MESKI TINGGI BADANNYA TAK MEMENUHI SYARAT, MARLA MARAMIS MEMANG MOOI...
SAKIT, SUSTER. “Oo, ibu Mooi itu to, ibu Maria Maramis memang ‘mooi’….,” ucapan yang dilontarkan dalam nada senda gurau itu, acap ditujukan pada Maria Maramis, bintang iklan TV Digitec dan produk lainnya.
Popularitas Maria Maramis memang lantas berkibar semenjak tampil di iklan teve itu. Padahal, “Saya jadi bintang iklan hanya karena diajak Tarida Gloria,” kenangnya. Dan menjadi orang populer, memang susah-susah gampang. Setidaknya, membuat Maria Maramis sering mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketika bulan April 1993 lalu, ia harus masuk rumah sakit MMC di Kuningan, Jakarta, misalnya. Saat itu, selain harus menahankan rasa sakit kakinya yang terkilir, Maria juga harus repot meladeni pertanyaan para suster yang merasa pernah mengenal dan merawatnya. “Ibu sering ke sini khan? Ibu pernah dirawat di sini khan?” Dan banyak lagi pertanyaan beruntun tertuju kepadanya.
Hal itu, tentunya timbul karena para suster itu sering menyaksikan penampilan Maria di layar kaca (RCTI, SCTV, TPI-red). Tak heran, jika kemudian banyak yang merasa sudah akrab, dan bahkan mengaku pernah merawat Maria di MMC. Padahal, “Baru pertama kali itu saya berobat di MMC,” kenang Maria (waktu itu), tersenyum sendiri.
Di jalan-jalan pun, Maria sering merasa serba salah. Maklum, kendati tak kenal, banyak orang menyapanya. “Bahkan satpam-satpam pun dengan akrab menyapa saya. Ada yang memanggil ibu Maria. Tapi ada juga yang dengan bercanda memanggil dengan sebutan ibu Mooi,” lanjut Maria, yang selain menjadi bintang iklan juga mengasuh acara Aneka Profesi di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia).
“Getah” popularitas ucapan ‘erg mooi’ yang melekat pada
sosok Maria Maramis, agaknya jgua memberi anaknya yang nomor tiga, Astrid
Maramis, yang (belakangan itu) duduk di kelas II SMP Asisi. Tatkala sang ibu
jadi terkenal karena (memang) ‘mooi’-nya, Astrid sering ketiban olok-olok teman
sekolahnya.
Temannya bahkan mengubah nama ibunya menjadi ibu Mooi. Kondisi macam itu tentu juga menimbulkan sedikit kerepotan. Bila hendak mengambil rapor Astrid, misalnya, Maria terpaksa datang lebih siang, “Saat sekolah sudah agak sepi, karena Astrid takut diledek ‘mooi’…,” ucap Maria.
Istilah (Belanda) ‘erg mooi’, berari bagus. Bila lidah Maria Maramis mampu melafalakn istilah itu secara pas dan fasih, hal itu disebabkan sehari-hari orangtuanya memang menggunakan bahasa Belanda. Ayahnya seorang kepala polisi dan mengajar tata upacara militer, sedang ibunya seorang guru. Maria sendiri saat masih menjadi pramugari, 1971-1974, sering berkomunikasi dengan orang asing, termasuk orang Belanda tentu saja.
Toh Maria mengaku (waktu itu) masih merasa kaku jika harus ngomong Belanda. Meski berdarah Manado, sikap dan tutur kata istri Herman B.W. Maramis ini, boleh dibilang, “Lebih Sunda dari orang Sunda,” aku Maria sambil tersenyum santun. Maklum, semasa masih bersama orangtuanya, Maria pernah tinggal di Sukabumi selama 14 tahun. Ihwal disiplin dan kemandirian yang tertanam dalam jiwanya, menurut Maria, dipetik dari orangtuanya.
“Saya sering melihat ayah memimpin dan mengajarkan disiplin kepada anak buahnya, sedangkan ibu tampak tegar saat tampil mengajar murid-muridnya,” kenang anak kelima dari 10 bersaudara putra pasangan Christian Dotulong Jane Posuma, yang lahir di Tebingtinggi, 43 tahun yang sebelumnya (1950-red).
Lahir dan besar di kalangan militer, membuat Maria pernah bercita-cita menjadi Polwan. Tapi, “Apalah daya tinggi tak sampai. Sadar bahwa tinggi badan tak memenuhi syarat, saya pun lantas tak pernah mencoba mengiktui tes,” kenang wanita bertinggi-berat (waktu itu) 156-67 ini. Kesibukan karier dan jabatannya sebagai ‘director’ Admella Enterprise, tentu saja membuat Maria sering harus berada di luar rumah.
Tapi, “Di manapun saya berada, saya selalu melapor dan berusaha berhubungan dengan suami dan anak-anak! Saya selalu mengutamakan kontak itu, supaya kami saling tahu kegiatan yang dilakukan masing-masing! Saya merasa senang, dalam berkarier ini di-‘support’ oleh suami! Tanpa ‘support’ dan kepercayaan suami, tentunya saya tidak akan dapat melakukan apa-apa!,” tegasnya.
1993, di tengah kesibukannya, Maria Maramis menambah kesibukannya dnegan mencari resep menurunkan berat badan. (Harapan waktu itu) mudah-mudahan resep itu segera ditemukan. Kalau badan langsing, memang ‘mooi’…
Ditulis oleh: Rohadi
Alamat Maria Maramis (waktu itu):
Jln. Manggis I/94, Dr. Sahardjo, Jakarta Selatan.
Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar