MARK MENINGGALKAN SARAH (MODELS INC., SCTV - SETIAP JUMAT Pkl: 22.00 WIB)
KONFRONTASI, NEGOSIASI. Opera sabun selalu dramatis, termasuk Models Inc. (di Indonesia tayang di SCTV-red). Tiap episode, semua tokoh dihadapkan pada masalah pelik. Tapi, kalau mau mendramatisasi, bikinlah penonton percaya dengan memberi alasan meyakinkan. Kalau alasan meyakinkan susah dicari, buatlah alasan sederhana, namun akumulatif. Alasan sederhana yang menimbun suatu saat bisa mendorong tokoh bertindak dramatis.
Dengan kata lain, harus ada proses. Sayangnya, seringkali kedramatisan peristiwa dijual murah. Tokoh yang lembut bisa mendadak garang, tanpa alasan – yang paling sepele sekalipun. Begitu terus. Akibatnya penonton pun capek. Mencerna peristiwa dramatis secara simultan, tentu membutuhkan tenaga ekstra. Kalau penonton sudah tak punya energi, niscaya tontonan pun ditinggalkan.
Dalam Models Inc pekan kedua Agustus 1995 ini, bisa kita lihat betapa dramatisnya hidup tanpa alasan kuat. Dengan sangat gampang, Sarah berhasil mengubah hati Mark, siswa Seminari yang beberapa hari lagi bakal disumpah untuk mengabdikan diri sebagai pastur. Tapi setelah bertemu Sarah (cuma beberapa kali saja, red), blas… hilang sudah kebulatan tekad Mark.
Semudah itukah manusia mengubah jalan hidup? Mungkinkah siswa Seminari macam Mark dapat sedemikian mudah tegoda Sarah? Lalu alasan apa yang membuat Mark senekad itu? Maaf saja: tidak ada. Mark cuma bilang, “Kamulah gadis yang tepat untukku.” Tanpa proses dan pergulatan batin.
‘Well’, Sarah memang tidak jelek (tapi tidak juga sangat cantik), tapi masak iya cuma karena itu Mark luluh? Alasan yang lebih serius dan meyakinkan (umpamanya: Sarah sangat mirip ibu Mark yang meninggal sejak Mark kecil, atau Sarah sangat cinta kebebasan, sehingga takut terkungkung kehidupan keagamaan pun tergoda), agaknya tidak berhasil ditemukan tim penulis.
Karenanya, begitu Mark kembali ke jalan hidupnya semula
(setelah seorang romo menasihati Sarah untuk melepaskan Mark), penonton pun
susah untuk terharu. Kala Sarah merasa terpukul dan berkali-kali menyesalkan,
penonton bisa jadi malah jengkel – bukannya simpatik. Models juga (waktu itu)
masih sibuk mengkonfrontasikan Monique dengan Julie. Kedua wanita kece ini, tak
mau melepas Adam.
Biar sudah resmi dipacari Adam. Monique tak punya kekuatan apa-apa. Akhirnya, karena merasa capek bersaing dengan Julie dan didiamkan Adam, Monique pun menyerah. Tidak demikian dengan pria yang menteror Chyntia. Ditolak dan dijauhi, ia malah kian gencar beraksi. Akhirnya Chyntia pun mengaku, “Pria itu bekas pacarku, saat kami sama-sama susah. Namanya Frank Thompson.”
Bryan yang sedang jatuh cinta setengah mati pada Chyntia, segera saja memberi bala bantuan. “Tapi Frank tidak mau kalah. Minggu depan terlihat betapa lihainya Frank memutarbalikkan fakta, sehingga pengadilan malah menyalahkan Bryan. Keanehan Carrie mencapai puncaknya. Pada Bruce, seorang klien potensial, Carrie mengaku sebagai Hillary.
Bukannya memuluskan bisnis, Carrie malah menggagalkan negosiasi – setelah sebelumnya menggiring Bruce ke ranjang. “Kamu benar-benar butuh pertolongan,” kata Hillary prihatin. Hillary lantas meminta dokter Richard, untuk mengembalikan Carrie ke situasi normal. Carrie yang didakwa mengalami krisis identitas, masih terus menderita. Richard bukan cuma mengobatinya, tapi juga merayunya. Padahal, pada Hillary ia juga melakukan hal serupa.
Ditulis oleh: Sandra Kartika
Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar