LIPUTAN 6 PETANG (SCTV) KEMBALI DITAYANGKAN PUKUL ENAM SORE

 

Sumita Tobing, Ph. D., ‘news department manager’ SCTV. 

ISTILAH ‘back to basic’ rupanya, juga bisa menghinggapi kalangan pertelevisian. Buktinya, mulai 1 Juni 1997 ini, Liputan 6 Petang kembali mengudara pada pukul 18.00. Padahal, saat pertama ditayangkan pada 20 Mei tahun 1996 lalu, program berita ini mengudara pukul 18.30 – persis sama dengan Seputar Indonesia-nya RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

“Tapi bukan karena bentrokan kepentingan bila kami kembali ke jam tayang awal!,” tegas ‘news department manager’ SCTV, Sumita Tobing, Ph. D. “Ini semua tak lepas dari rencana ‘launching’ besar-besaran dari SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) pada 1 Juni ini (1997-red). Semua akan serba baru: mulai dari logo sampai program. Nah, sesuai program baru yang telah tersusun itu, Liputan 6 Petang diputuskan untuk kembali ke pukul 18.00,” tutur Sumita pula.

Sebelum itu, tepatnya pada sekitar Februari 1997 lalu, seorang pengacara kondang memberi tahu BI (Bintang Indonesia) bahwa antara RCTI dan SCTV tengah mencari kesepakatan menyangkut program berita petangnnya (waktu itu). “Besar kemungkinan, sebentar lagi, Liputan 6 akan dikembalikan ke jam tayang semula pada pukul 18.00, agar tidak mengganggu Seputar Indonesia-nya RCTI,” kata pengacara itu.

Tapi ketika berita itu dikonfirmasikan pada Sumita, ia dengan tegas menolak. “Bagaimana bisa begitu? Dulu, waktu kami mau ‘launching’, saya diajak duduk satu meja dengan orang-orang RCTI! Di sana kami lalu sepakat, jam tayang kami sama dengan mereka. Jadi, kalau sekarang (1997-red) kami pindah lagi, itu tak lepas dari paket program baru dari SCTV!,” ujar Sumita (waktu itu).

Tentu, langkah “kembali ke awal” ini, bukan tak mungkin (waktu itu) akan mengundang penilaian dari masyarakat, bahwa SCTV tidak konsisten dengan isi beritanya. Namun, menurut Sumita, sebatas isi programnya tetap sama, perpindahan jam tayang tak bisa diartikan, bahwa mereka tak konsisten.

“Apalagi seperti sudah saya katakan, perpindahan ini bagian dari paket keseluruhan program baru SCTV!,” tegas Sumita, yang sesuai dengan semangat “pembaruan” itu, juga (waktu itu) berencana untuk memberi porsi khusus bagi berita wanita dan pemuda dalam Liputan 6 Petang.

“Sebab, berdasarkan hasil SRI (Survey Research Indonesia), pada jam itu, penontonnya amat bervariasi. Mulai dari ibu-ibu, para bapak yang baru pulang kantor, serta mahasiswa. Jadi, mungkin, saya akan tugaskan wartawan yang khusus meliput bidang wanita dan kepemudaan,” kata Sumita. Lalu, bagaimana bila nantinya hasil “penajaman” itu mesti berhadapan dengan program non-berita yang berjam tayang sama?

“Bagi saya, membandingkan berita dan isnetron itu sama dengan membandingkan ‘tape recorder’ dan kue lapis!,” tukas Sumita. Karena itu, ia punya saran: barangkali tak ada salahnya, bila pemerintah (belakangan itu) menetapkan jam tayang berita bagi semua stasiun televisi (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red).

“Pendeknya, pada jam itu, semua televisi tak boleh punya program lain, kecuali program berita,” kata Sumita. Manfaatnya jelas: masyarakat akan memilih program terbaik, sehingga pada gilirannya, masing-masing stasiun televisi pun akan bersaing untuk memuaskan pemirsanya. “Jika itu terlaksana, situasinya mungkin baru ‘fair’, karena berita akan bersaing dengan berita!,” tegas Sumita.

Ditulis oleh: Adi Pamungkas/Tavip Pancoro

Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer