MUSIK MINGGUAN SYUTING DI SINGAPURA (ANTEVE - SETIAP MINGGU Pkl: 09.00 WIB)
UNTUK kedua kalinya, paket Musik Mingguan (MM/ANteve)
produksi Broadcast Design Indonesia (BDI) syuting di luar negeri. Kalau
beberapa bulan sebelumnya Thailand, kali ini negeri jiran, Singapura yang
dipilih. Sukses syuting kali ini berkat kerjasama BDI dengan Musica Studio’s,
Awani Dream 2, Neckermann, serta tabloid Bintang Indonesia.
Dengan naik kapal pesiar Awani Dream terbaru (kala itu), 6 kru BDI, Indira Cindy Pareira (manajer produksi), Tri Ayu Noverani (asisten manajer produksi), Rudy Novan (juru kamera), Jatie Julianto (penata lampu dan suara), Adrianata J. Leimena (manajer operasional) dan Bambang D.M. (penyelia operasional), serta tentu pembawa acara MM, Gunawan dan Sarah Sechan, menuju Singapura untuk mengerjakan paket spesial yang diberi tajuk Musik Mingguan Singapore Tour 1997.
Syuting berlangsung 8 hingga 13 Juni 1997 lalu. Kapal Awani Dream 2 berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok sekitar pukul 21.00 WIB. Para karyawan kapal menyambut dengan ramah. Tidak disangka, di kapal kru MM bertemu Nugie, Nita Tilana, dan kelompok Anunya Anu yang sedang mengisi acara di Awani Dream 2. Tanpa melepas kesempatan, kru MM meminta Nugie menjadi bintang tamu.
Hari pertama Senin (9/6/97) diadakan pengambialn beberapa gambar di atas kapal pesiar Awani Dream 2. Dalam MM episode ini Sarah Sechan diceritakan mencari tunangannya yang berjanji ketemu di kapal itu. Ternyata tanpa setahu Sarah, sang tunangan tidak bisa pergi naik kapa lpesiar itu.
Tanpa sengaja, Sarah bertemu “kapten” Gunawan yang ganteng dan baik hati, yang mau membantu mencari tunangannya. Sampai Sarah sadar, ada secaraik kertas untuknya dari sang tunangan yang dititipkan di resepsionis. Setelah berpetualang mencari tunangannya, Sarah justru kepincut “kapten” Gunawan yang mengaku tajir. Terlebih lagi, Sarah diiming-imingi belanja gratis di Singapura. Luluhlah hati Sarah hingga melupakan sang tunangan.
Syuting berjalan serius tapi santai. Terlebih ketika pembawa acara mewawancara Nugie. Suasana jadi kocak dan penuh derai tawa. Rombongan tiba di Singapura keesokan harinya (10/6/97). Para kru tidak menuju hotel, tapi langsung syuting untuk episode perdana dengan tema kota Singapore. Jalan-jalan kota Singapura yang bersih dan teratur enak dinikmati. Apalagi dengan kehadiran pepohonan yang rindang dan trotoar yang lebar.
Untuk episode ini, syuting pertama dilakukan di lapangan Cracket Club dan di depan gedung pengadilan Singapura. Dilanjutkan di taman Merlion yang banyak dikunjungi turis mancanegara. Di taman yang indah dan rimbun ini, terdapat patung singa, lambang kebanggaan kota Singapura. Lokasi lain yang adalah pinggir Singapore River. Sungai ini membelah Singapura, sekaligus menjembatani kota Singapura yang tradisional dan modern. Museum Raffles juga jadi pilihan lokasi syuting.
Seperti biasa, syuting berlangsung hingga malam hari. Meski sudah lelah syuting, kru MM tidak mau melepaskan kesempatan untuk berjalan-jalan menikmati indahnya malam kota Singapura. Tepat pukul 21.00 waktu Singapura, rombongan menuju penginapan untuk beristirahat. Dari wajah-wajah kru dan pembawa acara terlihat guratan kelelahan, meski gambaran sukacita juga terlihat.
“Walaupun syuting melelahkan, saya senang menjadi pembawa acara MM. Selain lucu-lucu, semua krunya juga kompak. Pendeknya, MM tetap keren deh,” ujar Gunawan, yang bersama Sarah telah jadi pembawa acara MM (sampai saat itu) selama 3 tahun (1994 hingga 1997-red).
“Pokoke, MM, wow keren deh! Saya senang dan merasa beruntung jadi ‘host’ MM. Saya jadi bisa menambah wawasan dan teman. Kalau boleh, saya sarankan naskah MM lebih menantang agar tambah oke,” cetus Sarah. Iyalah, setuju.
Dok. Bintang – Edisi 330/Th. VII/minggu kedua Juli 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar