LAYAR TELEVISI SWASTA: TAWARAN BERAGAM INFORMASI UNTUK TARZAN

TELEVISI swasta, jika sungguh-sungguh televisi swasta – dalam arti independensi politis dan kultural – nantinya (waktu itu) akan menciptakan suatu perspektif dunia baru di alam imaji setiap manusia dalam masyarakat. Sebab, “dunia” bagi setiap orang bukan terutama “objektivitas dunia” itu sendiri, melainkan apa yang diketahui dan digagas olehnya di dalam “mesin” intelektual dan spiritualnya.

Kalau Anda mengajak seorang “Baduwi” nonton konser musik klasik di Gedung Kesenian Jakarta, informasi tentang objektivitas karya seni yang dipergelarkan itu tidak serta merta tertransformasikan menjadi dunia batin “Baduwi” itu: pertunjukan musik itu mungkin menjadi sesuatu yang lain sama sekali (baca: subjektif) di dalam batin si “Baduwi.” Anda sia-sia menghadiahi sekeping meas kepada seseorang yang tak memiliki referensi bahwa itu emas.

Anda jangan pamerkan jajan asinan kepada teman yang lidahnya tak bisa merasakan rasa asin. Dulu (jauh sebelum 90an-red), penulis bacaan ini (Emha Ainun Nadjib, budayawan/tinggal - waktu itu - di Yogya) menyimpulkan bahwa sate itu haram hukumnya, hanya karena peraturan pesantren melarang kami untuk jajan di luar warung pesantren – sedangkan warung kampung yang tiap saat pihaknya lewati itu menjual apa yang disebut sate.

 


Maksud penulis bacaan ini (Emha Ainun Nadjib, budayawan/tinggal – waktu itu – di Jogja) dengan mengemukakan ilustrasi itu adalah bahwa tatkala berpuluh juta penduduk Indonesia hanya pernah “bergaul” dengan TVRI sejak kanak-kanak sampai hampir tua, banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa “dunia” adalah seperti yang tiap malam tertayangkan di layar teve negeri itu.

Orang bisa percaya bahwa di negeri ini tak ada orang melarat karena TV tak pernah meliput kemelaratan, umpamanya. Orang bisa percaya bahwa koruptor di negeri ini hanya sejumlah 10-20, sebab yang ditayangkan memang hanya segelintir dari beribu-ribu gelintir, umpamanya.

 


Maka makin banyak teve swasta, para “Baduwi” akan makin terlatih untukmelihat keragaman realitas untuk akhirnya menyimpulkan dan memilih sendiri “dunianya”. Makin banyak teve swasta, orang akan sanggup mendidik daya komparasi antara konsep emas dan konsep perak.

Kalau tiap hari sampai tuanya Tarzan hanya hidup di belantara (baca: mobilisasi politik, manipulasi informasi, reduksi realitas – melalui ‘mass media’), maka ia yakin bahwa dunia adalah pepohonan, daun-daun, dan hewan. Jika makin banyak teve swasta nantinya, perlahan-lahan membawa “komunitas Tarzan” mengenali beda antara kehewanan dengan kemanusiaan – maka ada kemungkinan dalam pemilu si Tarzan (waktu itu) akan mencoblos partai manusia.

Syaratnya, teve swasta mesti benar-benar teve swasta dengan segala aspeknya – bukan sekadar menyewa kaset video dari Amerika Serikat lantas diputar dan ditayangkan ke seantero negeri, untuk suatu konsumsi hedonisme kultur yang tak ada kaitannya dnegan kebutuhan substansial masyarakat terhadap informasi zamannya.

DULU, pertama-tama, Tuhanlah yang “bikin perkara” soal informasi. Ia mencipta alam manusia karena “ingin” menginformasikan DiriNya sendiri. Segala ciptaanNya berupa tiga macam informasi: alam semesta, lantas manusia, dan berita-berita wahyu, ketiga jenis informasi itu berdialektika dan mengantarkan manusia kepada Maha Sumber Informasi yang juga sekaligus Maha Rujuk Informasi.

Kemudian manusia kawin, bercinta, dan saling bergantung dengan hakikat inofrmasi. Ketika bayi menangis, informasi pertama yang disampaikannya selain fisik – adalah tangis. Auditif sifatnya.

Telinga lebih dulu berfungsi dibanding mata. Radio lebih dulu berdiri sebelum televisi. Dalam ayat-ayatNya selalu disebut Maha Mendengar dulu, baru Maha Melihat. Saraf pendengaran jauh lebih banyak jumlahnya dan lebih canggih sistem-sistem fungsinya dibanding saraf penglihatan. Seni musik lebih kuat daya magi dan magnetiknya dibanding seni rupa. Anda bisa menjumpai dunia yang tetap “utuh” ketika pendengar siaran radio, tapi kalau nonton film bisu, terasa ada yang sangat kurang.

Yang pasti, harga manusia paralel dengan harga informasi yang diperolehnya. Informasilah yang menentukan segala perilaku manusia, selera makannya, pilihan baju dan keseniannya, cita-cita sosialnya, kadar imannya atau sempit laus kepribadiannya. Bahkan segala peperangan, kekausaan, penindasan, kebhaagiaan dan kesengsaraan, bergerak dalam dan dengan informasi.

Revolusi lokal “petani ngamuk” dijaring oleh denyut informasi. Kesalahpahaman atau kejernihan sejarah biasa tak mungkin diubah hanya karena efek informasi ‘gethok tuler’ dari mulut ke mulut. Demonstrasi rakyat yang berlangsung pada suatu pagi dihasilkan oleh siaran radio malam harinya. 100 juta manusia tersesat untuk megnutuk pemimpin ini dan memuja pemimpin itu gara-gara manipulasi ‘mass media’.

MAKA kelahiran teve swasta haruslah dikaitkan dengan latar belakang masyarakat dan negara di mana ia lahir dan berfungsi. Bagaimana iklim politiknya, pola bangunan perekonomiannya, atmosfer sosial budaya, serta keseluruhan infrastruktur kesejarahannya.

Orang-orang di kampung bikin interkom – ternyata – tidak untuk menginformasikan apa-apa kecuali untuk perpanjangan tangan dari budaya ‘ngarasani’, ngegosip’, ngerumpi, untuk gaya pacaran yang (waktu itu) baru, meskipun syukur kalau ada teman kecelakaan di suatu tempat bisa cepat diinformasikan.

Sejak lama orang membuat radio amatir yang ternyata profesional-komersial. Fungsinya masih terutama pada tahap pelayanan jasa hiburan dan iklan-iklan, belum tiba pada tahap rekayasa untuk menjadi media penginformasian realitas sosial. Fungsi mereka (waktu itu) belum ‘reporting’ zamannya (sampai saat itu), melainkan (waktu itu) masih merupakan bentuk tertentu dari “pesta budaya”.

Mereka tak bisa disalahkan, dalam arti tidak setiap orang atau lembaag sosial harus mampu tidak terjerat oleh arus depolitisasi global di sebuah negeri. Negeri yang masih amat membutuhkan stabilitas, dan untuk itu diperlukan “pentung”. Negeri yang (waktu itu) masih butuh memenjarakan warga negaranya yang bukan saja “meresahkan masyarakat,” tapi juga yang “dikhawatirkan akan meresahkan masyarakat.” Orang berhak untuk tidak gagah berani melawan itu.

Dalam konteks itu, berdirinya – (waktu itu)  akan makin banyak – teve swasta, tidaklah terlalu menawarkan optimisme. Siaran teve swasta bisa saja sekadar – justru – menyodorkan mimpi, mabuk budaya, takhayul, yang berfungsi sebagai “ventilasi politik”. Pada saat yang sama, dalam kerangka politik informasi, sampai waktu agak jauh ke depan belum bisa diharapkan fungsi ‘counter culture’-nya.

Akan tetapi dunia, zaman, sejarah, (waktu itu) sedang berubah dan akan terus berubha, oleh tangan manusia atau tangan alam. Sebuah rekayasa politik yang memonopoli atau meredusir informasi, terbukti bisa saja menghasilkan sesuatu yang sebaliknya.

Dengan kata lain, penulis bacaan ini (Emha Ainun Nadjib) memilih kecnederungan untuk mengambil sisi optimistik bahwa makin banyaknya teve swasta, pada suatu hari (waktu itu) akan merupakan aset positif bagi kebaikan sejarah manusia. Biarlah orang buka warung banyak-banyak. Ktia dorong dan rangsang persaingan di antara mereka. Makanan akan makin ragam, inovasi akan menerobos tembok-tembok.

Salah satu “makanan” nantinya dipertaruhkan dan dipertaruhkan dalam persaingan antar “warung” itu (perkiraan waktu itu) mungkin saja adalah aspirasi-aspirasi terpendam yang sejauh itu kita sangka tidak mungkin akan muncul ke permukaan. Penulis bacaan ini (Emha Ainun Nadjib) pilih ini karena lebih baik “hidup dalam mati” daripada “mati dalam hidup”.

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer