JENDERAL NAGABONAR: "SI JENDERAL NAGA VERSI LAYAR KACA" (SCTV - SETIAP MINGGU Pkl: 20.00 WIB)
MENDENGAR Nagabonar, mungkin ingatan pembaca tertuju pada Deddy
Mizwar. Tidak salah. Deddy memang tampil memikat dalam film produksi PT Prasidi
Teta Film dengan sutradara M.T. Risyaf, yang meraih beberapa piala Citra di FFI
1987. Cuma, untuk serial Jenderal Nagabonar (SCTV) kali ini lain dengan
filmnya.
Serial Jenderal Nagabonar diproduksi Sanggar Pelakon milik Mutiara, Asrul Sani, serta Arswndo Atmowiloto. Skenario tetap ditulis Asrul Sani, sedang sutradaranya dipercayakan pada Mutiara Sani dan Sam Sarumpaet. Peran Nagabonar dipercayakan pada Sandy Nayoan.
“Ketika ditunjuk Sanggar Pelakon saya langsung nonton film Nagabonar berkali-kali untuk mengetahui kelebihan-kelebihan M.T. Risyaf. Dengan begitu, saya ingin serial ini nantinya tampil lebih bagus dan menarik,” ujar Sam Sarumapaet di lampung beberapa waktu sebelumnya saat awal produksi serial ini. Saat itu Sam yakin akan mampu berbuat lebih baik, apalagi ketika mengetahui Sandy Nayoan (sampai saat itu) belum pernah menonton film Nagabonar.
“Saya tidak ingin Sandy meniru gaya Deddy Mizwar. Saya ingin Sandy menjiwai tokoh Nagabonar sesuai dengan karakter dia,” ujar Sam. Sayangnya, dalam perjalanan produksi ada sedikit persoalan sehingga Sam Sarumpaet tidak mengerjakan seluruh episode yang telah ditetapkan.
Konon, Sam digantikan M.T. Risyaf. Demikian juga dengan Sandy Nayoan yang kemudian digantikan oleh Mathias Muchus. Ya, mudah-mudahan saja dengan adanya kasus ini, serial Jenderal Nargabonar tetap menjadi alternatif tontonan yang menarik. Berbeda dengan filmnya, serial ini dimulai dari Nagabonar masih muda. Sam Sarumpaet mencoba memberikan gambaran tokoh Nagabonar lebih awal.
Tokoh Naga ditampilkan sebelum eksis sebagai pimpinan copet di Medan. Di kampung halamannya, sejak remaja Nagabonar memang terkenal bandel dan suka mencopet. Berkali-kali ibunya sudah menasihati agar tidak melakukan kebiasaan buruk itu. Setiap kali dinasihati, Naga keliahtan patuh. Tapi begitu nasihat selesai, Naga kembali dengan kebiasaan mencopet.
Suatu saat, begitu melihat serdadu Jepang sedang buang hajat, kejahilan Naga muncul. Sepatu dan celana milik serdadu itu langsung diambilnya. Dengan bangga Sepatu dan celana Jepang itu dipakainya. Gegerlah masyarakat sekampung.
Mendengar dan mengetahui Naga memakai Sepatu dan celana serdadu Jepang, ibu Naga marah-marah. Dia mengira Naga mencuri lagi. Untung saja, penduduk segera menjelaskan bahwa seragam itu bukan hasil mencuri, tapi merampas dari serdadu Jepang.
Kali lain, Naga kembali membuat ulah. Ketika berpapasan dengan Ipah, gadis kampung yang ditaksirnya, Naga langsung merayu dan mengatakan ingin melamar Ipah. Dengan santai, Ipah mengatakan kalau mau melamar, langsung saja sama orangtuanya. Tanpa banyak berpikir, Naga langsung melamar Ipah pada orangtuanya.
Eh, bapak Ipah bukannya senang, tapi marah. Dia menyangka Naga sedang mabuk. Pantat Naga pun berulang kali ditendang. Mendnegar kabar “penyiiksaan” yang dialami Nagabonar, ibu Naga langsung melabrak ke rumah bapak ipah. Ibu Naga pun langsung memerintahkan Naga untuk balik menendang pantat bapak Ipah.
Rencana Nagabonar untuk menyunting ipah ditentang keluarganya, karena masih satu keluarga atau semarga. Nagabonar disarankan untuk menikah dengan Niah, yang bertubuh subur. Pilihan sang ibu ditolak oleh Naga. Lucunya, Naga menolak dengan alasan dirinya belum pantas beristri karena masih anak-anak. Lho, tadinya ngebet nikah, bagaimana sih, Naga?
Sedih pinangannya ditolak Ipah, Naga memutuskan untuk merubah nasib. Dengan bekal uang hasil penjualan sepatu dan celana serdadu jepang berniat mau pindah ke Jepang. Sayangnya, uang hasil penjualan itu, tidak berumur panjang, karena dia dikerjain Samad dan Kadir dalam berjudi. Kekalahan itu membuat Naga sakit hati dan bernait membalasnya. Makanya, ketika melihat Samad dan Kadir sedang asyik di kedeai kopi, Naga langsung melancarkan jurus copet andalannya.
Ditulis oleh: Adi Pamungkas
Dok. Bintang – Edisi 305/Th. VI/minggu kedua Januari 1997



Komentar
Posting Komentar