MOZA PRAMITA PRAMONO (EKSPRESI, INDOSIAR - SETIAP MINGGU Pkl: 11.30 WIB)
BILA Moza menulis, bentuk hurufnya besar-besar, seperti besar bola matanya, yang membelalak indah bila digoda Hendri Hendarto dan Rina Gunawan, rekan-rekannya di acara Ekspresi (Indosiar). Kata orang, bentuk huruf yang besar mencerminkan penulisnya punya rasa percaya diri yang besar pula. Kepercayaan diri mahasiswi sastra Inggris UI angkatan 93 ini, mungkin terasah melalui ‘OQ Modelling School’.
Dengan tinggi 160 dan berat (kala itu) 50, penggemar warna natural ini memang cocok jadi model. Tapi, rasa percaya diri Moza tidak timbul semata-mata karena ia sulung dari 2 bersaudara, putri Dewi Motik Pramono. Anak sastra, kok kerja jadi presenter?
“Biar anak sastra, saya nggak ngebayangin jadi penyair. Jadi PR (‘public relation’) juga nggak kebayang. Kalau sekarang (1995-red) jadi presenter, soalnya bidang ini asyik. Saya membayangkan, beberapa tahun lagi, dunia ‘broadcast’ di Indonesia akan ‘booming’,” kata gadis (era itu) kelahiran 2 Februari 1976 ini, sambil tersenyum (kala itu).
“Tapi bukan berarti saya sudah menetapkan pilihan cita-cita saya pada bidang ini, lho. Saya nggak merencanakan masa depan terlalu jauh, kok. Lihat saja nanti,“ tambahnya (waktu itu). Moza, nama kamu unik, deh? “Ceritanya, mama ingin menyenangkan oma. Nama mama digabung dengan nama oma. Motik dan Zaenab. Jadi Moza. Gituuuu,” jelasnya. O, iya, ya…
Ditulis oleh: Heri Sugiyanto
Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar