INTRODUKSI - STASIUN TRANSMISI ANTEVE DI BALI

 Prof. DR. Ida Bagus Oka, berdampingan dengan presiden direktur ANteve, Agung Laksono, saat meresmikan transmisi ANteve Bali

SEBELUM 26 Agustus 1997, hanya sebagian kecil masyarakat Bali yang bisa menikmati tayangan ANteve (Andalas Televisi). Itu pun melalui antena parabola. Berarti, hingga 26 Agustus 1997, sebagian besar masyarakat Bali (hingga saat itu) belum mengenal ANteve. Kenyataan itu terjadi lantaran ANteve (waktu itu) belum memiliki stasiun relay. Sementara RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), dan Indosiar sudah sejak lama berkibar di pulau Dewata.

Selama itu, ada beberapa daerah yang bisa menangkap tayangan ANteve hanya dengan memasang ‘indoor’ antena, seperti Puputan-Denpasar, Monang Maning, Gianyar-Celuk, Nusa Penida, dan Bedugul II.

Tapi bersamaan dengan diresmikannya stasiun relay berkekuatan 10 kW di kawasan transmisi bukit Kutu, dusun Petangan, Ungasan-Denpasar dengan menara setinggi 80 meter oleh Gubernur Bali Prof. DR. Ida Bagus Oka, pada Selasa (26/8/97) lalu, ANteve dapat ditangkap di hampir seluruh wilayah Bali. Bahkan transmisi yang berada pada ‘channel’ 25 UHF, frekuensi 502-510 MHz itu juga bisa menjangkau wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

“Kami sangat ‘welcome’ dengan hadirnya ANteve di Bali. Masyarakat Bali semakin banyak memiliki pilihan. Mana yang akhirnya mereka pilih, tentulah yang memiliki program-program baik dan sesuai dengan selera mereka,” ujar Ida Bagus Oka.

Peresmian transmisi ini dihadiri presiden direktur ANteve, Agung Laksono, ketua DPRD tingkat I Bali, Pangdam Udayana, dan masyarakat sekitar Bukit Kutu. “Pada akhirnya yang ditonton pemirsa adalah tayangan yang baik, program-program yang baik. Tak peduli di stasiun mana ditayangkan,” ujar Agung Laksono. Agung benar. Akhir dari proses panjang produksi televisi ditentukan pada pilihan pemirsa terhadap program-program tersebut.

“Kita terus mengupayakan greget dari HBO ANteve. Bukan ‘home box office’, melainkan hiburan, berita, dan olahraga,” lanjut Agung. Sebab itu, patut disayangkan bila pembangunan transmisi yang menelan biaya antara 2-4 milyar itu, tidak diiringi dengan peningkatan kualitas program.

Senada dengan yang dikatakan Agung, Nenny Soemawinata, ‘general manager’ ANteve, menambahkan bahwa usaha ke arah itu memang (waktu itu) sudah dilakukan. “Kita ingin mempertajam jangkauan sumber berita ANteve. Manfaatnya, bukan cuma untuk keunggulan ‘news’ ANteve. Tapi kita juga bisa menjadi corong Indonesia ke dunia internasional.”

Untuk itu, ANteve (kala itu) akan terus memperluas daya jangkau siarnya. Transmisi di Bukit Kutu merupakan stasiun relay ANteve ke-9, setelah Lampung, Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Ujungpandang, Semarang, dan Batam. Menurut manajemen ANteve, dalam waktu dekat (setelah bacaan ini dimuat Bintang-red),  – waktu itu – akan dibangun transmisi di Yogyakarta.

Ditulis oleh: Lukmanoelhakim

Dok. Bintang – Edisi 339/Th. VII/minggu kedua September 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer