MASIH ADA CINTA: "PENYULUHAN PAJAK DI SELA PEREBUTAN ASMARA" (MINISERI, TVRI PROGRAMA 1 – MINGGU, 29 JANUARI 1995 Pkl: 20.05 WIB)

INI adalah sinetron kedua yang digarap wanita yang selama itu hanya dikenal sebagai artis. Setelah Jin Mooi (telah ditayangkan RCTI beberapa bulan sebelumnya-red) sinetron perdananya yang sempat mendapat “sindiran” dari beberapa wartawan, Erna mengaku malah tertantang. “Saya tidak akan mundur. Akan saya buktikan bahwa saya tidak sekadar iseng jadi sutradara!,” begitu ucapnya di sela-sela proses ‘editing’ sinetron ini.

Masih Ada Cinta (MAC), diproduksi atas kerjasama Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan RI dengan TVRI. Erna Santoso Enterprise, bertindak sebagai pelaksana produksi. Karena dananya mengucur dari Dirjen Pajak, maka wajarlah bila sinetron ini banyak mengandung pesan tentang perpajakan. Dengan kalimat gampang, sinetron ini sesungguhnya adalah penyuluhan pajak.

Tapi, “Kami mencoba menggarapnya dengan enteng. Misi penyuluhan memang ada, cuma karena disisipkan di tengah dialog dan dibawakan seperti layaknya orang ngobrol, jadi kesannya bukan penyuluhan,“ tutur Erna di lain kesempatan.

Bagi pemirsa yang sempat menonton Jin Mooi dan pada Minggu malam (22/1/95) menyaksikan MAC, tentu melihat adanya sedikit kemajuan dialami Erna sebagai sutradara. Terlepas dari penulis skenarionya, dalam MAC ini, Erna sudah tampak memeprhatikan ‘casting’ (pemilihan pemeran) dan dramatisasi situasi. Walaupun (waktu itu) masih tampak kedodoran dalam ‘editing’, MAC cukup menarik sebagai sinetron bermisi penyuluhan.

Di episode sebelumnya, dikisahkan betapa sengitnya hubungan Warsito dan Narti, duda dan janda yang bertetangga, dan konflik batin Warsito sebagai wartawan.

Di episode ini yang berjudul Cinta Tanpa Kata, “perang dingin” Warsito-Narti mulai mencair. Mereka mulai senyum, main mata, dan tetap saling intip. Dan konflik batin Warsito pun selesai dengan satu cara: Warsit omengundurkan diri dari kantor penerbitan itu. Ia tak mau dipinahtugaksan pada bidang yang dia sama sekali tak mengerti.

Di episode ini pula mulai terlihat persaingan tersembunyi antara Dinar dan Tyas, keduanya putri Narti, dalam merebut hati Firdaus, putra sulung Warsito. Dinar yang lebih agresif, tampak lebih sering berdua dengan Firdaus, sementara Tyas lebih memendam perasaan. Firdaus sesungguhnya lebih tertarik pada Tyas, tapi tak berani menolak setiap ajakan jalan Dinar.

Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi

Pemain: Kusno Sujarwadi, W.D. Mochtar, Iyut Bing Slamet, Ambar Sudarno, Jack Maland, Pong Harjatmo, Elly Ermawati, dkk.

Skenario: Alex Suprapto Yudho

Sutradara: Erna Santoso

Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer