KOMENTOR: SINGKAT KATA, RCTI GABUNG SAJA SAMA TVRI
BOSAN. Rubrik Selingan Musik RCTI, semula cukup menghibur.
Tapi, lama-lama membosankan. Apalagi kemunculan penyanyi plus lagunya tanpa
keterangan. Beruntunglah, orang mengenal Rick Astley yang setiap hari muncul
UNGGUL MATERI, KURANG SIMPATI. Siaran RCTI (Rajawali Citra
Televisi Indonesia) memperlihatkan keunggulan materi. Pilihan penyajian film
seri, film kartun, dan terlebih lagi film “cerita”. Ditambah dengan acara
musik, pemanjaan rasa ingin tahu calon pelanggan bisa terayu.
Variasi acara olahraga juga memberi kesempatan mengulang apa yang (sampai saat itu) pernah didengar. Lebih dari itu semua, sajian gambarnya betul-betul prima. Dari segi materi, TVRI (waktu itu) akan tetap terengah-engah menyamai penyediaan yang sama. Namun, keunggulan materi tidak dengan sendirinya menjadi pilihan utama. Dalam kasus RCTI justru sebaliknya. Simpati penonton (sampai saat itu) makin berkurang.
Pendekatan cara penyusunan acara yang selama itu dilakukan, tetap menganggap sepi kehadiran penonton. Bukan hanya jam siaran atau materi yang meleset jauh, seperti Family Ties misalnya, tapi bahkan Sekilas Musik RCTI yang menjadi selingan, menjadi bagian yang membosankan. Belum lagi iklan pelayanan sosial, yang itu-itu melulu, dengan pengulangan yang tak tahu waktu.
Momentum RCTI sebagai pilihan utama telah digugurkan sendiri. Kesempatan emas yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya, tak mencapai sasaran. Kekeliruan RCTI sederhana, tidak menggubris siapa penontonnya. Meniadakan target yang diraih. Kalau saja hanya ini sasarannya, pastilah iklan pun akan teraih, sebagian besar.
MINUS. Serial drama Family Ties, belakangan itu dinormalkan
jadwal siarnya, Jumat, pukul 18.00 WIB. Tapi pada 10 Maret 1989, nongol di
tengah malam pukul 24.00 WIB, sama dengan beberapa saat sebelumnya. Bahkan
pernah terjadi, seminggu 2 kali siar. Sudah begitu, kemunculannya minus teks.
(Anggapan pihak Monitor waktu itu) terlalu banyak orang Jakarta mengerti bahasa
Inggris, rupanya.
Kalau berkutat dengan jadwal saat ‘break’ yang diisi pengulangan, hasilnya lebih buruk dari yang diduga. Laporan perkembangan RCTI yang (waktu itu) bakal mempunyai “salah satu studio terbesar di dunia”, atau juga “menemui pelanggan ke 80.000”, terlanjur menimbulkan kesan membela diri. Lepas dari betul atau dibetul-betulkan.
Kekeliruan RCTI adalah dalam meraih simpati, menimbulkan kepercayaan pada masyarakat penontonnya. Citra seperti ini, memerlukan waktu dan tenaga yang lebih lama lagi untuk mengembalikannya. Kita bisa mengembalikan kepada alasan belum siap, kita bisa mengembalikan kepada tidak becusnya bagian ‘programmer’, atau bahkan “ahli dari Amerika”, atau semuanya.
TUMPUL MATERI, MENANG SIMPATI. Sebaliknya, TVRI justru tampil menonjol 1989 ini. Materi siaran yang selalu ketinggalan, dicoba ditanggulangi dengan proyek kilat. Sajian berita dan sajian kata, dibentuk menjadi visual. Bahkan lebih dari itu, acara sebelum pukul 21.00 pun (belakangan itu) direbut. Lebih bahkan lagi, TVRI Programa 2, menabrak dari sisi lain.
Sempurnalah sudah penajaman memperebutkan penonton potensial untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. TVRI memberikan alternatif dari dirinya sendiri. Memberikan tampang yang lain, juga mencoba pendekatan dunia hiburan.
Tapi sejak awal, materi siaran TVRI makin terlihat tumpul. Penambahan jam siaran makin membuat kedodoran alam pola penyajian, dalam susunan acara. Belum pernah (sampai saat itu) siaran TVRI begitu kacau seperti minggu-minggu pertama dan kedua bulan April 1989 ini. Kalau biasanya ada perubahan satu atau dua, (belakangan itu) agaknya bisa terjadi hanya selang beberapa jam.
Simpati penonton yang (waktu itu) mulai mengisi “surat pembaca”, yang sungguh merupakan prestasi tersendiri berhasil dimenangkan, bisa-bisa makin menenggelamkan jika berbalik arahnya. Tradisi yang dibangun puluhan tahun dengan tontonan hanya dibayar iuran yang relatif terjangkau, bisa kacau.
Kalau dalam waktu singkat ini TVRI tak kembali ke dalam kondisi sebelum adanya siaran TVRI Programa 2 – yang terlihat justru menghindari acara hiburan, ini aneh – kepercayaan masyarakat melengkung kembali ke titik nadir. Maish akan ditonton (waktu itu), akan tetapi sebagai media pemerintah, kehabisan wibawa.
UNGGUL MATERI, MERAIH SIMPATI. Satu pikiran nakal berbunyi:
bagaimana jika RCTI bergabung saja dengan TVRI? Bukankah selama itu
pengelolaannya juga mestinya begitu? Taruh saja namanya TVRC atau RCTV, dua
kelemahan utama yang dimiliki masing-masing bisa dihapus. Dua keunggulan (waktu
itu) masih bisa dimunculkan. Siaran tak lagi terbatas, materi cukup bagus,
iklan bisa diatur. Semangat baru (waktu itu) digabung dengan pengalaman puluhan
tahun.
Kalau bisa begitu, kita juga yang (waktu itu) akan lebih diuntungkan, dimanjakan, dirajakan. Bagaimana RCTI dan TVRI saling berbagi untung atau rugi, bisalah diatur. Kalau RCTI lebih banyak dirugikan dari segi materi, ladang usaha lain (waktu itu) masih terbuka.
Hitung-hitung yang ini buat amal, sekaligus meninggikan simpati, usaha besar di bidang yang lain. Yang mungkin saja (perkiraan waktu itu) bisa dilakukan, mengingat terobosannya dalam bidang komunikasi yang selama itu kelihatannya tertutup, kemungkinannya (kala itu) itu saja. Singkat kata, lebih mudah diomongkan, juga lebih mudah dilakukan, kalau berkenan.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar