MENGENTAS KEMISKINAN WAWASAN SERIAL SINETRON
BEGITU mewabahnya opera sabun di layar televisi, baik milik pemerintah (TVRI-red) maupun swasta (RCTI, SCTV, TPI, ANTV-red), memunculkan atensi khusus yang termuat di tabloid ini (Citra-red) beberapa waktu sebelumnya. Fenomena unik yang memusingkan.
Demikian terbaca di sana. Di satu sisi, memprihatinkan kurang lakunya materi yang sama yang dibuat orang kita, di kenyataan lain materi yang disebut opera sabun eks-impor, mampu menyabun bersih niatan penonton kita untuk simpati dan mengapresiasi karya sineas sinetron dalam negeri.
Citarasa dan pengalaman membekali sikap menonton mereka. Ditinjau dari “sejarah” tonton-menonton, penonton kita cukup punya waktu dan materi yang ditonton. Film di bioskop, produk video, atau film di acara televisi. Film yang disiarkan sore, menjelang malam, dan malam hari.
Kuantitas yang demikian menciptakan pengalaman nonton, yang berbuntut meningkatnya citarasa. Orang tidak lagi pergi ke gedung bioskop, tetapi pergi menyaksikan sebuah film. Intensi penonton didorong oleh sikap selektif selain fakta hebatnya film. Di saat lain, televisi dalam programnya menyodorkan materi acara berupa film juga.
Andaikan dalam sehari satu film disiarkan, maka dalam setahun tiap orang berkesmepatan menonton 360 kali ditambah 52 kali hari Minggu, meski siaran televisi kita menyiarkan lebih dari jumlah itu.
Memang, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), dan TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) – waktu itu – belum genap mencapai usia 10. Tetapi penyiaran materi “yang bercerita” cukup banyak. Berarti kesempatan berpengalaman nonton berlipat pula.
YANG dikemukakan di atas sekadar pengalaman kuantitatif. Apakah cukup hanya menunjuk jumlah dan angka-angka kali berapa menonton? Penulis bacaan ini (Suwanto Suwandi, penulis, praktisi televisi, kepala stasiun TVRI Manado), yakin tidak demikian. Apa yang disebut pengalaman menonton, bukan sesuatu yang berlalu tak berkesan.
Pengalaman bagi penonton bukan sekadar kejadian menontonnya, melainkan apa reaksi, sikap mereka terhadap kejadian menonton itu. Karena pengalaman nonton di sini bukan sesuatu kejadian seperti bencana yang secara fisik melainkan terarah kepada hal-hal yang menyentuh batin kita, imaji kita, dan seluruh aspek yang mendukung pola pikir kita, maka ekspresi audio video yang juga disebut ‘moving-image’, benar-benar mengharapkan imaji kita. Imaji penonton ‘move’.
Opera sabun dan sebangsanya eks impor yang disiarkan di televisi kita telah berhasil mem-‘move’-kan penonton kita. Meski perlu diwaspadai bahwa penggerakkan ini belum tentu dialasi adanya materi yang benar-benar sinematografis. Tidak semua opera sabun menjajakan ide dan produk yang filmis ataupun ‘TV genic’. Kesan asal jadi pun kadang dirasakan.
Bagaimana produk kita sendiri? Mengentengkan penonton? Kalau di atas disebut usia kehadiran film dan televisi bisa dibilang cukup, fakta ini harus diadu dengan usia bersinetron, beropera sabun dari para kreator kita.
Apakah mereka yang terlibat dalam pemikiran pembuatan sinetron opera sabun kita (sampai saat itu) belum profesional? Pertanyaan ini tepat. Profesionalisme adalah segala-galanya. Profesional mengandung semangat taat azas, bahkan cenderung tidak menipu. Apakah dalam pemikiran dan pembuatan sinetron opera sabun ada ketidaktaatan azas?
MENJAWAB pertanyaan itu mungkin perlu kita ajukan pertanyaan lagi. Apakah naskah itu naskah televisi (karena akan disiarkan lewat media televisi)? Apakah para pelaku tahu apa mau sutradara televisi (bukan film atau teater)? Apakah para kreator yang non-aktor memahami karakter media (televisi)? Dalam rangka menarik perhatian orang, apakah keseluruhan pemikiran itu mencerminkan dan memenuhi citarasa publik-penonton?
Bagi penyelenggara siaran televisi, apakah tanggal dan jam siaran sudah diperhitugnkan dan dipertimbangkan masak-masak?
Mereka, para sutradara, punya pengalaman segudan gmenghadapi naskah yang kadang-kadang tidak bunyi. Revisi berulang kali terjadi meski tanpa garansi. Di lapangan ketemu mereka dengan pemain yang “main-main”. Kata dan kalimat pun kadang diacak, sekadar memenuhi keterbatasan kemampuan “bermain” mereka. Sutradara pun, dengan semagnat tidak mau bersilat ludah (untuk sementara), mengalah.
Seandainya seluruh produksi selesai dan baik (minimal mutu teknis), belum tentu diterima di rumah-rumah dengan baik. Ada kemungkinan terjadi ‘mis-adjustment’ pada saat siaran. Masih ada lagi kendala yang lebih tidak menyempurnakan siaran dan penerimaan siaran yang berakibat penonton tidak jatuh hati, simpati, lalu “membeli” ide bertelevisi. Penonton yang diharpakan apresiatif malah jadi pasif.
DALAM acara warta berita televisi, ABRI dalam menyemangati dan merealisasi ‘back to basic’, “melatih kembali” para perwiranya. Tentu bukan sekadar mendengar kembali bunyi-bunyian yang memekakkan telinga, tetapi mengingatkan kesadaran: begini lho anggota ABRI itu mestinya. Pelatihan kembali ini menciptakan sikap keprajuritan yang andal, dalam rangka menyongsong tugas-tugas di masa depan yang lebih berat dan kompleks.
Analogi dengan ide “’back to basic’ ABRI”, sudah pantas dan selayaknya kalau mereka yang terlibat dengan produk sinetron (dan yang lain) dientaskan dari kemiskinan wawasan, pengetahuan kreativitas, dan pemikiran persyaratan berekspresi audiovisual, dengan pelatihan secara simultan, ‘workshop’, menggalakkan kegiatan kine-klub yang ‘multi-facet’ (untuk penulis naskah, kerabat kerja, dan penonton).
Dengan demikian akan muncul kesadaran bahwa bersinetron bukan sekadar membuat produk dan… selesai. Tetapi berkomunikasi dengan penonton lewat produk tersebut. Produksi yang maunya disebut sinema elektronik, tidak boleh tidak harus sinematografis. Kalau orang tak pernah belajar sinematografis, tiba-tiba bikin produk yang harus sinematografis, apa jadinya? Semua orang sudah bisa menebak hasilnya.
Sedangkan elektronik mungkin saat itu kesan kita hanyalah kameranya yang elektronik sebagai pengganti kamera film serta sedikit kelengkapan ‘mixing editing’, multi kamera yang ada di studio yang mampu menghasilkan ‘scene’, bisa dipreteli menjadi ‘single’ kamera ‘shooting’. Akhirnya, tak ada profesi tanpa studi. Tak ada produksi tanpa diuji. Penonton jadi mengerti dengan pengalaman nonton selama itu, untuk mengatakan dan menyatakan yang ini berarti yang itu tak berisi.
Ada satu kalimat yang terasa kasar tetapi benar yang ditujukan kepada para calon penyiar: “Hanya ada tempat yang sangat sempit di radio dan televisi bagi penyiar yang otaknya kosong (‘empty headed’). Kalimat itu muncul bukan tanpa alasan. Meningkatnya kecerdasan dan tuntutan penonton, memaksa penyiar yang ternyata hanya berbicara beberapa patah kata saja harus diberi “peringatan”.
Peringatan itu sebenarnya ditujukan kepada semua saja yang berhubungan dengan persiaran televisi, termasuk pembuat produk sinetron, opera sabun, atau lainnya. Jangan mengetengkan penonton: “Penonton toh tidak tahu apa-apa.”
Atau sengaja penonton tidak perlu diajak berpikir. Bila sikap para pembuat sinetron dan opera sabun seperti itu, memang (waktu itu) tidak bakal mampu dia membuat produk yang dicari dan dikangeni penonton. Untuk kekangenan itu sederhana: meski disiarulangkan, orang tak bosan menyaksikan…
Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar