KAMPANYE KEBUDAYAAN SEPEKAN SINETRON TVRI PALEMBANG
YANG pasti, penyajian sepekan sinetron ini sama sekali tak ada hubungannya dengan pemilu. Kalaupun ada, paling sebatas kampanye. Itu pun sama sekali tak ada kaitannya dengan partai manapun.
Kampanye ini adalah kampanye kebudayaan yang dikemas dalam bentuk sinema elektronik alias sinetron, yang agaknya (waktu itu) makin mencuat sebagai primadona tayangan layar kaca. Setidaknya, begitulah niatan Drs. Fachruddin Djamil, kepsta TVRI Palembang, dalam sambutan tertulisnya yang termuat di buku panduan sepekan sinetron TVRI Stasiun Palembang.
Citra tentu sangat mendukung niat luhur ini. Hasil kerjasma ini, memungkinkan Anda semua, pembaca Citra di seluruh Indonesia, dapat menyimak seberaap jauh kemajuan yang dicapai oleh stasiun di daerah dalam mengembangkan kreativitas dan potensi budaya yang terkandung. Selain itu, Anda pun dapat turut menilai mutu dari tema cerita di bawah ini untuk emudian mereka-reka sinetron mana yang menurut penilaian Anda paling baik.
Hasil penilaian Anda, selain merupakan sumbangan berari bagi kemajuan persinetronan di daerah (khususnya TVRI Palembang), sekaligus juga dijadikan kuis berhadiah. Nah, (pihak Citra waktu itu mengucapkan) selamat menilai, mereka-reka, dan menonton (bagi Anda yang – waktu itu – di Palembang).
Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi
LAGU SEBUAH PERKAWINAN: “MEMINTAS CITA-CITA DEMI ORANGTUA” (TVRI PALEMBANG – RABU, 3 JUNI 1992 Pkl: 22.40 WIB)
PERKAWINAN Burhan dengan Aminah sungguh kering. Tak ada cinta di hati Burhan buat Aminah. Ia mau kawin dengan Aminah lantaran memenuhi permintaan kedua orangtuanya.
Maka perkawinan itu pun menjadi pisau yang mengiris cita-cita Burhan untuk menjadi sarjana pertanian, sekaligus mengoyak kisah kasihnya pada Yanti, pacarnya di kota. Burhan kecewa berat karena mertua dan orangtuanya tak mengizinkannya meneruskan kuliah. Tak tahan dengan kekecewaan, ia pergi ke kota dnegan mengabaikan sang istri.
Di kota ia pun tambah kecewa karena Yanti telah bersanding dengan lelaki lain. Semangat meneruskan kuliah pun berganti dengan mabuk-mabukan. Balik ke desa, ia disadarkan oleh wejangan dari pak Arifin, gurunya di SMP dulu. Dengan kesadaran baru, Burhan mengolah tanah pertanian sambil menjadi guru SD di des aitu. Aminah pun semakin sering mandi basah dan tampak sumringah ketika minta diantar ke Puskesmas untuk periksa kandungan.
Pemain: Ficks Damas (Burhan), Rozzy Sakaria (Aminah), Susy Djalil (Yanti), Busroh Rivai (mertua), Abah Mamad (bapak), Lala (ibu)
Skenario: Toton Dp
Pengarah acara: Indarawazie Basroni
LANGKAH-LANGKAH TENGAH MALAM: “JANDA GENIT SUMBER PETAKA” (TVRI PALEMBANG – KAMIS, 4 JUNI 1992 Pkl: 23.10 WIB)
SUNGGUH ini mungkin cerita yang jarang terjadi dalam
kenyataan sehari-hari. Alur yang terbungkus misteri, menjadikan sinetron ini
bisa memancing rasa penasaran pemirsa. Adalah cek Mina, janda cantik dan genit
yang sehari-hari membuka warung kopi untuk menutupi kebutuhan hidupnya bersama
Udin, anaknya semata wayang.
Kecantikan dan keramahan cek Mina tidak saja membuat para pengunjung (yang sebagian besar lelaki) betah dan akhirnya menjadi pelanggan, tapi sekaligus juga membetot sukma mereka untuk kemudian kesengsem padanya. Kematian Kadir yang disusul kemudian dengan matinya Somad, dua-duanya pelanggan yang naksir cek Mina, membuat para penaksir lain ‘mengkeret’.
Misteri mulai digelar, siapa pembunuh kedua orang itu? Para intel dari kepolisian mulai turun tangan. Namun, sang pembunuh misterius tak juga ditemukan. Sampai kemudian sebuah perangkap yang dipasang Rahman, intel yang menyamar jadi sopir oplet dan naksir cek Mina, berhasil mengungkap misteri ini.
Pemain: Elly Rud Y(cek Mina), Arif Permana (Udin) dkk
Skenario: Toton Dp
Pengarah acara: Alfriadi
KECOAK-KECOAK MALAM: “BAGI YANG TAK KUAT, KEMISKINAN MEMANG LAKNAT” (TVRI PALEMBANG – JUMAT, 5 JUNI 1992 Pkl: 22.40 WIB)
MARYATI adalah wanita jalang yang semula bernama Rohana. Lewat kilas balik dituturkan, betpaa dulu di desa, kehidupan rumah tangganya bersama Mardi sangatlah sulit. Anjuran bertransmigrasi tak digubris Mardi. Demikian pula permintaan Rohana untuk pindah ke kota.
Kesulitan hidup menyeret Rohana berbuat serong dengan Rohim. Padhaal, waktu itu mereka telah punya anak bernama Wati. Rohim tewas di ujung belati Mardi. Akibatnya 8 tahun Mardi meringkuk di penjara, 8 tahun pula Rohana menjadi Maryati.
Dan Wati, tak keruan ujung pangkalnya. Delapan tahun setelah tragedi itu, mereka dipertemukan dalam adegan yang mengharu biru. Karena kebodohannya, tanpa disadari oleh Rohana alias Maryati, Wati yang telah menjadi gadis cilik dijualnya pada lelaki iseng. Lewat kalung yang dikenakan Wati, Mardi tahu bahwa itulah anak mereka. Mardi kalap, Rohana menjerit dalam sesal yang mengantarnya pada maut di kolong sebuah mobil yang menabraknya.
Pemain: Jibun (Mardi), Lusy Babega (Maryati/Rohana), Wati (Merry B), dkk
Skenario: Ifong SB Stmkt
Pengarah acara: R Yan Syarief
GADIS NING AYU: “CINTA GADIS KEPADA KAKAK IPARNYA” (TVRI PALEMBANG – SABTU, 6 JUNI 1992 Pkl: 22.40 WIB)
CINTA ning Ayu pada Zainudin, kakak iparnya, yang teprendam
sejak kematian kakak permepuannya, menjadikan sinetron ini berhasil mengangkat sebagian
adat yang berlaku di kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Lengketnya Sebayang, anak Burhan, pada ning Ayu, membuat Zainudin pun jatuh hati pada adik iparnya ini. Apa lacur, keduanya tak bisa berterang-terang mengungkap cinta, lantaran data menganggapnya tabu. Ada Burhan, adik Zainudin, yang juga mencintai ning Ayu, telah tamat sekolah di kota.
Ada juga Asnawi, bujang pemalas dan sok jago, yang juga mencintai ning Ayu. Asnawi adalah adik Saleha, perawan tua yang dijodohkan dengan Zainudin. Persoalna cinta asmara ini menjadi menarik karena dibumbui dengan kelicikan ASnawi dan kecemburuan Burhan pada Zainudin dan Sebayang. Di tengah situasi yang menjepit Zainudin dan ning Ayu, banyak persoalan adat yang dicuatkan.
Pemain: Yos El Yas (Zainudin), Yudhi Syarofie (Burhanudin), Lidia Sagita ning Ayu0, Yessy (Saleha), Andi Yasmin (Asnawi)
Skenario: Yos El Yas
Pengarah acara: Mayrizal Syarief
KRISTAL-KRISTAL YANG RETAK: “INSYAFNYA SEORANG WARIA” (TVRI PALEMBANG – MINGGU, 7 JUNI 1992 Pkl: 23.40 WIB)
GRACE adalah waria yang sukses sebagai perancang busana dan pemilik salon ternama. Namun, kesuksesannya tak juga membawa ketenangan batin. Sebagai waria, ia disingkirkan dari keluarga dan masyarakat tak pernah bisa menrima kehadirannya sebagai wanita. Bahkan perashabatannya yang tulus dengan Dio, pemuda korban tabrak lari yang pernah ditolongnya, telah membuat Dio menjadi bahan gunjingan sahabat dan teman-temannya.
Kondisi psikologis Grace inilah yang mungkin membuat benak pemirsa terombang-ambing antara sebel dan iba. Keinginan Grace untuk menemukan jati dirinya sebagai lelaki – setelah Dio banyak memberi dorongan – selalu terbentur pada kebutuhan biologinya dengan sesama lelaki.
Belakangan, Grace ditohok kenyataan yang menyaktikan. Ia naksir berat pada Sigit, mahasiswa dari Jawa yang tengah berlibur, yang ternyata keponakannya sendiri. Akibatnya, walaupun berat, Grace mulai mencoba berlaku sebagai lelaki sejati. Setidaknya, dimulai dari caranya berpakaian.
Pemain: Grace Djatmiko (Grace Natalia), Yos El yas (dio), Theo Ilyas (Sigit), Dadang Ramadhan (Mario)
Skenario: Yos El Yas
Pengarah acara: R. Yan Syarief
OLA KAYA HA… HA…: “MIMPI SI MISKIN YANG MENANG LOTRE” (TVRI PALEMBANG – SENIN, 8 JUNI 1992 Pkl: 22.40 WIB)
CINTA Ola pada Eha begitu besar. Masalahnya, Ola orang miskin, sedang Eha orang kaya yang akan segera dinikahkan dengan Kadir. Maka Ola pun ingin cepat jadi kaya. Tak ada cara cepat untuk kaya selain mimpi. Dan mimpilah Ola. Dalam mimpinya, abah Ola dapat lotre. Otomatis segala kesulitan ekonomi dengan mudah teratasi. Tapi untuk mendapatkan Eha, ternyata tak mudah.
Sebab, undangan pernikahan Eha dengan Kadir telah disebar. Maka Ola pun menculik Eha, atas nama cinta. Perang besar antara abah melawan ayah Eha hampir saja meletus. Dan seperti galibnya komedi situasi, hampir seluruh adegan dan dialog berwarna ceria dan kocak, walau tetap mengandung kritik sosial.
Pemain: Sumpeno Ragli (Ola), Rosy Zakaria (Eha), Yes Budaya (abah), abah Mamad (bapak), dkk
Skenario: Toton Dp
Pengarah acara: Indrawzie Basroni
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar