JELANG TAYANG - JUSTICE BAO (PENAKLUK NAGA): "AYUNAN PEDANG KEADILAN ALA HAKIM BAO" (TPI – SETIAP SENIN SAMPAI SABTU Pkl: 18.30 WIB)
SERIAL ini bisa dikategorikan “serial sekuel”. Bila ada Superman dengan sekuel Superman II, Superman III, dan Superman IV di layar lebar, maka di layar kaca ada serial Justice Bao (5 Petualang), Justice Bao (Impian-Impian Indah), dan Justice Bao (Kepalsuan dan Kebenaran) yang (waktu itu) sudah kita saksikan di layar TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) sekali dalam seminggu.
Dan (kala itu) hadir 1 serial sekuel lagi yang (ketika itu) bakal ditayang TPI, yakni Justice Bao (Penakluk Naga). Beda dengan yang sebelumnya, kali ini tidak ditayangkan seminggu sekali, tapi sekali dalam sehari selama 30 menit, dari Senin hingga Sabtu. Dan di hari Minggu muncul cuplikan-cuplikannya alias ‘highlight’-nya. Persis dengan pola ‘stripping’ tayangan Return of The Condor Heroes yang dilanjutkan To Liong To di Indosiar.
Rupanya, sukses Return – menjadi sumber inspirasi untuk melakukan penayangan secara ‘stripping’. Hebatnya, Justice Bao yang sudah berjalan penayangannya selama itu tetap hadir seminggu sekali, setiap Jumat, 21.30. Jadi, ada 2 “sekuel” yang ditayangkan berbarengan oleh stasiun TV yang sama (TPI/RCTI-red).
Kendati demikian, bisa ditebak, Justice Bao tetap (waktu itu) tak bakal cepat tuntas. Bayangkan, di tahun 1993 saja diproduksi 236 episode dengan masa tayangnya masing-masing 1 jam. Dan (kala itu) kabarnya ATV Hongkong (ketika itu) sedang membuat 100 episode lagi. Belum lagi bila dijumlahkan dengan Justice Bao produksi TVB, di mana hakim Bao-nya bukan diperankan oleh Chin Chao Chin, melainkan artis tenar layar lebar, Ti Lung.
SEKUEL Penakluk Naga ini masih menemaptkan Chin Chao Chin sebagai pemeran tokoh hakim Bao yang sungguh sangat jujur dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Kali ini, hakim Bao diturunkan pangkatnya dari sebagai pejbaat pusat menjadi seorang gubernur yang “cuma” pejabat daerah. Sebabnya, bermula ketika dalam perjalanan turba, perdana menteri dicegat oleh 3 orang bercadar.
Saat nyawa perdana menteri hampir terlepas dari tubuhnya, muncul perwira Chan Chao, pengawal kepercayaan Bao, yang segera mengusir ketiga penyerang itu. Rupanya ketiga orang bersaudara itu menghendaki barang berharga berupa tulisan Chao Yi yang dibuat di sehelai kulit domba.
Kejadian ini dilaporkan ke kaisar, ini diusut tuntas dan sang penyerang diajukan ke meja hijau. Berdasarkan masukan dari perwira Chan Chao, Bao juga mengatakan bahwa bukan tak mungkin penyerang itu berasal dari kalangan istana. Sebabnya, kemampuan dan aliran silatnya persis para pengawal istana.
Penasihat kaisar menolak dan menganggap Bao cuma mau cari muka. Celakanya, perdana menteri yang berhasil diselamatkan itu juga mendukung sang penasihat. Bahkan perdana menteri meminta kaisar untuk menghukum Boa, karena kecurigaan yang diajukan Bao – bahwa pelakunya adalah kalangan istana – meruapkan tudingan tanpa bukti dan penghinaan terhadap kerajaan.
Kaisar menyetujui. Sebagai hukumannya, Bao tidak mendapat gaji selama 3 bulan. Penasihat dan perdana menteri menganggap hukuman itu terlalu kecil. Hukuman yang layak seperti disebutkan di atas adalah menurunkan pangkat Bao menjadi “setaraf” pejbat daerah alias gubernur. Kebetulan gubernur daerah Hou Chu baru saja meninggal, maka Bao pun diminta menjadi gubernur daerah asal kaisar itu.
RUPANYA hukuman terhadap hakim Bao ini hanyalah siasat, atau lebih tepatnya permainan sandiwara rancangan kaisar dan perdana menteri sendiri. Ditempatkannya Bao di Hou Chu adalah untuk tujuan meneliti hilangnya gulungan kulit domba berisi tulisan Chao Yi yang dibawa perdana menteri saat penyerangan terjadi.
Bao juga diminta untuk “menangani” anak-anak marga Wen yang pernah sangat berjasa pada kaisar, namun kini menjadi penyebab sejumlah kerusuhan di Hou Chu. Nyonya Wen punya empat anak bergelar Empat Naga Hou Chu. Masing-masing memiliki julukan Naga Cakar Emas, Naga Pesakitan, Naga Mata Tunggal, dan Naga Berwajah Elok. Selain si bungsu yang berwajah elok, 3 naga lainnya sungguh teramat kejam. Dan asal tahu saja, ketiga naga inilah yang menyerang perdana menteri.
Mengetahui semua permainan sandiwara itu, Bao makin bertekad, “Jika ada yang melanggar hukum, tidak akan lolos dari alat penggal (pedang) pengadilan. Saya akan berjuang menenteramkan kembali Hou Chu.” Saat menuju ke tempat bertugasnya, sejumlah pengawal menasihati Bao agar jangan melewati pintu terbang timur karena itu berarti harus melewati halaman rumah keluarga Wen. Tapi Bao tak perduli.
Tiba di depan rumah keluarga Wen, hakim Bao langsung disambut oleh nyonya Wen dan anak-anaknya. Langsung saja salah seorang anak nyonya Wen berujar sombong, “Anda boleh bertindak apa saja di pengadilan Hou Chu. Tapi keluarga Wen harus mendapat perlakuan khusus.”
Mampukah hakim Bao menaklukkan para naga bengi situ? Kalau mampu, bagaimana cara hakim Bao “memainkan” pedang keadilannya hignga para naga kejam itu takluk di bawah “kerling” dewi keadilan? Menarik menyimaknya, karena penuh dengan nilai-nilai filosofis tentang hukum dan keadilan.
Paling tidak, bisa menjadi alat banding soal proses penegakan hukum bagi film-film sejenis LA Law, Dark Justice, atau Street Justice, atau bahkan mungkin Night Court (keempat judul tersebut diputar di Indonesia melalui RCTI/SCTV-red).
Ditulis oleh: Maman Suherman
Dok. Citra – No. 280/VI/7-13 Agustus 1995, dengan sedikit perubahan


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar