GAMES MOTHER NEVER TAUGHT U: "KERASNYA BISNIS PERLU KEHADIRAN KAUM IBU" (FILM CERITA, TVRI PROGRAMA 1 - SELASA, 21 JULI 1992 Pkl: 21.30 WIB)

Laura Bentells (diperankan Loretta Swit), menonjol di tengah dominasi kaum laki-laki 


‘WORKING women’, wanita-wanita pekerja, adalah pertanda kemajuan zaman. Hidup yang sudah dipenuhi ragam persoalan, kian kompelks dengan cerita-cerita seputar kaum ibu yang berkarier di luar rumah. Majalah wanita – yang juga (wkatu itu) membanjir -kerap menyoroti soal ini, lewat berbagai sisi. Berganti-ganti. Seminar atau pembicaraan serius dalma forum pun sering diadakan.

Sementara bangku kursus atau kuliah psikologi dan manajemen (waktu itu) kian rajin membahasnya. Demikian pun sandiwara atau film. Ketika jumlah kaum profesional meningkat pesat, ketika itu pula jumlah wanita bekerja (bukan pekerja wanita semata) bertambah. Sepertinya tak ada hubungannya dengan emansipasi. Orang sekadar menganggapnya sebagai keseharusan zaman.

Apalagi di Amerika, negeri yang sejak dulu memberi kelelausaan setiap jenis kelamin dan semua anggota ras serta suku untuk maju pesat. Dominasi wanita atas pria adalah hal biasa. Namun ketika menyeruaknya gejala dirasa “kelewatan”, jadilah pembicaraan. Sebagai suatu karya film, Games menyisir rinci subtema ini. Diolah dalam tatanan komedi, diperkaay dengan dialog-dialog menyindir namun penuh arti.

Sentral cerita adalah Laura Bentells (Loretta Swit), seorang eksekutif wanita, berniat meniti karier setinggi langit di dunai bisnis. Padahal, belantara bisnis Amerika sudah “dikausai” kaum pria. Kalaupun ada wanita, pasti punya kemampuan luar biasa, yang harus menerobos segala perilaku dan “gaya permainan” pria.

Demikian halnya Laura. Di tingkat eksekutif ia harus berhadapan dengan tema pembicaraan dan perilaku yang serba pria. Acara makan siang, olahraga, atau tanda-tanda kelas profesi lainnya. Untung David (Sam Waterston), suaminya, penuh pengertian dan dorongan. Maklum saja ia seorang seniman patung dan lukis yang nyambi ngajar teori seni rupa, yang tak seberapa peduli akan kehidupan modern beserta mekamurannya.

Ia ikut saja ketika diajak istrinya pindah ke New York (sebelumnya tinggal di Los Angeles) demi karier yang lebih baik. Ia juga menanggapi biasa ketika menangkap rasa frustrasi di sela-sela cerita sukess istrinya. Laura, antara lain harus belajar main tenis dan squash, karena lingkungan kerjanay menghendakinya. Namun sehebat-hebatnya ia main, tak boleh mengalahkan atasannya lantaran “etika hubungan kerja” mengharuskannya begitu.

TAK URUNG kesibukan Laura di luar rumah berpengaruh pada hubungan dengan suaminya. Apalagi belakangan, tangga sukses tak lagi menanjak, dan karya David yang dipamerkan hanya laku 1 biji. Keduanya harus sadar, keberuntungan tak selamanya menaungi. Upaya memberi warna dan sentuhan kewanitaan pada kancah bisnis yang dikuasai kecongkakan kaum laki-laki, tak sepenuhnya berhasil. Namun Laura tak menyerah, karena keterlibatannya adalah keseharusan.

Games memang sebuah keseharusan. Bahkan keharusan. Dominasi laki-laki di belantara bisnis Amerika tak lagi bisa dibiarkan. Permainan – mereka mengistilahkannya begitu – harus dilunakkan. Putusan-putusan yang murni berorientasi pada keuntungan, harus lebih dikendalikan. Wanitalah yang bisa melakukannya, yang bisa memberi alternatif lewat pendekatan yang lebih humanistis.

Games memang berisi gugatan. Laura Bentells, pelakunya, sangat mantap diperankan Loretta Swit. Aktris ini kendati di sini tak seberapa diakrabi, pernah meraih anugerah Emmy atas keterlibatannya dalam seri TV M*A*S*H (di Indonesia kemudian diputar SCTV-red).

Sementara Sam Waterston, pemeran suaminya, cukup kita kenal lewat film-film Oppenheimer, The Great Gatsby (1974, versi baru dari judul sama produksi 1949), juga film nominator Oscar Hannah and Her Sisters (1986). Namun yang paling mudah diingat adalah perannya atas tokoh Sidney Schanberg, wartawan koran ‘New York Times’ yang meliput konflik Kamboja dalam The Killing Fields, film peraih 3 Oscar dalam Academy Awards 1984.

Ditulis oleh: Slamet Riyadi

Produser: Tristine Rainer dan Andrew Gottlieb, CBS Entertainment

Sutradara: Lee Phillips

Cerita/skenario: Liz Coe

Masa putar: 96 menit

Batas usia: 17 tahun ke atas

Dok. Citra – No. 120/III/15-21 Juli 1992, dengan sedikit perubahan 

 

Komentar

Postingan Populer