JALAN MAKIN MEMBARA 2: "UANG TIDAK BISA MEMBELI SEGALANYA" (SCTV - SETIAP SABTU Pkl: 19.30 WIB)

 

“UANG tidak bisa membeli segala-galanya.” Begitu bunyi petuah, yang nilai kebenarannya tidak pernah pupus, bahkan makin mengkristal di zaman yang kian modern. Ya, di zaman modern uang seringkali dianggap segala-galanya. Bahkan, tidak jarang orang kaya berpendapat dengan uang semua persoalan bisa diatasi.

Terlebih lagi dengan trend relasi dan kolusi. Jadi, tidak ada salahnya bila Dede Yusuf, selaku sutradara Jalan Makin Membara 2 (SCTV), mengingatkan kembali bahwa tidak semua bisa dibeli dengan uang, lewat episode Batu Bukan Tuba, lanjutan dari episode Batu Itu Buta.

Pertolongan yang dilakukan Handoko (Dede Yusuf) pada Nadia (Ane J Coto), direktur sebuah bank, berlanjut. Handoko, sekembalinya dari Jawa, memutuskan tinggal di rumah Tapan (Hendri Hendarto) dan menjadi kondektur metromini. “Pekerjaan apapun yang penting halal,” begitu prinsip Handoko.

Suatu saat, metromini Handoko terjebak di tengah tawuran pelajar. Batu berterbangan menimpa semua yang ada di sekitar itu. Tak terkecuali Nadia. Handoko dengan sigap menyelamatkan Nadia yang dilanda kepanikan. Lain waktu, Handoko kembali menyelamatkan Nadia. Tapi kali ini gara-gara Nadia bertengkar dengan seorang pengendara sepeda motor.









































Karena sikapnya yang judes dan sok kaya, Nadia jadi bahan ledekan orang yang berada di tempat kejadian. Bahkan sekelompok pelajar tak segan-segan melempari Nadia. Lagi-lagi Handoko dengan sigap menyelamatkan Nadia. Pertolongan Handoko ternyata membekas di hati Nadia. Sayangnya, wujud simpati Nadia salah. Semua diukur dengan uang.

Untuk menemukan Handoko, Nada meminta bantuan petugas. Petugas pun segera melakukan Razia. Si Lae (Dorman Borisman), sopir yang dikondekturi Handoko panik mendengar kabar ada Razia. Maklum, tidak memiliki SIM, dia buru-buru menyerahkan kemudi pada Handoko yang mempunyai SIM. Dengan senang hati, Handoko mengambil alih tugas si Lae.

Nah, sampai di tempat Razia, petugas meminta Handoko ikut, meskipun si Lae mencoba protes. Oleh petugas, Handoko ternyata dibawa ke kantor Nadia untuk dibei hadiah. Handoko tentu saja tersinggung dan menolak ketika disodori uang, sebagai cuapan terima kasih. Penolakan Handoko membuat Nadia terisnggung dan malu. Tapi di balik itu hati Nadia terbuka, tidak semua bisa dibeli dengan uang.

Ditulis oleh: Adi Pamungkas

Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997

Komentar

Postingan Populer