JENDELA RUMAH TANGGA, EDUARD PESTA SAHATA SIRAIT-GOTTINA TIAPUL TAMBUNAN: "SETELAH 3 TAHUN MENIKAH, ORANGTUA BARU MERESTUI"

 
‘WITING tresna jalaran saka kulina’. Nampaknya, pepatah Jawa ini bukan hanya berlaku bagi orang Jawa. Buktinya, Eduard Pesta Sirait, sutradara seri sinetron Keluarga Cemara (RCTI), jatuh cinta pada Gottina Tiapul Tambunan, wanita kelahiran Pangururan, 10 November 1944, lantaran seringnya bertemu. Dengan kata lain, cinta tumbuh karena seringnya berlabuh.

“Kami dulu (jauh sebelum 90an-red) bertetangga waktu tinggal di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Lalu saling mengenal dan sering bertemu. Lantas berpacaran,” ungkap Eduart pada BI (Bintang Indonesia) di rumahnya, kawasan Jelambar, Jakarta Barat.

Pertemuan antara Eduart dan Gottina bukan hanya di rumah, namun juga di kantor. Eduart, sebelum kuliah di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), sempat bekerja di PLN. Di sana, Eduart satu kantor dengan Gottina. Maka, praktis frekuensi pertemuan jadi lebih tinggi. “Pacaran zaman dulu (jauh sebelum 90an-red) tidak seperti sekarang (1997-red). Kami dulu (jauh sebelum 90an-red) paling nonton berdua dan makan bersama, itu saja sudah hebat,” ungkap Eduart (saat itu).

Tidak lama bekerja di PLN, setelah lulus SMA, Eduart keluar, sedangkan Gottina tetap bekerja di situ. Suatu ketika abang Eduart bertanya padanya, akan ke mana setelah lulus sekolah menengah atas (SMA). Kala itu, pemuda (era itu) yang lahir di Tapanuli Utara, 7 Agustus 1941, merasa bingung. Tapi meski ragu terhadap masa depan dengan memilih sekolah di bidang seni, Eduart nekad. Keputusan itu diambil lantaran Eduart terus didesak abangnya.

Tidak hanya itu, abang Eduart yang terkenal keras dan disiplin, menasihati. Katanya, hidup di Jakarta tidak boleh bimbang dan ragu dalam menentukan pilihan. Mesti cepat dan yakin. Namun ketika Eduart telah menentukan pilihannya di ATNI, tak urung abangnya kaget juga. “Kamu nanti mau makan apa kalau sekolah di situ?,” ungkap Eduard, meniru ucapan abangnya waktu itu.

Meski tak lagi sekantor, Eduart meneruskan jalinan cintanya dengan Gottina. Sayang, pilihan Eduart ke ATNI ibarat menggali lubang bagi hubungannya dengan Gottina. Orangtua Gottina jadi tidak menyetujui hubungan mereka.

Alasan J. Tambunan dan L. Pangaribuan, orangtua Gottina, bisa dipahami. Selain dianggap tidak dapat menjamin hari depan, dunia film masih dipandang remeh oleh masyarakat kala itu. Eduart tidak dapat berbuat banyak. Sebab, dia sendiri pun mengakui, menggantungkan hidup di dunia film sangat riskan. Kadang bekerja kadang tidak.

Kalaupun dapat ‘job’, honornya tidak terlalu besar. Lagipula, Eduart belum mendapat posisi yang baik. Dia baru dipercaya membereskan film dan kabel-kabel. Tapi Eduar tidak protes, kendati pekerjaan itu sebenarnya bisa dilakukan orang yang tak berpendidikan di bidang film. Sebab, sutradara sekaligus gurunya, Wahyu Sihombing, selalu mengatakan bahwa untuk mengerjakan yang besar, harus memulai dari yang kecil.

Berkali-kali Eduart menjelaskan pada orangtua Gottina bahwa dunia film tidaklah seburuk yang diduga. Namun, upaya itu tetap menemui jalan buntu. Sementara cinta Eduart tak bisa ditawar lagi. Begitu pun cinta Gottina. Mereka sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain.

“Hampir tidak ada konflik, kemauan kami hampir menyatu. Bisa dikatakan kami pasangan keaksih yang dewasa. Gottina mau mendukung idealisme saya. Begitupun saya mau mengerti dia. Hampir 100% cinta kami mulus dan cocok dalam segala hal,“ ungkap Eduart.

“Dalam berpacaran, kami tidak pernah ngomong soal cinta, sebab cinta sudah bukan persoalan lagi di antara kami, tapi pernyataan orangtua Gottina yang menentang perkawinan kami. Masih jadi persoalan,” ungkap pengagum Ali Sadikin ini.

Sebagai jawaban atas kegelisahan cinta mereka, Eduart dan Gottina melakukan akad nikah di catatan sipil pada tanggal 12 Februari 1967. Pihak memelai pria diwakili abang Eduart, sementara pihak mempelai wanita diwakili paman Gottina. Langkah Eduart mempercepat pernikahan bukan tanpa harapan. Mereka berharap, kalau sudah punya anak, biasanya hati orangtua akan mulut. Ternyata dugaan mereka meleset.

“Orangtua Gottina belum mengubah pendirian. Terbukti, ketika lahir anak kami yang pertama, Fransiska, pada 7 Desember 1967 di rumah sakit Muslimat, Jakarta, orangtua kami tidak tergugah untuk melaksanakan upacara adat,” ungkap sutradara Tinggal Sesaat Lagi (1996).

Kelahiran anak pertama ditandai kondisi perekonomian rumah tangga yang parah. Kala itu, Eduart sedang menganggur. Untuk membiayai hidup sehari-hari, mereka hanya mengandalkan gaji Gottina yang tak seberapa. Sementara biaya untuk mengurus bayi tidaklah kecil.

Tapi Eduart tidak bingung. Dia langsung menuju kantor Mirasa Sky Club di kawasan Sarinah, sebuah ‘pub’ yang biasa mempertunjukkan bermacam kegiatan seni. Di sana, Eduart menemui Ghaleb Husein dan Usmar Ismail, seniornya di ATNI. Tanpa basa-basi Eduart langsung ngomong pada mereka, bahwa istrinya (waktu itu) baru saja melahirkan.

Tanpa banyak cakap, Usmar, lewat Ghaleb memberikan uang Rp 50 ribu dan langsung menerima Eduart bekerja. Bukan main senangnya Eduart. Jalan di depan mata agak terang. Dan lebih terang lagi, ketika 3 tahun kemudian orangtua Gottina merestui perkawinan mereka dan melaksanakan pesta adat tahun 1970. Sejak itu, Eduart mulai menuai kesuksesan di bidang film dan iklan.

Ditulis oleh: Teguh Yuswanto

MEMPERCAYAKAN PENDIDIKAN PADA GURU

PADA 12 Februari 1997 lalu, Eduart dan Gotti telah mengarungi samudera rumah tangga selama 30 tahun. Banyak asin dan pahit yang telah direguk. Tak jarang gelombang menerpa kehramonisan cinta mereka. Selagi nama Eduart mencuat di jajaran sutradara yang punya sikap dan idealisme, Gottina, sebagai istri yang (waktu itu) telah lama mengenalnya, acap kali dicoba dengan selentingan yang beredar di lingkungan orang film, tentang sang suami.

Namun hal itu tidaklah mengurangi cinta dan perhatian Gottina pada Eduart. Dia menerima itu sebagai kewajaran belaka. “Dunia film memang rawan gosip. Kalau mau bebas gosip, menyingkirlah dari dunia film,” ujar Gottina. “Saya sudah kebal gosip. Rumah tangga, supaya kokoh harus saling percaya dan mengerti. Saya tidak memikirkan yang aneh-aneh. Syaa lebih berkosnentrasi pada kemajuan anak-anak,” jelas Gottina.

1997, pasangan bahagia Eduard Pesta Sahata SIrait dan Gottina Tiapul Tambunan tlelah diaruniai 4 anak. 3 dari mereka: Fransiska (saat itu 30 tahun), Ellen (saat itu 27 tahun), dan Batoan (saat itu 19 tahun) menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Sementara Hotma (saat itu 24 tahun) sedang menyusun skripsi pada sebuah universitas swasta di Jakarta.

Mempertahankan keutuhan keluarga dan mengarahkan anak-anak hingga dapat meraih pendidikan dan pekerjaan baik, tidaklah mudah. Namun hal itu dapat dilakukan dengan baik oleh pasnagan Eduart-Gottina.

“Soal pendidikan di sekolah, saya percayakan sepenuhnya pada guru. Saya tidak mau campur tangan. Saya percaya bahwa guru adalah orang yang profesional dalam mendidik murid-muridnya. Kegagalan dalam mendidik anak sekolah, acap kali karena intervensi orangtua murid dalam dunia pendidikan,” tutur Eduart menjabarkan resepnya.

Ditulis oleh: Teguh Yuswanto

“Supaya rumah tangga kokoh, kita hraus saling percaya dan mengerti.” (Eduart Pesta Sahata Sirait-Gottina Tiapul Tambunan)

Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer