LOLA AMARIA
KANDAS, KETAT. Dunia ‘catwalk’ yang menjadi impiannya kandas, lantaran tingginya hanya 162. Tapi Lola Amaria tak patah semangat. Dunia ‘modelling’ yang dijajaki mengantarnya menjadi bintang iklan Sunsilk, Mazda Vantrend, dan sepatu Final.
Kalau (belakangan itu) bisa bilang dunia akting adalah pilihannya, tak lain karena dalam diri gadis (era itu) kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 ini tersimpan sejuta harapan untuk maju. “Mulanya nggak percaya. Apa iya saya punya potensi? Tapi banyak yang bilang begitu,” ujar Lola tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Berawal dari keterlibatannya sebagai pemeran utama di sinetron Lain Sendiri, ditayangkan ANteve (Andalas Televisi) beberapa waktu sebelum bacaan ini dimuat Bintang. Sampai Maret 1995, ia sudah terlibat dalam sinetron Suratan (TPI), Deru Debu (SCTV), Ada-Ada Saja, dan Gara-Gara (keduanya diputar RCTI-red).
Dalam serial Deru Debu episode 9, Bias-Bias Kasih Sayang, berperan sebagai Karina. Untuk urusan akting, Lola yang pernah menjadi juara I Model Sampul 94 sebuah majalah remaja ini, selalu berpegang prinsip, bahwa pemain yang biak harus dapat memainkan peran apa saja. “Maka dari itu, Lola inginnya dapat peran yang lebih dari kemarin, yang lebih menantang,” kata Lola berharap (waktu itu).
Penyuka warna merah, putih, dan hitam ini, menyadari kalau persaingan dalam dunia sinetron itu begitu ketat. Tapi ia percaya, kalau hanya mengandalkan fisik saja, nggak akan langgeng. “Harus punya kemampuan dan kemauan! Harus disiplin dan nggak ngaret!,” tandasnya. Hal itu juga yang dipegangnya dalam dunia model, kalau toh nantinya ia nggak kepakai lagi, bukan masalah baginya.
“Bisa ganti bidang lain,” ujar anak ke-2 dari 4 bersaudara, yang waktu kecil bercita-cita jadi diplomat dan pengusaha ini. “Kita boleh erencana, tapi Tuhan juga yang menentukan,” ungkapnya. Memang.
Ditulis oleh: Rommy Ramadhan
Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar