LIA WAROKKA: "TAK BURU-BURU BERCINTA"
MISTERI KECAPI, paket ketiga Sepekan Sinetron 30 Tahun TVRI (27 Agustus 1992) memunculkan Lia Warokka sebagai Ana. Peran yang biasa saja, meski beda dari aslinya. Lia, (saat itu) 27 tahun, adalah ibu 1 anak (kala itu) yang (sampai detik itu) telah 2 tahun menjanda. Baginya, peluang total di karier (waktu itu) begitu terbuka. “Bukan untuk melupakan luka, tapi itu pilihan saya,” katanya.
Meski begitu, pengalaman yang dulu (jauh sebelum 1992-red), masih terasa pilu (waktu itu). Bayangkan, pacaran bertahun-tahun, “Perkawinannya justru tak sampai 2 tahun.” Dendam? Geram? Itukah alasanmu sibuk mencari pelampiasan, hingga cerita buruk tentangmu sering mengiang?
“Ah, saya “tutupi telinga kiri-kanan”! Terserah orang mau bilang apa!” Begitulah sikap yang semestinya. Tentu sembari meneliti langkah kaki. Betapa tidak enak predikat yang disandang. Betapa orang malah sering bilang, sendirian bebas dari segala peluang. “Tapi sekarang (1992-reed) ini, saya sulit untuk bisa dekat dengan lelaki.” Lantas, bagaimana dengan si itu, si anu, dan si ini?
“Iya, tapi saya tetap belum berpikir untuk menikah lagi. Saya bukan tipe wanita yang buru-buru, dua tiga bulan kenal lalu menikah. Prosesnya pasti panjang. Lagipula untuk bercinta, saya ini serba hati-hati.” Lho, apakah untuk melakukan hal lainnya boleh gegabah? Lia diam. Sepertinya membenarkan. Kemudian memikir-mikirkan, hingga terlelap dalam lamunan.
Bisa berjalan sangat jauh, bisa pula mengawang sangat tinggi. Bahkan di sana tergambarkan, dirinya ibarat debu yang berterbangan. Seperti puisi saja, pembaca. Begitulah Lia. Di halaman 12 (Citra No. 125/III/19-25 Agustus 1992) puisi yang lain pun ada. Menarik jika dibaca dan dieja.
STATUS LIA WAROKKA DIJALANI SAJA
KARIER yang dipilih Lia Warokka adalah dunia film. Berarti
ia mengubur cita-cita sebagai pengacara. Dua tahun belajar di perguruan tinggi
swasta di Jakarta, tapi kandas begitu saja. Ia lebih kesengsem pada dunia model
– juga peragawati. “Lalu sibuk dengan dunia itu. Lalu pacaran. Lalu menikah,”
gumamnya.
Menurut wanita kelahiran Bogor, 8 Juli 1965 ini, semua bergerak cepat. Kendati dalam hati, Lia – yang punya tetesan darah Belanda, Manado, bahkan Madura – ingin meniti hidupnya setapak demi setapak, “Meski sudah gagal menjadi pengacara, tapi harus menjadi bintang film yang berbobot, selain terkenal.” Tetapi, begitu memasuki gerbang perkawinan, keadaannya berubah.
“Saya mesti menjadi istri yang baik, dong. Istri yang setia.” Sebaliknya, kesetiaannya itu sulit dipertahankan, lantaran, “Kami punya ego.” Lia memang tidak menyesali perceraian itu. “Mungkin itu jalan terbaik yang saya lakukan. Dan saya kini (1992-red) sudah bebas berkarier, setelah sebelumnya tertunda.” Juga jalan terbaik bagi mantan suaminya, Djamanto, yang (sampai saat itu) kerap mengunjunginya. Termasuk menengok Sheila Brigitta, putri mereka yang (saat itu) 3 tahun.
“ANAK saya harta saya yang paling berharga. Saya tidak ingin
jauh dari Sheila. Jika saya syuting, meski beberapa hari, dia saya ajak. Biar
tahu kerja mamanya.” Tentang perceraian itu, tentu Sheila (saat itu) belum
tahu. “Belum waktunya menerangkan. Ya, Sheila sering bertanya ke mana ayah
pergi. Tapi saya hanya menjawab, ayah pergi karena sibuk mencari uang buat
Sheila.”
Lia yang punya tinggi 162 cm, berat badan (waktu itu) 49-50 kg (“Tergolong gemuk, lho”), pada usia 15 sudah berakting I dlayar kaca. Tahun 1970-an, dalam serial paman Dicky. Bahwa 1992 ini laris main di sinetron, “Ya, alhamdulillah.”
Usai membintangi Misteri Kecapi (TVRI), Lia siap-siap main lagi di beberapa sinetron – termasuk lakon Pariban Dari Bandung (TPI) yang (waktu itu) bakal disutradarai Eduard Pesta Sirait. Mungkin, 1992 inilah masa emas Lia setelah sekian lama tertunda. “Setelah saya menjadi istri, bagaimanapun harus taat, rela nggak main film. Tapi, kok ya saya susah meninggalkan dunia itu?”
LIA juga bercerita, setelah bercerai, ia berkenalan dengan
seorang pembalap. Lia naksir. “Tapi saya sulit mengutarakan. Akhirnya hilang
begitu saja.” Ia mengakui, terkadang merasa kesepian alias kesendirian. “Lebih-lebih
kalau sakit, tidak ada yang nungguin. Tak ada yang memberikan kemesraan,”
cetusnya tersipu-sipu.
Tentang statusnya, anak kelima dari enam bersaudara dari ayah bernama Eddy Warokka serta ibu bernama Ratna Dewi ini bilang, dilakoni begitu saja. Ia tak peduli dengan omongan orang-orang yang bernada minor. “Saya paling sering diberitakan yang aneh-aneh. Tapi percuma jika saya tanggapi.” Yang dicarinya (kala itu) hanyalah karier, “Itu pun demi Sheila.” Bahwa Sheila membutuhkan dekapan kasih sayang seorang ayah, Lia memang memahami.
“Biar sekarang (1992-red) ini saya sendiri, saya toh juga ingin merasakan. Saya tak kahwatir, walau saya akui, saya butuh teman ngobrol. Tapi sudahlah, saya toh punya kesibukan kerja.” Lia juga (saat itu) punya pekerjaan di suatu kantor.
“Bergerak dalam bidang PR, masih kecil-kecilan. Perusahaan itu didirikan bersama-teman-teman. Kami baru merintis. ‘Job’ pertama datangnya dari sebuah hotel berbintang. Acara pembukaannya kami yang ngatur. Ya, itulah kesibukan bila sepi main sinetron.” Tapi kalau sepi diri sendiri? Ria melantunkan lagu Suci Dalam Debu (milik Iklim-red). “Saya senang lagu itu, saya memang ibaratkan debu.” Yang suci atau tidak, Lia?
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
Dok. Citra – No. 125/III/19-25 Agustus 1992, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar