KOBOI (KOMEDI BOCAH INDONESIA, INDOSIAR): "BER-'SETTING' ALAM BEBAS"
MAU tidak mau harus diakui, televisi berpengaruh pada perkembangan pendidikan anak (era itu). Pertama, anak-anak (era itu) mempunyai kepekaan tinggi dalam menyerap unsur dari luar dirinya. Kedua, anak-anak (era itu) bisa dibilang sebagai pengkonsumsi acara televisi terbesar (waktu itu). Begitu pendapat Haryono, produser film dari PT Young Romeo Film. Masih menurutnya lagi, program televisi bagi anak-anak (era itu) dirasa sangat kurang.
Kalaupun ada, (waktu itu) masih produksi luar negeri. Sedikit sekali acara lokal anak-anak di televisi (waktu itu). Berangkat dari landasan ini, di samping anjuran pemerintah untuk memproduksi tayangan lokal, maka PT Young Romeo Film pada bulan Februari 1997 ini, menghadirkan sinetron anak berjudul KOBOI (Komedi Bocah Indonesia) dalam 52 episode, dan (waktu itu) akan ditayangkan di Indosiar.
“Tahap pertama akan dibuat sebnayak 26 episode. 26 episode berikutnya akan diproduksi dengan mempergunakan teknologi 3 dimensi,” ungkap Imran Rani, sutradara KOBOI, hari Selasa (18/2/97) lalu di restoran Paramon, Cikini, Jakarta Pusat.
KOBOI (waktu itu) akan mulai diproduksi pada bulan Februari 1997, dengan memilih ‘setting’ lokasi di hutan, perkampungan dan segala essuatu yang menghadirkan suasana alam bebas. Itu dimaksudkan untuk menampilkan potret pemandangan alam kepada anak-anak (era itu). Selain itu, KOBOI juga (waktu itu) akan melakukan syuting di Amerika.
KOBOI (waktu itu) diharapkan bisa ikut serta mengisi kelangkaan tayangan anak. Tak berlebihan bila melihat dana sebesar 4 milyar rupiah untuk 52 episode. KOBOI didukung oleh beberapa bintang cilik seperti Banny Matondang, Ayu Winda, Rendy, Ika Tamiya, Karto Cilik, Lia Waode, Dessy Soeroso dan pelawak Otong Lenon.
Pada episode pertama, KOBOI (waktu itu) akan mengangkat khayalan anak yang sering meniru kehebatan Ksatria Baja Hitam, Doraemon (keduanya diputar di Indonesia lewat RCTI-red), dan tokoh dalam film anak lain, yang mernagsang fantasi. Sedang episode kedua mengangkat keluarga Bhinneka Tunggal Ika. Di sana menampilkan kelaurga orang Tegal, Padang, dan Betawi. Para pemain (waktu itu) akan mengenakan kostum seperti dalam ‘western’.
Ditulis oleh: Teguh Yuswanto
Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar