MOBIL KUNO KESAYANGAN EDWIN SALEH DIJUAL 500 RIBU
SUDAH sejak pertengahan 1989, pemirsa setia Dunia Dalam
Berita dan berita berita lain – TVRI – tidak melihat penampilan salah seorang
penyiarnya, Edwin Saleh Indrapradja. Ed, begitu panggilan akrabnya, berdasarkan
SK Menpen, memang memasuki masa pensiun sejak 1988. Ia benar-benar ‘off the air’
tahun 1989.
Ed tampak segar dan sehat meski rambutnya (waktu itu) hampir seluruhnya memutih. Senyumnya yang khas tak pernah lepas dari bibirnya. Ditemani istrinya, Mien Kencana, Ed mendiami rumah yang mungil dan asri, tapi tampak sepi. “Memang, karena kini (1992-red) tinggal saya dan istri yang menempatinya. Sementara anak saya satu-satunya, Ostra Karyawan, pindah ke Australia bersama istri dan ke-3 anaknya,” jelas pria kelahiran Sumedang, 31 Agustus 1932 ini.
Ed yang kelihatan tenang dan pendiam, nyatanya senang bercerita. Selain membaca, dan berjalan di sore hari, ngobrol memang menjadi kegiatan pokok Ed bersama istrinya di hampir seluruh waktu luangnya (saat itu). “Waktu pacaran, saya tak menduga suami saya senang ngobrol. Bayangkan kami sanggup ngobrol semalam suntuk. Itu dilakukan selama 33 tahun perkawinan kami, lho. Apalagi sekarang (1992-red),” tutur sang nyonya (waktu itu).
MESKI (waktu itu) sudah pensiun, Ed tidak mau menyia-nyiakan pengalamannya berkecimpung di dunia ‘broadcast’, 1953 di RRI, sempat di radio Australia ABC, dan sejak 1972 di TVRI. Ia (1992) turut mengajar di suatu sekolah yang didirikan teman dekatnya.
Bidang yang diajar tak jauh dari profesinya selama itu, dunia ‘broadcast’. “Saya tak mau hari-hari saya sekarang (1992-red) cuma disii makan-tidur. Hidup khan tidak cuma sekadar itu. Ada yang bisa saya sumbangkan, ya saya berikan,” jelasnya mengenai kegiatan mengajarnya (waktu itu).
Menurut pria berbobot/tinggi (waktu itu) 65 kg/162 cm, selain mendapat banyak masukan dari muridnya, kegiatan itu juga mengajarkan Ed untuk ahli mengejar dan naik turun bus kota. “Sekarang (1992-red) saya pinter loncat naik-turun bus,” ujarnya dengan nada bangga. Bagi anak bungsu buah perkawinan R. Aidi dan St .Fatimah ini, naik turun bus membawa kenikmatan tersendiri.
Dulu (jauh sebelum 90an-red) Ed punya mobil yang dibawanya dari Australia. Tapi dua tahun sebelum bacaan ini dimuat Citra (1990-red), mobil itu dijualnya seharga 500 ribu rupiah. Mobil kuno dan antik yang diberi nama si Dukun itu sarat dengan kisah perjalanan hidup keluarga Edwin. Karena itu, Ed rela melepasnya begitu ada pembeli yang diyakini dapat mencintai mobil itu seperti dirinya.
SELAIN si Dukun, Ed mengaku cuma punya rumah sebagai barang berharga hasil keringatnya eslama itu. Namun, tanah tempat rumahnya berdiri (belakangan itu) menimbulkan masalah baru bagi Edwin dan istri. Pasalnya, tempat tinggalnya berada di perbatasan kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta. Dulu (jauh sebelum 90an-red), menurut Ed, sewaktu ia mengambil rumah, dalam surat yang ditandatangani bupati Tangerang, saat itu jgua tercantum termasuk tanah.
Namun tiba-tiba terbetik kabar, surat itu tak berlaku lagi. Semua tanah milik pemerintah DKI Jakarta. Dan harus dibeli oleh penghuni yang ingin memilikinya. “Tanah kami harus dibeli seharga 4,5 juta, kami tak tahu dari mana mendapatkan uang sebesar itu,” kata Edwin. Namun, bagi Edwin dan istri, dalam kesusahan maupun kegembiraan tersembunyi maksud Tuhan bagi umatNya.
Begitu pun waktu Edwin masuk ke TVRI. Menurutnya memang kehendak Tuhan, sebab bukan karena Ed punya pengalaman di RRI, melainkan gara-gara ia jadi sopir taksi. Di tahun 1970-an, sambil kerja di RRI Bandung, Ed nyambi jadi supir taksi. Suatu ketika, Ed Nongkrong di depan stasiun kereta api Bandung (Kebon Kawung-red).
“Saat itu saya sedang merenung sendiri, masa sih tidak dapat penumpang lagi. Begitu di kejauhan ada orang menjinjing tas, langsung saya songsong. Setelah dekat, tak tahunya teman sewaktu di RRI dulu. Dia langsung mengajak saya ke rapat kerja jajaran Departemen Penerangan yang saat itu diselenggarakan di Bandung.
Sejak itu saya diajak ke TVRI dan langsung didaftarkan ebagai pegawai. Bayangkan, saya sama sekali tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. Saya disuruh pakai jas dan uji coba kamera. Begitu lulus, langsung disuruh menjadi penyiar Sari Berita,” kisah Ed mengenai keterlibatannya di TVRI.
1992, Ed dan istrinya pun menyerahkan soal tanah rumahnya ke tangan Tuhan. Di samping selesainya masalah tanah rumahnya, ada satu yang paling diidamkan Ed dan istri saat itu. “Kami ingin mengunjungi anak cucu kami di Australia. Mudah-mudahan ada rejeki.” (Harapan waktu itu) semoga.
Ditulis oleh: Erika Paula
Alamat Edwin Saleh Indrapradja (waktu itu):
Jln. Penerangan V no. 149B
Komp. Deppen – Kebayoran Lama
Jakarta Selatan
Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar