KARENA HPS SEMEN, RIO KEMBALI MENANG (TAK TIK BOOM, RCTI - JUMAT, 14 JULI 1995 Pk: 19.30 WIB)

 MENANG. Rio menang karena HPS Semen.

HADIAH, HALILINTAR. Minggu kedua Juli 1995 ini, Rio yang insinyur kehtuanan dapat penantang baru. Kali ini teman satu almamaternya. Memang baik Rio atau Utami Sutedja yang akrab dipanggil Uut, lulusan dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Tapi biar sama-sama dari IPB, di sini mereka terpaksa bersaing. Masing-masing tentu ingin menang. Tapi rupanya, Uut bukan lawan yang cukup tangguh bagi Rio.

Makanya, hadiah Rio pun bertambah 300 ribu lagi. Lalu masih bertambah lagi di babak bonus. Di babak itu Rio berhasil menambah setengah juta rupiah lagi. Tapinya, seperti peserta-peserta lain, hadiah babak bonus pun bukan hasil dari Rio seorang, melainkan kerjasama dengan saudara-saudara Rio yang hadir di studio sebagai suporter.

Untuk pembukanya saja, adik Rio yang ditunjuk membantu, sudah membuka peluang dengan mendapatkan Tik. Ini jadi suatu permulaan yang baik, kalau nantinya nggak ketemu Halilintar. Begitu juga saat saudara Rio yang lain ikut mengumpulkan angka. Di babak Megabonus, Rio yang memilih monitor 6 kembali mendapat hadiah satu setengah juta rupiah. Jadi, total nilai yang diperoleh Rio menjadi dua juta seratus ribu, ditambah satu buah tempat tidur.

Untuk menguji kehebatan Rio, didatangkan lagi penantang baru, juga seorang insinyur. Susilo Cahyono yang asli Kudus itu, diharap bisa mengalahkan Rio. Menggantikan posisinya minggu berikutnya. Tapi Rio tentu masih ingin mempertahankan penampilannya. Makanya dengan Susilo pun Rio tetap menang. Padahal, kemenangan Rio justru karena hal sepele saja. Itu lho, karena Susilo ternyata nggak tahu, apa itu kepanjangan dari HPS semen.

Susilo yang waktu itu memilih monitor bidang ekonomi menyebut harga patokan setempat. Padahal yang benar harga pedoman setempat. Gara-gara HPS semen itulah, uang hadiah pun bertambah 300 ribu lagi. Makin banyak. Sayangnya, di babak bonus Rio kepergok dengan Halilintar. Untuk penampilan Rio yang ketiga, (saat itu) sudah datang lawan baru lagi. Kita (waktu itu) tunggu saja.

Ditulis oleh: Turlukitaningdyah

Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer