JELANG TAYANG - ERTE-ERWE (RCTI), MENGANGKAT SENIMAN KELAS BAWAH
LAGI-LAGI seperti karya sebelumnya, Si Doel Anak Sekolahan
(SDAS/RCTI), Rano Karno dan Harry Tjahyono, penulis cerita, kembali mengambil
latar belakang kehidupan masyarakat Betawi. Sinetron sebanyak 13 episode ini,
menurut pimpinan produksinya, Tino Karno, (waktu itu) akan lebih banyak
menyoroti seniman kelas bawah.
“Erte-Erwe lebih kompleks. Bukan hanya Betawi saja. Tapi juga banyak suku. Ada Padang, Sunda, dan Jawa. Lebih menonjolkan seniman kelas bawah, seperti gambang kromong, tanjidor, wayang orang!,” tegas Tino Karno. Tino ingin menonjolkan kesenian yang menurutnya sudah tidak dilirik banyak orang. “Realitas yang ada, budaya semacam itu akan semakin tergusur. Umumnya, mereka tidak mampu untuk bertahan. Karenanya, penggarapan adegan itu dilakukan dengan serius.
Saya sampai membuat panggung dan mendatangkan kelompok tanjidor, gambang kromong, dan wayang orang. Dan untuk melancarkan produksi, saya membeli satu set peralatan gambang kromong,” papar Tino. Bahkan menurut Tino, porsi penyuguhan pertunjukan kesenian itu bisa mencapai kurang lebih 30% dari seluruh tayangan.
Rano Karno, yang kali ini juga memerankan tokoh Rizal, orang Padang – kakak Syamsul, dalam kesempatan berbeda, mengakui penggarapan aneka pertunjukan kesenian cukup banyak memakan tenaga dan biaya.
“Saya sampai mendatangkan sedikitnya 50 figuran buat
memperlihatkan perkawinan adat Betawi, yang ramai dengan tarian dan
ondel-ondel. Lebih capek. Dan pertunjukan kesenian itu berulang kali, karena
penghuni rumah petak itu profesinya memang sebagai penghibur,” ujar Rano.
SAYANGNYA, sinetron arahan Dimas Haring ini terlihat hanya
mengeksploitasi kehidupan masyarakat Betawi yang digambarkan tidak punya
keinginan untuk maju – tokohnya seperti si Encun hanya lulusan SD dan Pi’i
lulusan SLTP. Tidak hanya itu, keluarga Cing Majad dan Cang Kemot yang kakak
beradik itu, juga terlihat pasrah dengan keberadaannya.
Cing Majad hanya sebagai makelar dan Cang Kemot memilih mengurusi kelompok kesenian milik moyangnya. Apakah realitas semacam ini masih sesuai dengan masyarakat Betawi pinggiran kota Jakarta? Dan kelucuan-kelucuan yang disuguhkan oleh tokoh Mali pun tidak segar, bahkan terkesan mengada-ada.
Erte-Erwe, disingkat dari Romantika Tetangga dan Romantika Wanita ini, berkisah tentang romantika kehidupan yang digetarkan oleh perbenturan antar budaya Betawi tradisional (Cang Kemot), Betawi modern (Cing Majad), Sunda (‘neng geulis’ dan bu Entin), Jawa (mas Gareng), dan Padang (Samsul).
Masing-masing berbisnis kesenian sesuai dengan daerah asalnya. Hanya Samsul yang tidak. Sehari-harinya, Samsul memilih membuka usaha kursus mengetik sambil berdagang kaki lima. Dan kerap bertindak sebagai manajer ‘show’ dari kelompok kesenian itu.
Interaksi antar penghuni tanah warisan orangtua Cing Majad dan Cang Kemot terasa lebih semarak karena diwarnai dengan perebutan mencari perhaitan janda muda yang genit, ‘neng geulis’ putri bu Entin. Cing Majad dengan rayuan plus hadiah-hadiahnya. Sementara mas Gareng yang sudah lama memendam rasa cintanya, hanya mampu menyatakan perasaannya lewat tembang Jawa yang melambangkan orang yang sedang kasmaran.
Ditulis oleh: Utami Sri Rahayu
Pimpinan produksi: Tino Karno
Cerita & skenario: Rano Karno dan Harry Tjahjono
Sutradara: Dimas Haring
Pemain: Ami Priyono (Majad), Suty Karno (Encun), Dian Hasri
(Samsul), Mali (Mali), Rina Gunawan (‘neng geulis’), Tati Saleh (Entin), Rano
Karno (Rizal)
Produksi: Karno’s Film
Tanggal tayang: Setiap Jumat, mulai 14 April 1995, 20.00
Stasiun: RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)
Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit
perubahan





Komentar
Posting Komentar