MUSIK - SUKET SIAP MENGGELAR DIRI, MENGHIDUPKAN TRADISI YANG SUDAH LAMA MATI

 Suket yang berapresiasi

SUKET, kelompok yang dikomandoi Yockie Suryoprayogo, (waktu itu) bakal manggung di Teater Terbuka TIM pada 12 Februari 1994. Barangkali hal ini menjadi biasa, jika album yang diluncurkannya tidak seinovatif hasilnya.

Seperti kita tahu, musik Yockie yang tertuang dalam Suket ini merupakan Kumpulan perjalanan batin Yockie (keyboard, vokal, akustik gitar) bersama Rere (drum, suara latar), Didiet Shaksana (bass, suara latar), Jalu (perkusi, gendang, suara latar), Eddie Kemput (gitar, suara latar), Naniel Yakin (flute, harmonika, suara latar), dan Ancha Haez (gitar bolong, perkusi, suara latar).

Yang melatarbelakangi keinginan mereka tampil ini, menurut Yockie, “Karena kami ingin mengekspresikan musik kami secara total. Kami mencoba menawarkan musik yang bernagkat dari musik-musik etnik yang ada di Indonesia. Sudah banyak memang yang melakukannya, tapi kami ingin pula member andil.

Hal ini perlu, karena saya melihat ekspansi barat ke timur makin gencar. Kami mencoba mengantisipasinya dengan cara lebih giat berkarya dan karya tersebut kami usahakan mengakar bagi semua orang,” tutur Yockie di sela-sela latihannya yang dimulai sejak Januari 1994.

Nama Suket sendiri baru mulai tumbuh pada September 1993 silam, ketika mereka meluncurkan album perdana yang diberi judul Kontradiksi. Lagu tersebut bercerita masalah perubahan zaman dan perbedaan, serta perubahan antara kota dan desa, antara ketenangan yang alamiah dan keriuhan kota yang krodit. Dan begitulah Suket secara garis besar, bicara soal lingkungan, ekologi, sosial, dan percintaan-percintaan yang berbau satire.

Secara konsep, Suket tampaknya beriringan tangan dengan Swami, Dalbo, Sirkus Barock, atau dengan Iwan Fals dan Jabo. Hanya saja penyampaiannya, bertutur dalam karakter masing-masing.

Maka tidak heran jika Suket dalam pergelarnanya yang juga bergelar Kontradiksi ini menampilkan bintang tamu dari berbagai daerah yang berlainan, Ian Antono dari kubu rock, Gilang Ramadhan yang (waktu itu) sedang menekuni perkusi, Jose Rizal Manua dengan pembacaan puisinya, atau responsive Inisisri yang mencmapurkan drum dan perkusi dengan kekuatan etniknya.

“PERGELARAN ini sendiri akan berjalan dalam 3 episode. Episode pertama adalah episode Kontradiksi, di mana kami menyuguhkan musik tradisional dan menabrakkannya dengan musik-musik barat. Di sini kami seakan memberi gambaran bagaimana kita dimasuki oleh musik pola barat dan etnik tersingkir. Episode kedua adalah episode Suket. Di sini kami akan menampilkan lagu-lagu dari Suket, baik yang sudah direkam atau yang belum.

Dan episode ketiga, adalah episode Perjalanan Rasa, di mana para bintang tamu hadir dengan nalurinya yang musikal. Artinya, kami bermain secara bersama-sama, saling merespon. Di sini saya pikir akan terjadi tabrakan-tabrakan musikal yang akhirnya akan sampai pada satu komposisi terpadu. Proses penyatuan itu pasti akan menarik untuk dimainkan dan ditonton,” begitu penjelasan Yockie tentang pergelarannya (waktu itu).

(Perkiraan waktu itu) kayaknya, pergelaran Suket ini lebih mengarah kepada pergelaran apresiatif. Karena jarangnya penyuguhan konsep seperti ini, maka pihak Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) dan pihak Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Suket, melalui bantuan Gilang yang putra sastrawan Ramadhan KH, memproduksi acara ini bersama-sama.

Selain itu, pergelaran yang bertanda masuk 5 ribu perak ini juga (waktu itu) akan direkam oleh pihak Prambors, dan rencananya (kala itu) akan disajikan di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) dalam bentuk ‘live’ pula.

Inikah tanda-tanda bahwa Taman Ismail Marzuki (waktu itu) akan kembali marak dengan pergelaran-pergelaran apresiatif atau eksperimen yang sudah mati sejak beberapa tahun sebelumnya, disikat oleh pergelaran komersial? (Harapan waktu itu) semoga wakil-wakil dari seni musik yang duduk di DKJ dan PKJ, bisa meneruskan tradisi ini.

Ditulis oleh: Remy Soetansyah

Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer