MUSIK TV (23-29 JANUARI 1995)
IRAMA MASA KINI: "WAKTU SYUTING DI MARUNDA, BURUH PELABUHAN JADI PENONTONNYA" (TVRI PROGRAMA 1 – SENIN, 23 JANUARI 1995 Pkl: 21.30 WIB)
Poppy Mercury berat badannya naik terus
OMBAK laut yang keruh di kawasan Pantai Marunda, Jakarta
Utara (10/1/95) menjadi saksi bisu atas kehadiran Poppy Mercury, gadis kota
kembang (era itu) yang namanya tidak asing lagi di rimba permusikan Indonesia.
Saat itu, Poppy terlibat pembuatan klip video untuk album terbarunya (kala itu). Dengan gaya perempuan lugu dan pakaian bermotif tubruk warna merah, kuning, dan ungu, ia diambil gambarnya di antara ilalang yang (waktu itu) masih tersisa di pinggiran Pantai. Pasrah, begitu ekspresi.
Ada yang dibanggakan oleh Poppy saat kejadian syuting itu berlangsung. Pertama, tema dan warnanya dikembalikan ke warna asli Poppy Mercury, setelah dua tahun lebih tidka menyanyikan lagu bernada minor, sebagai warna khasnya.
Sekadar informasi, lagu tersebut dikerjakannya dengan pemusik Malaysia, penciptanya dari Indonesia. Akan tetapi Poppy sendiri bingung lagu yang bertajuk Hati Siapa Tak Luka untuk album atau seleksi. “Soalnya saya diberikan banyak lagu, ada yagn digarap ‘full’ dengan pemusik kita, ada dua lagu yang dikerjakan sama orang Malaysia. Satu di antaranya akan diedarkan khusus di Malaysia. Yang satunya lagi ya ini,“ jelas Poppy.
Kejadian kedua pada saat syuting ini berlangsung di samping ditonton oleh buruh pelabuhan, Poppy merasakan begitu ‘fresh’. Pasalnya ia memang sudah dua tahun lebih (sampai bacaan ini dimuat Citra, red) sakit-sakitan. Konon, sakit misteriusnya, baru Januari 1995 sembuh total. “Tetapi sampai dua bulan ke depan (Maret 1995-red) saya masih harus rutin minum obat dari dokter,” tutur Poppy (waktu itu).
Akibat dari obat dan sembuh penyakitnya itu, berat badannya naik terus. Seminggu menjelang syuting, terpaksa Poppy harus diet untuk sedikit melangsingkan tubuhnya.
Di samping nama Poppy, Irama Masa Kini (IMK) masih ada nama-nama artis papan atas di jalur musik dangdut. Ada Itje Trisnawati, Endang Maimunah, H. Ona Sutra, Bintang-Bintang MSC yang terkenal dengan Evie Tamala dan Imam S. Arifin. Juga tidak ketigngalan si “raja” remix Yopie Latul. Kali ini dia meremix lagu Dinda punya Katon Bagaskara, dan dilanjutkan Nia Zulkarnaen.
Ditulis oleh: M. Nizar
BINTANG NUSANTARA YOGYAKARTA: “WAKTU REKAMAN ADA POCONG DI BELAKANG PANGGUNG” (TVRI PROGRAMA 1 – JUMAT, 27 JANUARI 1995 Pkl: 20.05 WIB)
Hilda Ridwan Mas
ADA dua kejadian seru ketika rekaman paket Bintang Nusantara
bikinan TVRI Stasiun Yogyakarta, yang disiarkan dari TVRI Pusat Jakarta. Yang
pertama, begitu Teguh Ganefo, pengarah acara, menyatakan syuting di-‘break’
sekitar pukul 23.00 WIB, gedung PPPG (Pusat Pengembangan Penataran Guru)
Yogyakarta mendadak gelap. Lampu Listrik padam. Maka para pengisi acara pun
kebingungan. Ada yang tidur di kursi, ada yang mengobrol dan macam-macam.
Yang kedua, ketika pemain bass Santika All Star, band pengiring, nongkrong di belakang panggung, tangan usilnya membuka sebuah kotak hitam. Setelah itu dia menjerit dan lari terbirit-birit. Orang-orang kebingungan. Ternyata, setelah beberapa orang mencoba membuka kotak hitam itu, isinya mayat yang dibungkus kain kafan.
Jangan ikut-ikutan kaget, sebab mayat itu adalah boneka orang-orangan. Yang iseng, adalah kru ‘soundsystem’ gedung yang tinggal di tempat itu. Bintang Nusantara yang penggarapannya digilir di beberapa stasiun dan kali ini Yogyakarta kebagian, menampilkan penyanyi-penyanyi lokal macam El Pe Es Voice, Carla, Anie Christine, Ananto Wibowo, dan Attok.
Lagu-lagu yang mereka dendangkan tentu saja yang (waktu itu) tengah hit di bursa musik, semisal Hotel California punya Eagles (karya Don Henley, Don Felder, Glenn Frey-red), Cerita Cinta-nya Kahitna (karya Yovie Widianto-red), Terlanjur Sayang-nya Memes (karya Ipey/Adi Adrian-red).
Yogyakarta selalu membuat paket garapannya punya ciri khas. Yang belakangan itu dilakukan adalah mengundang satu bintang ibukota sebagai tamu. Kali ini yang dimunculkan adalah Hilda Ridwan Mas yang (waktu tiu) akan menyanyikan She’s Gone dan Misteri Cinta. Satu hal yang bisa dicatat adalah band pengiring di bawah bendera hotel Santika Yogyakarta pimpinan Toto Sudarto, cukup baik sebagai pengiring. Setidaknya, mereka bisa memainkan setiap lagu persis seperti aslinya.
Selain itu, kru TV yang turun ternyata mempunyai kemampuan musik yang baik. Ketika ada suara alat musik atau penyanyi yang sedikit aneh, ada saja yang mengetahuinya, sehingga rekaman ‘live’ yang akhirnya dimulai lagi setelah pukul 01.00 itu benar-benar rapi.
Sebelumnya, TVRI Yogyakarta selalu menghadirkan paket bertajuk Resonansia yang menampilkan orkestra. Tapi menurut Suryatmo, produser acara ini, belakangan itu terpaksa hanya bisa dimunculkan pada acara khusus. “Biayanya cukup mahal,” komentarnya.
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
JADWAL SIARAN LANGSUNG (untuk program olahraga periode 23-29 Januari 1995)
TVRI (Programa 1):
Sabtu, 28 Januari 1995 Pkl: 15.15 WIB:
Sepakbola Liga Dunhill “Gelora Dewata vs Petrokimia”
RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia):
Kamis, 26 Januari 1995 Pk: 02.00 WIB:
Sepakbola Coppa Italia
Minggu, 29 Januari 1995 Pk: 20.30 WIB:
Sepakbola Liga Italia
SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia):
Sabtu, 28 Januari 1995 Pkl: 09.00 WIB
Australian Open Tennis 1995 “Women’s Single Final”
Sabtu, 28 Januari 1995 Pkl: 22.00 WIB
Sepakbola FA Cup (Putaran Keempat)
Minggu, 29 Januari 1995 Pkl: 10.00 WIB
Australian Open Tennis 1995 “Men’s Single Final”
ANteve (Andalas Televisi):
Minggu, 29 Januari 1995 Pkl: 15.30 WIB:
Sepakbola Liga Dunhill
Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar