KRISNA PURWANA: "KEBETULAN" (BURSA KOMEDI, RCTI/SCTV - SABTU, 23 MEI 1992 Pk: 18.00 WIB)

 
KRISNA Purwana bisa dibilang identik dengan dunia lucu-melucu. Buktinya, meskipun di lingkungan keluarga sendiri dia dianggap tidak lucu, perjalanan profesi yang digelutinya sampai menjadi penyiar radio Prambors Rasisonia, berkisar di situ-situ saja. Acara yang dipandu selama 3 jam setia phari pun diarahkan ke sana. Padahal, dia mengaku, “Lucunya kebetulan saja. Selebihnya, bonus,” akunya. Bonus lain ada di halaman 9 (Bintang No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992).

DI HADAPAN ISTRINYA, KRISNA SAMA SEKALI TIDAK LUCU

 


LOMBA, LUCU. Belakangan (ketika itu) ini, wajahnya kerap muncul di layar kaca RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Lewat acara Bursa Komedi, dia seakan-akan tampil seperti yang punya ‘gawe’. Padahal, pemunculannya itu, Cuma sekadarnya saja. Artinya, seperti juga yang lain, dia hanya berperan seperti yang diinginkan sutradara.

“Itu bukan acara saya. Saya diajak,” katanya. Boleh jadi, keterlibatannya di acara yang maunya lucu ini, lantaran dia begitu dekat dengan persoalan dengan dunia lucu-melucu. Walaupun dirinya sendiri tidak punya modal lucu, toh sebagian orang sudah menganggap ayah satu anak ini merupakan salah satu bagian dari itu.

Dunia yang selama itu digelutinya pun di sekitar-sekitar itu. Paling tidak, hal itu sudah dimulainya sejak enam tahun sebelumnya (1986-red). Diawali oleh teman-teman yang usil, Krisna yang punya nama lengkap Krisna Purwana ini didaftarkan sebagai peserta lomba humor mahasiswa. Dia sendiri merasa aneh, karena untuk pertama kali humor dilombakan.

“Saya dijailin teman-teman. Kartu mahasiswa saya dicuri,” akunya. Meski teman-temannya bilang itu bisa dilakukannya dengan sukarela – artinya kalau mau dia bisa naik panggung, kalau nggak siap dia boleh mundur – toh juara kedua akhirnya jatuh padanya.

 








Dari iseng-iseng itu, yang kemudian disebutnya sebagai kebetulan, dunia rekaman dan main film dirambahnya. Nya Abbas Akub “menemukannya” saat dia mengikuti acara pembacaan humor oleh Lembaga Humor Indonesia di Taman Ismail Marzuki. Sutradara itu mengajaknya main film Rojali dan Zuleha (1978) sebagai peran pembantu utama. Di tahun yang sama, dia membuat rekaman Yang Muda Yang Bercanda dan Canda Dalam Ronda bersama G.M. Selo dan Iwan Fals.

Setelah itu meman gbelum jelas aktivitas yang digelutinya (sampai saat itu). Sampai suatu waktu, secara kebetulan seorang sahabatnya mengajak siaran di Radio Bahana untuk memandu acara Bahana Job.

Masih iseng-iseng pula, acara itu tidak diasngkanya mendapat tanggapan dari pendengar. Ya, jadilah dia seorang penyiar, yang kemudian cuma setahun (1985) dirasakannya di Radio Bahana. Kalau kemudian sampai saat itu (1992) dia masih setia mengawal caara Porsi Kamu di Radio Prambors, itu juga diperolehnya secara kebetulan.

Sys NS, salah seorang penyiar radio anak muda itu, mengajaknya dalam acara Sersan (Serius Tapi Santai) Prambors. Dengan modal sedikit yang itu pun tidak diakuinya menjadi miliknya, dia bergabung dengan Sys dan Pepeng. “Kalau sendiri asya tidak berani. Mereka bukan pelawak. Mereka sama seperti saya, sama-sama bukan pelawak. Kalaupun saya lucu, itu bonus,” paparnya.

Kemudian dia tampil sebagai pemeran utama dalam Anunya Kamu (1985) arahan sutradara Bay Isbahi – dalam versi kaset dan layar lebar – dan Sama-Sama Enak (1987) karya sutradara film-film kocak Arizal. Bersama Sersan Prambors, dia juga melahirkan rekaman Humor Segala Bangsa. Apakah Krisna lucu? Dia sendiri mengaku tidak. Jangan heran kalau dia enggan disebut pelawak atau humoris.

“Sebetulnya mau… kalau saya sanggup. Tapi berat. Karena tugas pelawak itu harus melucu. Saya banyak gemetarannya. Saya lucunya tempo-tempo saja. Kalau lagi dating lucunya ya lucu. Lawak khan perlu spontanitas. Saya agak sulit. Kalau di radio berani, karena nggak dilihat orang,” akunya. “Kalau enggak lcuu, namanya kerja bengkel,” tambahnya sambil terkekeh.

Kesan memang nampak selalu lain daripada yang sesungguhnya, seperti juga yang dialami Krisna ini. Paling tidak, itu ditemuinya leawt ibu-ibu yang menganggap dirinya bisa menghibur orang-orang yang berada di sekelilingnya. Mertua, miaslnya. “Aduh jeng, enak ya punya menantu Krisna, ketawa terus.” Padhaal, di rumah saya sudah kayak patung, ibu saya saja bingung,” katanya.

Lalu, apa sebenarnya yang dimilikinya? Menjaga proses kebetulan yang selalu mengiringi langkahnya itu barangkali yang dipunyainya. Jangan heran kalau kemudian dia sering mendapat tawaran hanya karena dia memang selalu menjaga tanggung jawab yang diberikannya itu. “Pada saat itu, saya harus mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan itu. Di situlah adanya saya.”

Tapi bukan lantas dia mengabaikan dunia melucu. Karena, “Melawak sudah mulai dihargai. Dulu (jauh sebelum 90an-red), kalau melucu bersifat fiisk. Sekarang (1992-red) sudah ada bentuk-bentuk baru. Coba lihat seorang ‘designer’ Robby Tumewu dan penyanyi wanita Titi DJ yang sudah mau melawak lewat Lenong Rumpi,” jelasnya (waktu itu).

Membandingkan dengan rekan seprofesinya, yang diakuinya memiliki karakteristik sasaran yang berbeda, Krisna bilang, “Melawak itu seperti toko, yang masing-masing berbeda yang ditawarkannya. Sogo lain dengan Pasar Induk. Kalau saya melawak di kampung, bisa disambitin orang.”

Kalau persoalan hidup yang dihadapinya selalu tidak serius, barangkali cuma ketika mendapatkan seorang istri saja yang dilakoninya dengan serius. “Saya nguber dia serius,” ujarnya. Hasil perkawinannya dengan Diah Setiowati (saat itu) sudah membuahkan Anas Abi Hamzah (waktu itu) 3 tahun.

Di hadapan Didiet – panggilan istrinya – Krisna memang tidak lucu. Buktinya, ketika seluruh penumpang mikrolet – yang kebetulan mendengar acarnya – tertawa, cuma istrinya yang mengatupkan mulutnya. Hehehe. Ini baru lucu ya, Kris.

Ditulis oleh: Rohadi

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer