudah terlalu peka untuk mendengarkan suatu alat musik enak atau tidak.

Karena pihak Jimmie mendapat kesalahan terus asat latihan acara ‘live show’ (siaran langsung) untuk lagu Tanggal Cinta, maka Camelia Malik memutar lagu aslinya mengunakan tape agaknya memang sudah disiapkan. Serentaklah dibar-bar notasi terntetu paara pemain orkestra tersebut mendengarkannya begitu serius. Serentak mereka bilang, “Ooooh… begitu.”

“Okey, iya, kita lanjut sekali lagi. Bukannya begitu, kalau jatuh notnya benar, khan enak didengar. Ngomong-ngomong, suara sudah serak, nih…,” celoteh Mia di atas podium. Di samping Camelia Malik, ada Ratu Tria yang ingin ngepop dangdut benaran dalam album perdananya. Maka keterlibatannya di orkestra dangdut ini boleh jadi memperkenalkna diri: “Ini lho, saya juga bisa nyanyi dangdut!”

Dalam kesempatan ini ia (waktu itu) akan membawakan lagu Amboi Asyiknya yang aslinya dibawakan oleh Vonny Shailla, dan tembang mas Joko, aslinya dibawakan oleh Helvy Maryand.

Ditulis oleh: M. Nizar

Artis/lagu (dalam Orchestra Dangdut edisi 9 Februari 1994):

Jamal Mirdad – Rindu

Victor Hutabarat – Termiskin Di Dunia dan Nurlela

Ratu Tria – Amboi Asyiknya dan mas Joko

AB Voice – Kopi Dangdut dan Ini Rindu

Camelia Malik – Tanggal Cinta dan Rana Duka

Fahmi Shahab – Sakit Gigi dan Purnama

Nindy Ellise – Hidup Terkekang

GRP ALL STARS LIVE FROM THE RECORD PLANT: “JAZZ LARIS MANIS” (ANTEVE – SELASA, 8 FEBRUARI 1994 Pkl: 19.30 WIB)

 

Dave Valentin 

SELURUH artis musik yang dihadirkan dalam Sensasi Selasa (d/h Tuesday Specials) kali ini bernaung – dikontrak – perusahaan rekaman GRP Records. GRP Records sendiri berakarkan GRP alias Grusin Rosen Productions, yang berdiri pada 1976. Biangnya: dave Grusin, pemain keyboard dan piano, pencipta lagu, aranjer, produser dan produser eksekutif, plus Larry Rosen, mantan pemain drum dan teknisi rekaman. Dalam peta musik internasional, GRP Records adalah perusahaan rekaman yang berhasil mengindustrikan jazz, dari yang “tempo dulu” (jauh sebelum 90an” hingga yang “masa 90an”.

Pada 1990 dan 1991, sejumlah artis kontrakan GRP records, dalam grup GRP All Stars atau grup-grup lain, menggelar pertunjukan di Jakarta dan Bandung. Sebut saja Chick Corea, Lee Ritenour, Phil Perry, Dave Valentin, Don Grusin (aadik Dave Grusin) dan Spyro Gyra.

Adalah video 2 konser GRP All Stars di The Record Plant, Los Angeles, AS, pada 1985, yang ditayangkan dlaam Sensasi Selasa. Formasi GRP All Stars yang kali itu: Lee Ritenour (gitar), Dave Grusin (piano dan keyboard), Larry Williams (keyboard dan saksofon), Ivan Lins (vokal dan piano), Dave Valentin (flute, pikolo, dan beberapa alat tiup tradisional), Abraham Laboriel (bass), Carlos Vega (drum), Diane Schuur (vokal) yang tunanetra, dan Phil Perry (vokal). Dalam durasi kira-kira 50 menit, mereka menyajikan 8 tembang yang (waktu itu) telah mereka rilis, laris manis dan kita kenal, dari yang jazz standar, blues, sampai yang jazz latin.

Lagu (dalam Sensasi Selasa edisi 8 Februari 1994):

Early Morning Attitude

Before It’s Too Late

Love Dance

Reverend Lee

Amazing Grace

Oasis

Awakening

Countdown

KARYA NADA: “KARENA IBUNYA MENINGGAL DUNIA, EBIET G ADE SULIT DIHUBUNGI” (TVRI PROGRAMA 1 – SELASA, 8 FEBRUARI 1994 Pkl: 21.35 WIB)

Ebiet G. Ade 

EPISODE ke-9 Karya Nada (KN/TVRI) menampilkan dua “tokoh” wanita yang berhasil menggeluti dunia perbankan, yakni Lannya Bambang, S.H. dan Ratna Darussalam, masing-masing mewakili bank di mana ia bekerja.

Kedua “tokoh” ini (waktu itu) akan bicara sedikit apa dan bagaimana dunia perbankan yang selama itu digeluti. Nikmatnya, termasuk dukanya. Selebihnya, mereka (wkatu itu) akan bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Bagaimana mereka mengatur waktu, hingga mereka sukses dalam dunia tersebut.

Dalam kesempatan ini, penyanyi yang ditampilkan ada Ebiet G Ade. Namun, sampai tulisan ini Anda baca, pihak koordinator, Wirdaningsih belum bisa mengetengahkan judul lagu apa yang (waktu itu) bakal didendangkan oleh Ebiet G Ade. “Saya belum kontak lagi, mas Ebietnya pergi ke Yogya. Katanya orangtuanya meninggal dunia,” jelas Wirdaningsih.

Ketika Cit konfirmasikan berita dukacita ini ke rumah Ebiet di Jl. Ciganjur via telepon, artis yang meroket namanya leawt album Camelia I sampai IV ini tidak ada di rumah. Namun, seseorang yang mengangkat telepon memberitahu, “Yang meninggal itu ibunya bapak (maksudnya Ebiet G Ade-red) pada hari Sabtu (22/1/94). Bapak dapat telepon interlokal pagi hari. Jam 13.00 bapak langsung pergi ke Yogya.”

Ditulis oleh: M. Nizar

Artis/lagu (dalam Karya Nada edisi 8 Februari 1994):

Ebiet G Ade

Cantora Paramitha – Jatuh Cinta dan Dream

Al Rizal – Jangan Bicara dan I Fall All Over Again

Sundari Sukoco – Widuri dan Getuk

Zoel Dahlan – Janji Manismu

Ibet Herlyn – Sungguh

Rita Dinahkandi – Denpasar Moon

BAROMETER MUSIK (SCTV – RABU, 9 FEBRUARI 1994 Pkl: 21.30 WIB)

Artis/lagu (dalam Barometer Musik edisi 9 Februari 1994):

Lea Salonga dan Brad Kane – We Could Be In Love

Earth Wind & Fire – Spend The Night

UB40 – Bring Me Your Cup

Richard Marx – Now and Forever

Michael Bolton – I Said I Love U But I Lied

Celine Dion – The Power of Love

Tiffany – Can’t U See

Guns N’ Roses – Estranged

Elton John dan Kiki Dee – True Love

Ace of Base – The Sign

Pembawa acara: Ronnie Sianturi

Dok. Citra – No. 202/V/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer