MUSIK: MTV ALTERNATIVE NATION, DISTEMPEL DENGAN TINTA YANG GAMPANG LUNTUR

 

KURANG dari 2 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang, tepatnya tanggal 10 Agustus 1995, di McCleary, kawasan rural Washington DC, seorang remaja (era itu) berusia (waktu itu) 16 tahun, bernama Brian Bassett, menembak mati ayah, biu, dan adiknya yang (waktu itu) masih balita. Menurut pengakuan Brian pada polisi, saat melakukan pembunuhan itu benaknya dirasuki lirik-lirik Israel’s Son, satu lagu dalam album Frogstomp milik band asal Australia, Silverchair.

Masih menurut Brian, orangtuanya membencinya dalam segala hal. Mulai dari orientasi seksualnya yang ‘gay’, hingga selera musiknya yang alternatif. Selain Silverchair, Brian menyukai Everclear, Nirvana, Green Day, dan Foo Fighters (dua band yang disebut terakhir pernah manggung di Indonesia-red). “Musik alternatif,” kata Brian, “adalah musikku.”

Terlepas dari perdebatan tentang bisa atau tidaknya sebuah lagu mengilhami seseorang untuk melakukan tindakan destruktif seperti pembunuhan, ilustrasi di atas menegaskan bahwa musik alternatif “pernah” jadi genre musik yang sanggup mewakili aspirasi komunitas penggemarnya.

Pernah? Ya, setidaknya pada kurun masa tertentu, ketika industri musik belum terlampau malas, hingga tidak dengan seenaknya melabeli tiap band atau pemusik yang lagunya agak melenceng dari tren dengan stempel musik alternatif. Waktu itu, sekitar awal hingga akhir paruh pertama era 90an (1990-1995), stempel musik alternatif tidak gampang dicapkan pada sembarang band atau pemusik.

Di samping sikap bermusik yang ogah mempeduliakna spek komersial (‘anti-corporate-acts’), etos mandiri (DIY, ‘do it yourself ethos’), merupakan kriteria mendasar yang jadi benang merah musik alternatif. Hingga walau musik yang dimainkan para artis – dengan kredibilitas – alternatif bisa dikategorikan dalam berbagai subfenre, kriteria itu membuat musik alternatif secara relatif masih bisa “didefinisikan”.

Mulai dari subgenre ‘noise rock’ (Sonic Youth), ‘grunge’ (Nirvana, Soundgarden, dan Pearl Jam), ‘industrial’ (Nine Inch Nails dan Ministry), ‘goth rock’ (The Cure), ‘punk-funk’ (Red Hot Chili Peppers dan Fishbone), hingga ‘alternative rap’ (Arrested Development dan P.M. Dawn) dan sebagainya, oke-oke saja berpayung di bawah bendera musik alternatif. Boleh dibilang, sampai tahap ini, tinta stempel musik alternatif masih pekat.

Dan secara tiba-tiba, pada sekitar pertengahan era 90an, terjadilah “invasi” besar-besaran dari Inggris (The British Invasion). Dengan dikomandani Oasis, band-band ‘brit-pop’ seperti Radiohead, Blur, dan Pulp menyerbu industri musik, yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kepekatan tinta stempel musik alternatif. Penggunaan ungkapan invasi sungguh tepat.

Sebab, fenomena apapun yang terjadi pada industri musik global pasca era 70an, termasuk fenomena musik alternatif ini, hampir bisa dipastikan berasal-usul pada perkembangan yang terjadi pada pusat industri musik dunia, yaitu Amerika. Nah, ketika invasi terjadi, genre musik alternatif sudah jadi kecenderungan, alias – ironisnya, justru – melahirkan ‘mainstream’ baru, yang berakibat pada kekurangnya kepekatan definisi musik alternatif itu sendiri.

Pada tahap ini, asalkan lagunya “ngalternatif”, artis-artis dengan sikap bermusik dan etos yang sebetulnya konvensional, bisa dengan mudah masuk kategori artis alternatif. Dengan kata lain, tinta stempel mulai luntur! Tak heran, hanya lantaran lagunya mula-mula terdengar aneh di telinga, band-band Inggris itu pun dengan serta merta masuk kategori musik alternatif. Bukan cuma luntur, tinta stempel musik alternatif ternyata memang gampang ‘mbelobor’.

Sebagai bukti, simak saja program MTV Alternative Nation. Sangat sulit mencari benang merah yang bisa menghubungkan antara penampilan satu artis dengan artis lainnya. Barangkali kecuali satu hal: video musiknya yang hampir selalu aneh-aneh dan terkesan mengada-ada.

Sampai tahap ini, identitas musik alternatif sebagai genre yang semula punya “definisi” seakan menghilang. Lama-kelamaan, musik alternatif jadi stempel yang merasa menggelikan. Tak aneh bila kebanyakan band atau pemusik jadi enggan, bahkan emoh dilabeli istilah ini. Setmpel musik alternatif jadi kehilangan makna, bangkrut sampai ke akar-akarnya!

Di tengah situasi “menyedihkan” itu, MTV Networks merilis album kompilasi bertajuk MTV Alternative Nation. Entah siapa kompilatornya, yang jelas album ini terkesan ingin “adil”. Dari 18 artis (17 band dan seorang penyanyi), hanya 6 artis berasal dari Amerika. Yakni, No Doubt (Just A Girl), Eels (Novocaine For The Soul), Garbage (Stupid Girl), White Zombie (More Human Than Human), Counting Crows (Angels of The Silence), dan Weezer (El Scorcho).

Sedang dari Inggris dipilih 10 (!) artis. Yakni, Oasis (Some Might Say), Suede (Trash), Kula Sheker (Hey Dude), Jamiroquai (Virtual Insanity), Ocean Colour Scene (The Day We Caught The Train), Bush (Glycerine), Manic Street Preachers (A Design For Life), Symposium (Drink The Sunshine), Radiohead (Just), dan Elastica (Line Up). Sisanya artis Irlandia dan Jepang, yakni Ash (Oh Yeah) dan Shonen Knife (E.S.P).

Secara kualitatif, album kompilasi ini patut diacungi jempol. Sayang, stempel MTV Alternative Nation justru membuat album ini ibarat keping uang logam, yang nilai intrinsiknya jauh lebih tinggi daripada nilai nominalnya. Singkatnya, sangat jauh dari representatif. Entahlah, apakah Brian Bassett mau membeli kaset ini.

Ditulis oleh: Heri Sugiyanto (dari berbagai sumber)

Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer