JELANG TAYANG - MINISERI KEHANGATAN (RCTI): "MEMBEDAH DUNIA WARTAWAN DARI SISI KEMANUSIAAN"

 

WALAUPUN tidak bisa dibilang banyak, namun sosok wartawan (sampai saat itu) sudah berulang kali dimunculkan dalam sinetron dan film bioskop. Tokohnya pun beragam. Dari mulai wartawan budaya, kriminal, dan yang paling sering, khuusnya di sinetron, wartawan yang banyak menulis gosip.

Penggambarannya juga beraneka macam. Dari yang idealis, tidak kompromistis, lucu (untuk tidak menyebut konyol karena dikomedikan-red), hingga yang bisa disuap dengan segepok uang. Sayangnya, penggambaran wartawan dalam karya sinema ini, tidaklah menyeluruh. Hanya sekelumit, dan terpenggal-penggal.

Kehangatan, sinetron yang dibiayai oleh Surabaya Post – salah satu harian terbitan Surabaya – ini, (harapan waktu itu) mudah-mudahan bisa menampilkan profil wartawan yang tidak setengah-setengah. Separuh dari harapan ini, barangkali bisa terwujud bila menyimak ucapan Tatiek Maliyati, penulis skenario sekaligus sutradara Kehangatan (kemudian tayang di RCTI-red).

“Saya mencoba menampilkan tokoh wartawan dari sisi yang manusiawi. Bukan cuma dari sisi perjuangannya dalam memperoleh berita, tapi juga sisik melik kehidupan sehari-harinya,” ungkap Tatiek yang ditemui di sela-sela syuting di Surabaya.

Dan Tatiek – yang dalam penyutradaraan banyak dibantu oleh putranya, Jonggi Sihombing – rupanya berusaha menyajikan sinetron ini sedramtais mungkin. Bukan cuma dalam alur cerita, pengadeganan, bahkan juga dalam penokohan. Dipilihnya tokoh wanita dengan status janda sebagai tokoh wanita, barangkali salah satu kiatnya untuk menjadikan cerita ini lebih penuh warna yang dramatis.

“Wanita, dengan profesinya sebagai wartawati, secara piskologis lebih berpotensi memiliki konflik dalam hidupnya. Apalagi statusnya janda yang dalam kehidupan sosial banyak mengundang gunjingan,” ungkap Tatiek lagi.

Maka, jadilah Dewi Yull sebagai Palupi, seorang wartawati bidang kriminal di harian pagi Suara Patriot. Dia adalah janda beranak satu, yang ditinggal mati oleh suaminya yang juga seorang wartawan senior. Dari suaminya inilah Palupi banyak mendapat pelajaran yang membentuknya menjadi wartawati bersikap tegar dan mandiri.


PROFESINYA yang mengharuskannya gigih mencari berita dan supel dalam pergaulan, melahirkan banyak gunjingan dari tetangga. Ditambah dengan statusnya yang janda. Namun, Palupi menepiskan segala gosip itu dan membuktikan bahwa dia profesional dan tak sebusuk yang orang sangka. Dia pun tak melepaskan tanggung jawabnya sebagai ibu dari seorang anak berumur 5 tahun.

Sebagai wanita, bagaimanapun Palupi membutuhkan rengkuhan kasih seorang pria. Itu pun sebenarnya dengan mudah bisa didapatkan, andai saja sang pria yang bernama Himawan (Deddy Mizwar) itu mau menerima Palupi apa adanya. Sayang, Himawan tak bisa menerima profesi Palupi. Maka walaupun keduanya saling mencinta, benang asmara tak jua bisa tersambung.

Tak punya suami, namun Palupi memiliki sahabat. Guntur (Cok Simbara), adalah wartawan senior, sahabat mendiang suaminya yang juga akrab dengan Palupi. Kebersamaan dalam kerja sehari-hari, dan sikap tulus di antara keduanya, membuat persahabatan mereka sangat erat. Ini pun menimbulkan konflik dalam kehidupan rumah tangga Guntur. Itsrinya sering merasa cemburu melihat keintiman keduanya.

Singkat kata, gosip, intrik, dan segala kendala yang merintangi tekad Palupi, juga Guntur, bisa diatasi berkat kegigihan dan kekuatan iman keduanya. Dan itu semua ternyata belum mengakhiri kisah hidup Palupi yang hanya dibuat dalam 6 episode ini. Akhir kisah tetap dibuat mengambang. “Tapi bukan dibuat untuk pancingan agar diperpanjang. Kalau RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) minta diperpanjang, saya usulkan untuk membuat sinetron dengan cerita baru saja,” ujar Tatiek.

Sebagai sebuah drama, Tatiek tak mau menyatakan bahwa sinetron ini bakal menjadi luar biasa. “Saya tidak muluk-muluk. Biasa saja, sederhana saja.” Yang sederhana ini, juga menyangkut biaya produksinya. Walaupun melibatkan beberapa bintang yang bernama, dan juga memakai lokasi di Australia, ternyata menurut Tatiek, biaya produksi sinetron ini tidak terlalu mahal. Artinya, “Standar saja, untuk sinetron berdurasi 48 menit, ya biaya produksi kita seperti rata-ratalah.”

Jadi, pemain yang punya nama dan lokasi syuting di luar negeri, ternyata bukan penyebab tingginya biaya produksi sinetron.

Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi

Cerita/skenario: Tatiek Maliyati W.S.

Sutradara: Jonggi Sihombing, Tatiek Maliyati W.S.

Produser pelaksana: Ronggur Sihombing

Produksi: Surabaya Post & Studio 17

Jadwal tayang: 20 April 1995, jam 20.00 WIB

Stasiun: RCTI

Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer