MAC GYVER 25 ANGKA DI ATAS HUNTER (RCTI/SCTV - JUMAT Pk: 20.00 WIB)

PARA produser film barangkali akan bersyukur bahwa kejahatan atau tindak kriminal tak akan pernah mati. Dengan begitu, sosok hero akan senantiasa dibutuhkan. Hero dalam pengertian sesungguhnya maupun dalam kisah fiksi. Fiksi novel, fiksi cerpen, ya juga terutama fiksi film dan film seri dalam tayangan televisi. Lihat saja sejumlah tayangan seri di teve Indonesia – ya TVRI (televisi pemerintah-red), ya juga teve swasta (RCTI/SCTV-red).

Boleh dibilang, tiada hari tanpa kisah laga. Entah itu “murni” laga, atau yang semi-semi komedi situasi, atau yang lainnya lagi. Seri Mac Gyver adalah salah satu contohnya. Sama dengan hero-hero yang lain dalam seri lain pula, Mac Gyver – yang memang nama tokoh utama dalam seri itu – (waktu itu) akan membela kebenaran, menolong orang-orang yang terdesak atau didesak, dan memenangkan pertarungan, macam apapun bentuk pertarungan itu.



Tebing dan air deras jadi ungkapan dunia petualangan yang senantiasa dihadapi Mac Gyver, yang acuh dan grogi memegang senjata 

Seri Mac Gyver adalah salah satu contohnya. Sama dengan hero-hero yang lain dalam seri lain pula, Mac Gyver – yang memang nama tokoh utama dalam seri itu – akan membela kebenaran, menolong orang-orang yang terdesak dan didesak, dan memenangkan pertarungan, macam apapun bentuk pertarungan itu. Tentu, sosok Mac Gyver berbeda dibandingkan Crockett dan Tubbs, tokoh-tokoh dalam seri Miami Vice (di Indonesia juga diputar RCTI/SCTV-red).

Kalau mau membandingkannya dengan jagoan yang terlanjur dan nyaris melegenda, Mac Gyver berlainan dibandingkan James Bond atau Indiana Jones, kendati para kritisi film seri di AS – entah pendapatnya sendiri, entah berdasar “iklan” produser – menyatakan bahwa Mac Gyver ada di antara dua hero ini.

Entah macam mana pula cara merumuskan matematika “di antara keduanya” itu. Yang terang, Mac Gyver tidak punya lisensi untuk membunuh. Bahkan dia menjauhi senjata api jenis apapun. Apalagi harus mempergunakan senjata-senjata mecanggih macam yang dimiliki Bond.

Jika kita (waktu itu) masih juga ingin mendapatkan kesejajaran Mac Gyver dengan dua jago ini adalah mereka sama-sama suka bertualang. Dan sejumlah kisah yang digelar memang mengantarkan petualangan Mac Gyver hingga ke Burma, Amerika Selatan, atau belahan bumi lainnya. Terakhir (waktu itu), dia bahkan digambarkan terlibat pertmuan dengan para mahasiswa demonstran Tiananmen.

Ketiganya juga sama-sama berotak cemerlang. Kendati ada senjata mega canggih, Bond masih mendahulukan otaknya ketimbang langsung main berondong senapan atau memamerkan kecnaggihan (atau “kengerian”?) teknologi mutakhir.

Mac Gyver memang lebih dekat kesamananya dengan Indiana Jones, sama-sama memanfaatkan barang-barang apa adanya yang ada di sekitarnya untuk kepentingannya – entah itu menyerang lawan, mengecohnya atau bahkan melarikan diri.

Ya, Mac Gyver bukanlah sosok hero yang dengan gagah berani menghadang par abandit yang bersenjata lengkap. Mac Gyver terasa lebih realistis sebagai manusia biasa, yang sadar bahwa timah panas itu bisa melumatkan perutnya jika ditembakkan padanya. Mac Gyver tak lebih sebagai manusia biasa. Bahkan dalam episode Prodigal digambarkan, Mac Gyver sebagai penjual minuman ringan di sudut sebuah jalan.

Yang membedakannya dengan kebanyakan orang adalah kecerdasannya dan keberaniannya menghadapi kemungkinan bahaya yang senantiasa menghadang. Dan kecerdasan yang dimaksud itu adalah dalam memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling tadi. Boleh dibilang, dia inilah hero yang melarat itu.

Hanya dengan beberapa batang rokok yang disulut, Mac Gyver mampu menancing dan melihat arah sinar laser yang amat peka itu. Dan dengan pecahan kaca yang diketemukan di sebuah gedung yang runtuh, dia pantulkan arah sinar laser ke sumbernya sendiri – dan lumpuhlah kerja sinar itu.

Atau ketika dia butuh menjebol dinding tebal yang runtuh dan mengurung para ahli laboratorium, Mac Gyver tak bisa seenak agen rahasia 007 yang sudah jauh hari mendapat bekal peralatan canggih untuk memporakporandakan penghalang yang melintang. Mac Gyver membutuhkan larutan tertnetu yang harus dicampur dalam air, dan dari pencampuran itu akan terjadi reaksi yang menyebabkan tong air itu meledak.












Persoalannya, jika Mac Gyver begitu saja mencampur larutan itu, bisa-bisa dia pun akan ikutan berkeping-keping sebagaimana tembok tebal bersama-sama meledaknya tong itu. Jadinya, dibutuhkan beberapa menit, agar Mac Gyver sempat berlindung. Akhrinya, bungksu kapsul obat flu bisa dimanfaatkan, setleah isinya dikeluarkan lebih dulu.

SELALU saja begitu, jalan keluar ditemukan di saat dia dalam keadaan terdesak. Paling tidak, dalam setiap episode, sedikitnya ada 5 “jruus” diperagkaanay. Jadinya, menonton seri ini, yang menarik bukannya ingin tahu kisah apa yang disuguhkan, melainkan kepandaian-kepandaian apa yang bisa dijadikan pelajaran. Toh, kepiawaian Mac Gyver tak berbiaya mahal.

Kalau ada istilah ‘sciene-fiction’ alias fiksi ilmiah, bolehlah seri Mac Gyver ini disebut sebagai ‘science-fact’. Faktanya tak dikarang-karang. Jadinya, beda dibanding seri laga lainnya yang memanjakan dar-der-dor senjata. Mac Gyver tidak dengan gampang melenyapkan para bandit atau persoalan umumnya.

Bahwa Mac Gyver dengan gampang menemukan beberapa barang rongsokan di sekitarnya, itu memang salah satu kebetulan yang kayaknya akan selalu mewarnai film-film jenis beginian. Yang jelas taruh kata sisi kisahnya dibuang, jurus-jurus Mac Gyver masih akan berguna bagi kita – yang masih mencoba memanjakan kaal sehat.

Untuk soal “jurus-jurus” kepintaran Mac Gyver, produsernya melakukan konsutlasi dengan lembaga California Technology. Seri yang diproduseri Henry Winkler dan John Rich ini pertama kali disiarkan pada Februari 1986, Rabu malam, lewat stasiun teve ABC.

Dari tahun ke tahun, dalam jajaran siarna film seri, peringkat Mac Gyver tak menunjukkan peningkatan berarti. Malah bisa dibilang, untuk rumusan berdasar Nielsen Ratings, yang dilakukan per pertengahan tahun, pada 1990 ini posisinya merosot hingga urutan ke-47. Kalau mau membandingkan dengan seri Hunter yang diputar TVRI, Hunter pada saat 1990 ada di urutan ke-24, artinya 23 angka di atas Mac Gyver.

Tapi jika dibandingkan posisi awal munculnya, Mac Gyver justru ada 25 angka di atas Hutner. Awal muncul, 1986, Mac Gyver langsung menempati posisi ke-42, sementara Hunter yang awal muncul, 1985, leawt NBC, posisinya ada di urutan ke-67. Memang, setahun kemudian, 1986, bersamaan diptuarnya Mac Gyver, Hunter langsung melesat ke atas: posisi ke-37.

Toh, rating di AS ini bisa tak berarti apa-apa di Indoensia isni. Kulturnya berbeda, kata orang. Buktinya, menurut penelitian Survey and Research Indonesia, Maret 1990, Mac Gyver justru menempati posisi ke-2, meninggalkan jauh seri Magnum P.I., Miami Vice, L.A. Law, dan Who’s The Boss?

Padahal, berdasar Nielsen Ratings, posisi empat seri ini selalu ada di atas Mac Gyver. Apalagi Who’s The Boss yang bahkan sudah sampai masuk 10 besar, atau urutan ke-13 pada tahun 1990. Sejumlah teori memang bisa dikenakan pada kasus model begini. Tapi, teori apa yang diberlakukan para pakar – terutama komunikasi – di Indonesia ini?

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer