JENDLEA RUMAH TANGGA, FUAD BARADJA-MARIA: "BERTEMUNYA KOBOI DENGAN GADIS PENDIAM"
RESTORAN Amigos di Kemang, Jakarta Selatan, menjadi tempat paling berkesan di hati Fuad Baradja, pemeran Bondan dalam serial Jin dan Jun (RCTI).
Di situlah untuk pertama kalinya laki-laki kelahiran Solo, 27 Agustus 1960 ini, bertemu dengan Maria yang (belakangan itu) memberinya dua anak laki-laki: Adnan (waktu itu 4 tahun) dan Lutfi (waktu itu 2 tahun). Ceritanya, pada 1989, Fuad penyanyi tetap di restoran itu. Pada suatu malam Minggu, Amigos di-‘booking’ klub golf sebuah perusahaan lepas Pantai. Seperti biasa, Fuad menghibur para tamu dengan lagu-lagu ‘country’.
“Selagi menyanyi, mata saya tertuju pada seorang gadis, yang tak lain karyawan perusahaan itu,” kata Fuad. Entah kenapa, hatinya langsung berdebar. Sampai-sampai Fuad kecewa begitu para tamu pulang. “Betapa senangnya saya ketika gadis itu datang lagi bersama beberapa temannya. Ternyata, bossnya melihat saya yang selalu memperhatikan anak buahnya saat saya nyanyi. Dia langsung memberi kartu nama dan mengenalkan anak buahnya itu,” kenang Fuad.
Tidak menunggu lama, dua hari kemudian Fuad menelepon gadis yang bernama Maria itu. “Saya kaget menerimanya. Saya pikir Fuad siapa. Soalnya baru 2 minggu saya bekerja di perusahaan itu. Saya tahu, malam itu dia memperhatikan saya, tapi saya cuek saja. Saya pikir dia cuma iseng saja,” ungkap Maria yang biasa dipanggil Anti. Dari pembicaraan itu mereka sepakat bertemu pada hari Minggu di restoran A&W Blok M.
Setelah pertemuan itu mereka jadi sering berhubungan. Entah sekadar telepon-teleponan atau nonton bareng. “Saya tidak bisa menemui Anti setiap hari, karena waktu kerja kami berlainan. Dia kerja dari pagi sampai sore, sedang saya kerja malam hari. Tapi saya terus telepon dia, karena hanya atensi yang bisa saya berikan, paling hari Minggu kami bisa ketemu,” ujar Fuad.
Hubungan mereka terus berjalan tanpa ada kata cinta atau
kesepakatan untuk pacaran. “Hubungan kami seperti teman dekat saja, saling
cerita masalah pribadi. Bahkan Fuad juga bercerita, dia selalu ditekan ibunya
untuk segera menikah. Fuad memang paling senang bicara, sedang saya lebih
banyak diam,” kata Anti, kelahiran 18 Januari 1969. “Umur saya saat itu sudah
hampir 30 tahun.
Ibu saya khawatir, karena saya belum juga menikah,” jelas Fuad. Ibunya berkeinginan Fuad menikah dengan wanita yang masih ada hubungan kerabat. “Entah sudah berapa kali ibu mencoba mengenalkan saya dengan wanita pilihannya, tapi saya tidak pernah kasih respon,” tutur sulung dari 5 bersaudara, yang semuanya wanita.
Mendengar cerita-cerita Fuad, Anti memutuskan menghentikan hubungannya dengan Fuad. “Saya mengirim surat putus. Saya ingin memberi kesempatan pada Fuad agar bisa menemukan jodohnya,” kata Anti, tentang alasan di balik keputusan yang dibuatnya saat usia perkenalan mereka memasuki bulan ke-6. Fuad tidak bisa menerima.
Maka didatanginya kantor Anti. “Saya tidak mau menemui, saya pesan ke teman-teman agar mengatakan saya tidak di tempat,” kenang Anti. Fuad cuma bisa membalas surat Anti. “Intinya, saya tidak rela kalau harus putus dengan Anti,“ jelas Fuad. Setelah menerima surat balasan itu, baru Anti sadar kalau Fuad bersungguh-sungguh.
Setelah peristiwa itu, hubungan mereka semakin serius. Ibu Fuad yang tadinya keberatan dengan Anti – karena tidak ada hubungan keluarga – mulai menerimanya.
Sama halnya dengan kelaurga Anti. Mulanya mereka tidak setuju dengan pilihan putrinya. “Banyak faktor yang membuat keluarga saya tidak setuju hubungan saya dnegan Fuad,” kata Anti. Pertama, umur Anti masih terlalu muda dan usia mereka terpaut jauh, hampir sembilan tahun. Kedua, pekerjaan Fuad tidak jelas. “Dan ketiga, penampilan Fuad suka bikin ibu saya ngeri,” papar Anti. Mentang-mentang penyanyi ‘country’, Fuad selalu bergaya ala koboi.
Bukan hanya di panggung, sehari-hari pun Fuad selalu tampil dengan celana jeans, jaket kulit, dan sepatu ‘boot’. “Tulisan di jaketnya bikin ngeri seperti ‘Part Time Lovers’. Pernah suatu hari saya dan ibu yang sedang berjalan ke pasar melihat Fuad naik motor dengan mengenakan jaket itu. Ibu bilang, “Itu seperti teman kamu.” Tapi saya pura-pura tidak mengenalnya,” kenang Anti sambil tertawa. “Soalnya, saya takut ibu marah.”
Bukan Fuad kalau lantas menyreah begitu saja. Ia mengeluarkan beberapa jurus untuk bisa meluluhkan hati orangtua kekasihnya. “Ketika orangtuanya cuek saja, saya justru mendekati neneknya. Karena saya pikir, boss dari orangtuanya pastilah nenek,” jelas Fuad. Mulailah Fuad mengatur strategi. Ia mencoba mengakrabi sang nenek.
Salah satu cara dengan membantunya membuat kue. “Fuad pintar bikin kue, lho!,” komentar Anti. Dan benar saja, Fuad berhasil mendapatkan restu. “Sebenarnya bukan hanya itu, Fuad bisa meyakinkan orangtua saya kalau dia bersungguh-sungguh sama saya. Di samping itu Fuad rajin beribadah,” ungkap Anti.
“Walaupun ibu terus mendorong saya untuk menikah, tapi saya baru melaksanakannya pada 14 September 1991, setelah saya memiliki rumah di Pondok Gede,” tutur Fuad. Dari segi materi, Fuad yang saat itu berusia 31 tahun baru merasa aman setelah memiliki rumah.
Sedang dari segi mental, Fuad (waktu itu) telah siap sejak lama. “Saya merasa sudah cukup dewasa. Apalagi saya pernah jadi TKI di Arab Saudi. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama 8 tahun bekerja di negeri orang,” akunya.
MENDIDIK ANAK TANPA BANYAK MELARANG
SETELAH menikah, Fuad tidak keberatan Anti tetap bekerja. “Saya malah senang, karena ini menunjukkan kalau Anti itu wanita mandiri,” Fuad memuji istrinya. Begitu juga setelah anak pertama mereka, Adnan, lahir. Tapi semua itu ada bayarannya. Mereka tidak bisa tinggal di istana Impian mereka di Pondok Gede, Bekasi. “Kami tinggal di rumah orangtua Anti di jalan Paseban, Jakarta Pusat. Biar ada yang menjaga Adnan kalau kami kerja,” jelas Fuad.
Ini berlangsung sampai usia Adnan satu setengah tahun. “Saya minta pengertian Anti. Saya tidak larang dia bekerja. Tapi kalau yang dicari uang, saya bisa memberikan semua uang saya. Dan kalau yang dicari kepuasan batin atau sekadar ‘having fun’, apa mendidik anak kurang cukup?,” ujar Fuad. Anti mengerti. Ia memtuuskan berhenti bekerja. Sejak itu pula mereka menempati rumah Impian mereka.
“Awalnya sih saya tidak rela berhenti bekerja, karena karier saya sedang meningkat. Tapi saya pikir masa kecil anak kami hanya terjadi sekali dalam hidupnya. Kami ingin menemani mereka menikmati masa itu. Dan lama-lama saya baru merasa, ternyata apa yang saya lakukan terhadap anak saya tidak bisa dibandingkan dengan uang, berapa pun besarnya.
Gaji di kantor tidak cukup untuk membayar kebahagiaan saya mengurus dan melihat perkembangan anak-anak,” ungkap Anti. “Gaya hidup Fuad yang sederhana, membuat saya suka padanya. Hidup itu berat, jangan ditambah berat lagi,” tambahnya.
Dalam mendidik anak, Fuad dan Anti punya kesepakatan untuk tidak membebani anak dengan banyak aturan dan larangan. “Saya membiarkan anak melakukan apa saja, tapi tetap dalam pengawasan. Biar mereka menikmati masa kecil sepuas-puasnya,” kata Fuad yang disetujui istrinya. Misalnya, Fuad tidak melarang anaknya naik ke kursi wasit di lapangan badminton di depan rumahnya.
“Kursi wasit khan tinggi sekali. Tapi saya diamkan saja saat Adnan mencoba naik. Saat menaiki anak tangga pertama, saya diam saja. Sampai di anak tangga ketiga, baru saya dekati dia, tanpa berusaha melarang. Sampai akhirnya ia bisa sampai dduuk di atas. Begitu juga saat dia turun. Dengan begitu, ia punya pengalaman. Jadi, kalau besok-besok dia naik sendiri saya tidak khawatir lagi. Coba kalau saya larang, bisa saja khan dia mencuri-curi untuk naik. Lebih bahaya khan?,” jelas Fuad.
Mereka yakin, dengan membiarkan anak mencoba sesuatu sendiri, dapat meningkatkan rasa optimis dan memupuk kemandirian. “Begitu juga, kalau anak-anak saya main lari-larian, saya tidak melarang. Kalau jatuh dan luka itu wajar. Pokoknya kalau sekiranya tidak bahaya, saya biarkan saja mereka mencoba,” lanjut Fuad.
Saling pengertian dan keterbukaan yang membuat keluarga ini bisa bertahan. Karena untuk bisa hidup dengan Fuad, dibutuhkan pengertian yagn tinggi dari Anti. “Sebagai artis, Fuad sering bergaul dengan banyak wanita. Tapi saya tidak pernah cemburu,” aku Anti. Begitu juga dengan penggemar-penggemar Fuad yang sering nelepon atau kirim pesan lewat ‘pager’.
“Saya tidak pernah menyembunyikan teman, semua teman wanita selalu saya kenalkan pada Anti, saya juga selalu bilang kalau pergi dengan mereka, “ujar Fuad. “Saya tidak cemburu karena Fuad selalu jujur sama saya. Mau pergi ke mana saja dan bersama siapa, dia selalu bilang,” katanya sambil menatap mesra Fuad.
Ditulis oleh: Rommy Ramadhan
Dok. Bintang – Edisi 330/Th. VII/minggu kedua Juli 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar