KENIKMATAN SOPHIA LATJUBA

 


SETELAH hampir dua minggu menunggu, pertemuan pertama dengan Sophia Latjuba akhrinya diputuskan di Hotel Borobudur, Jakarta. Itu pun masih di sela-sela kesibukannya mengikuti syuting Rocket, acara musik RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Malam itu, tubuhnya yang sintal – dengan tinggi 172 dan berat (waktu itu) 53 – dibalut rok mini warna coklat muda. “Kita hanya diberi waktu untuk ‘break’ sekitar 30 menit,” pesannya.

Sophia memilih duduk di sudut Pendopo Bar. Dipesannya segelas ‘lemon tea’. Sebentar-bentar matanya menatap ke arah kolam renang. “Saya suka pergi ke laut. Pokoknya, kalau berada dalam air itu nikmat. Wajar, kalau lantas memilih berneang untuk menjaga stamina tubuhnya.” Ingat keindahan wanita, ingat Sophia. Wajahnya meman gmengundang untuk menjadi model iklan, atau setidaknya hanya sekadar dipandang.

Semuanya terjadi karena kebetulan. Berawal ketika pertama kali datang ke Indonesia, 1987. Sophia mendapat tawaran untuk menjadi model iklan. “Sebenarnya, niat saya berlibur ke Indonesia menjenguk nenek.”

Pepatah “Jangan menyia-nyiakan kesempatan” diterapkan Sophia. Dan – benar -1990 bukan sekadar jadi bintang iklan, sejumlah film juga dibintangi. Bilur-Bilur Penyesalan, film pertama, 1988. Menyusul film Setegar Gunung Batu, Ketika Cinta Telah Berlalu, Rio Sang Juara, juga Valentine.

Film terbarunya (kala itu) yang (waktu itu) sedang beredar, Pengantin. Di film terakhir ini, diharapkan (waktu itu) mampu untuk mengatrol Sophia dari segi akting. “Pertama kali mendapat tawaran utnuk main dengan kemampuan akting saya. Tapi mama mendorong untuk mencobanya.”


Pembicaraan terhenti. Seorang laki-laki muda (era itu), dengan potongan rambut sebahu mendadak menghampiri. Sofi tampak menyambut dengan hangat. “Dia laki-laki yang saat ini (1990-red) menjadi teman dekat saya. Saya suka dia, karena selain bisa ngerti sikap saya, dia juga sangat memperhatikan saya.” Laki-laki itu bernama Dayan.

Lahir di Berlin Barat, 8 Agustus 1970. Masa kecilnya dihabiskan di Jerman, sampai usia 16 tahun. Meskipun lahir sebagai anak tunggal, sikap mandiri sudah tertanam sejak kanak-kanak. “Saya boleh melakukan apa saja yang saya suka. Mulai dari les piano, dance, nyanyi. Pokoknya apa sjaa. Masa kecil saya menyenangkan sekali,” kenangnya.

Termasuk kenangan akan cinta pertamanya. “Tapi waktu itu pacarannya cuma gitu-gitu. Maksudnya, hanya terbatas makan bersama, nonton, atau sekadar jalan-jalan,” ujarnya tersipu. Dia lantas harus meninggalkan pihak Bintang untuk kembali pada kesibukan syutingnya. Malam makin larut, Hotel Borobudur tampak semakin meriah.

 


HARI kedua pertemuan, Minggu, udara Jakarta cukup cerah. Kulit Sofi yang mulus nampak sedikit terbakar. Tubuh indah yang ditutup dengan baju renang mengundang perhatian banyak orang. Siang itu, kegiatan syuting memang berlangsung di kolam renang hotel berbintang itu. “Kita sambil makan siang yuk,” ajaknya.

Penggemar spaghetti dan tempe ini kembali berceloteh tentang sejuta pengalamannya. Juga tentang perlakuan teman-temannya ketika pertama kali datang ke Indonesia. “Saya dikerjain waktu pertama kali masuk SMA 3, Jakarta. Saya sempat kaget, apa-apaan ini? Di Jerman, tidak ada yang namanya senior harus memperlakukan junior seenaknya.”

Buntutnya, setiap pulang sekolah selalu menangis. Apalagi ketika ban mobilnya dikempesin. “Hampir saja saya tidak mau sekolah.” Namun, perlahan-lahan, Sofi mulai mengerti. Setidaknya, mau memahami sikap masyarakat Indonesia, biarpun sampai saat itu (1990-red) masih ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti.

“Mulut orang Indonesia!,” katanya tegas. Apalagi ketika orang lain mulai menggunjingkan dirinya. “Kok mau-maunya mereka mengurusi orang lain? Mau kita kumpul kebo, ngeganja atau apa saja, seharusnya mereka tidak perlu ikut campur! Saya suka sedih saja kalau mulai diomongin. Akhirnya sekarang (1990-red) saya bersikap cuek!”

Sophia berpendapat, hubungan seks di luar nikah tidak dilarang. “Semua tergantung dari masing-masing pribadi. Jadi, kita tidak bisa memvonis begitu saja bahwa kumpul kebo itu jelek. Kalau menurut orang yang melakukan baik, kita mau ngomong apa?” Barangkali lantaran ucapannya ini, bagi yang tak tahu (atau yang betul-betul tahu?), Sophia (waktu itu) bisa “dicoba”, selain (kala itu) banyak punya pacar.

Sophia sadar betul, kondisi yang dia gambarkan tersebut tidak bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Bukan berarti Sofi penganut kebebasan. Niatan untuk mempunyai sebuah kelaurga sudah mulai terpikirkan (waktu itu). Perkawinan, katanya adalah sesuatu yang sakral dan terjadi satu kali dalam kehidupannya. “Saya tidak ingin ada perceraian nantinya!”

Hanya saja, untuk mewujudkan angan-angan itu memang (waktu itu) masih jauh. Masih ada hal lain yang saat itu lebih diidamkan oleh penggemar warna hitam ini. “Dalam waktu dekat saya mau melanjutkan sekolah lagi. Saya ingin mengambil jurusan antropologi.” (Di kesempatan lain dia bilang: jurusan arkeologi).

Atau lebih memantapkan dirinya di dunia tarik suara. “Untuk soal menyanyi, sejak kecil sudah terbiasa menjadi penyanyi gereja. Jadi, bukan karena saya jadi model lantas ikutan nyanyi.” Terlepas dari kecantikan yang dimiliki, album-album Sofi yang dilempar ke pasaran konon cukup meledak.

“Saya melakukannya dengan kecintaan. Bukan sekadar cari duit,” ujar bintang iklan yang (waktu itu) punya honor 20 juta rupiah ketika menjadi model salah satu produk kecantikan.

Ditulis oleh: Henny Eko Lestari


(Memandang Sophia Latjuba

Seperti mengenang tembok Berlin

Kokoh dan kekar

Seperit tak pernah bisa dibongkar

Ada pembatas dua dunia

Ada pendapatnya yang berbeda)

 

Suatu malam

Kamu datang

Kita pun bersalaman.

Karena kamu dari Jerman.

Aku pun mengucap salam:

“’Wie gehet es dir’..”

Tapi kamu teap diam

Mungkin lafalku kurang benar

Mungkin suaraku tak kau dengar.

 

Bukankah kebetulan

Kini aku dengar kau menyanyi

Bukankah kebetulan

Kini kau mendendangkan suara-suara asmara

Setelah kondang jadi model

Setelah tenar main film

 

(Menatap mata Sophia Latjuba

Berharap ia ibarat tembok Berlin

Kokoh dan tegar

Tapi belum lama ini dibongkar.

Yang ada tak hanya dua pikiran

Yang ada tak hanya dua dunia

Tapi ada yang lantas mempersatukannya.

Yang ada tak semata dua pendapat

Atau tiga atau empat

Tapi ada yang lantas bikin sepakat

Yang satu memaklumi yang lain

Yang lain memaklumi lainnya lagi

 

Berhadapan dengan Sophia Latjuba

Seperti dikelilingi sebuah tembok

Yang runtuh

Tapi terasa

Ada yang kukuh


Lensa: Erwin Arnada

Prosalirik: Veven Sp Wardhana 

 

Dok. Bintang – No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer