MERANGKAP-RANGKAP KERJA KRU ROCKET (RCTI/SCTV)

 

Sutradara memang tak harus cuma mengatur adegan (gambar tengah)

Seperti Scott (atas) yang kerap naik turun mengangkat properti untuk keperluan syuting. Atau sekadar melap keringat agar pembawa acara tetap semangat (kanan bawah).

Toh para kru seperti Maya (kiri bawah) juga tak kalah sigap dibanding sutradara 


ROCKET (RCTI/SCTV) bisa diibaratkan sebagai masakan. Ibarat memasak, membuat sebuah paket, video memerlukan alat, bahan, “bumbu”, tempat untuk mengerjakan, dan juga tenaga manusianya. Bedanya, memasak biasanya tidak memerlukan banyk tangan, syuting, video menuntut kerjasama orang banyak.

Maksudnya, ada sutradara, kameramen, penata cahaya, juru suara, properti, dan tenaga tambahan lainnya. Bukan suatu kebetulan kalau dari tim kerja yang teatp – atau orang-orang yang sama – bisa menjadi kekautan dalam menghasilkan karya video. Setidak-tidaknya, agar ada kesatuan dalam ide dan kreativitas.

Mengikuti syuting Rocket, porsi kru kerja yang idela tampaknya (waktu itu) belum bisa dimiliki REI (Rocket Entertainment Incroporation). Meskipun meruapkan usaha bersama dengan RCTI, REI lebih banyak terlibat dalam proses pengambilan gambar, baik dalam fasiltias luar studio. Fasilitas yanjg terakhir ini sendiri bukan milik REI, tetapi Yasawirya Tama Cipta, sebuah ‘production house’ yang berlokasi di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Studio memang barang mahal. Tak apa, karena toh yang lebih penting adalah hasil kerja. Sampai saat itu, tim inti REI cuma empat orang: sutraara, penulis cerita, produser, eksekutif produser (Scott Gregory), koordinator produksi dan penanggung jawab tkenik (Tino Saroengallo), asisten produksi (Maya Lubis dan Fifi Tandjung), penata aksara dan busana (Fifi), ‘teleprompter’ (Maya Lubis).

Nyatanya, koordinator produksi juga merangkap asisten sekaligus sekretaris sutradara. Mungkin beban ini agak berkurang. Sejak pertengahan Oktober 1990, pihak REI sudah mempunyai seorang sekretaris. Sedangkan tenaga operasional di lapangan berkisar lima orang. Dengan satu kamera, sang sutradara dibantu oleh seorang kameramen, dua penata cahaya, dan satu penata suara. Properti, kabel, tripod, pita kaset dan sebagainya diruus bersama-sama.

Penata rias untuk pembawa acara Rocket dipegang oleh satu orang. Sedangkan penanggung jawab busana berada di tangan Fifi atau Maya. Selebihnya, seperti konsumsi atau tetek bengek lainnya kebanyakan dibawahi koordinator produksi, untuk kemudian saling kerjasama dengan para asisten pembantu umum. Bukan berarti sutradara cuma mengurusi ‘blocking’, ‘casting’, memeriksa skrip (naskah cerita) atau memilihs dutu yang pas untuk pengambilan gambar.













Sebagai pengarah acara, Scott juga “naik turun” ikut membenahi segala yang menayngkut syuting. Misalnya sesekali mencipratkan air ke kaos Jeffrey agar efek kerignat lebih menonjol, membetulkan posisi lampu, mencarikan asbak, membetulkan posisi baju bintang tamu, dan masih banyak lagi.

Kerja yang naik turun ini juga sama halnya bagi Tino, Maya, dan Fifi. Meskipun masing-masing punya tanggung jawab tersendiri, toh menyempatkan diri untuk membantu yang lain menjadi sesuatu yang lumrah dalam syuting video.

Dengan tim kerja yang cukup kecil, keakraban di antara merkea yang terlihat dalam syuting terasa hidup. Seperti misalnya saling mengambil rokok, entah itu milik sutradara atau yang lain, menjadi hal biasa. Atau merokok dalam studio – yang biasanya tidak boleh – lalu saling nyeletuk ‘no smoking in the room’ (tidak merokok dalam ruangan), walaupun sebenarnya sedang istirahat, ‘break’.

Juga ketika syuting di Hotel Borobudur, saling gantian main yoyo di sela-sela syuting menjadi selingan yang bisa mengurangi kecapekan kru Rocket.

Toh kecapekan selama syuting pun kadang tak bisa begitu saja berkurang. Malah harus ditahan-tahan sampai proses pengambilan gambar selesai. Misalnya, ketika Scott dan para kru bersiap melakukan syuting grup Asian Roots yang dibintangi Jimmy Ignacio. Sebelum syuting, grup reggae ini datang agak terlambat. Waktu itu, musisinya juga belum lengkap semua, sehingga harus menunggu sampai semuanya hadir.

Sementara itu pula, kostum yang (waktu itu) akan dipakai oleh mereka sempat menyita waktu. Untuk syuting Asian Roots, sang sutradara merencanakan pengambilan gambar dengan teknik kromaki. Kebetulan warna celana yang bisa digunakan harus berwarna gelap. Jimy sendiri tak membawa jins cadangan sesuai yang diperlukan. Jalan keluarnya: membeli jins baru. Artinya, harus menunggu juga.

Menjelang syuting, toh tetap saja ada hambatan. Untuk tahap pertama, pengambilan gambar dilakukan di luar studio, yaitu sekitar kebun kecil yang berbatasan dengan tembok lokasi YTC. Untuk ‘shot’ ini, Gladys (waktu itu) akan meng-‘interview’ kru Asian.

Berarti, suasana sekitarnya juga harus tenang. Tanpa disadari, posisi kamera berdekatan dengan koridor penghubung ruangan-ruangan ‘production house’ tersebut. Karena (waktu itu) masih berlangsung dalam jam kantor, jelas ada saja staf YTC yan mondar-mandir dekat kamera. Jadinya, ketika akan ‘take’, tahu-tahu “tak-tok tak tok” – (bunyi hak sepatu wanita) – berseliweran.

Tak itu saja. Mirip dengan “gangguan” sepreti itu, persiapan syuting juga sempat berhenti gara-gara ada suara teriakan anak-anak (era itu) dari lura tembok. Anak-anak (era itu) itu sebenarnya takt ahu apa yang sedang terjadi di kebun tersebut. Mau tak mau, seoran gjuru lampu dan jgua Scott sendiri terpaksa beberapa kali harus “memohon” agar si anak (era itu) diam.

Bekerja dalam tim yang kecil memang asyik. Tapi mungkin kreativitas untu kmengembangkan paket Rocket bisa saja ditempuh lewat pembagian kerja yang lebih utuh. Hal ini tampaknya penting, mengingat Rocket (wkatu itu) akan direncanakan untuk berkeliling ke seluruh Indonesia.

Tentunya waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu – sebelum dan sesudah syuting – sampai dengan berbagai risiko yang terjadi di lapangan bukan hal yang gampang. Malah bisa membuat beban kerja kru makin berat. Bagaimana?

Ditulis oleh: Christantiowati

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer