INTRODUKSI - KEBAKARAN DI LOKASI SYUTING PERAWAN LEMBAH WILIS (INDOSIAR)

 
ERNA Santoso pemilik Erna Santoso Enterprise mengaku berjuang habis-habisan untuk bisa merealisasikan serial Perawan Lembah Wilis (PLW), yang ditulis Asmaraman Kho Ping Hoo. “Saya seperti mendapat “wasiat” dari Kho Phing Hoo untuk memvisualkan cerita itu. Karenanya, saya berusaha sekuat tenaga merealisasikan,” ujar Erna Santoso.

Untuk mengaktualisasikan keseriusannya, dalam mengerjakan serial PLW, Erna memakai 3 sutradara sekaligus untuk menggarap 52 episode. Ketiga sutradara itu adalah Ismail Sofyan Sani, Deddy H.W., serta Petrus Karangan. Sedang untuk pemain, selain dirinya sendiri (memerankan tokoh Dewi Nilamanik), Erna Santoso melibatkan Yoyok Aryo, Kusno Sujarwadi, Hadi Leo, Alan Nuari, Muni Cader, Eddy Chaniago, Subroto Laras, bintang baru (kala itu) Riri Dwiyanti, dan sebagainya.

Keseriusan Erna Santoso kian diuji ketika produksi memasuki minggu ketiga, set yang dibangun di atas areal 20 hektar dan menelan biaya tidak kurang dari 600 juta rupiah, ludes dilalap api. Musibah ini mesti menyakitkan, tapi tidak sampai mematahkan semangat seluruh kru yang terlibat.

“Saya yakin di balik musibah ini akan ada hikmah besar. Karenanya, dua hari setelah musibah kebakaran, saya menginstruksikan seluruh kru untuk bekerja dengan kondisi yang ada. Alhamdulillah baik kru maupun artis tidak ada yang terpengaruh dengan musibah itu. Mereka tetap seamngat untuk menyelesaikan tanggung jawab,” jelas Erna.

“Musibah yang kami terima, justru kami jadikan dorongan untuk menghasilkan karya yang berkualtias demi kejayaan persinetronan Indonesia,” ujar Ismail Sofyan Sani, mewakili dua rekannya. “Emosi pemain kami jaga betul. Karena kalau emosi pemain rusak, rusaklah semuanya,” ujar sutradara yang sukses dengan serial Kesaksian (SCTV) ini.

Dan saat itu Erna boleh berlega hati. Serial laga kolosal yang diimpikan (waktu itu) telah selesai diproduksi sebanyak 26 episode. Menurut rencana (kala itu), Indosiar (waktu itu) akan mulai menayangkan pada bulan Juni 1997, mundur sebulan dari yang direncanakan. “Hasilnya pun tidak mengecewakan, bahkan tidak berlebihan kalau saya bilang lebih bagus dari yang saya bayangkan,” ujarnya.

Cerita PLW sendiri diawali dengan kematian para punggawa di kerajaan Jenggala dan Panjalu. Kematian demi kematian tentu saja membuat geger seluruh penghuni dua kerajaan itu. Apalagi kematian para punggawa terasa aneh, sebab dilakukan tanpa meninggalkan jejak. Hal itu tentu saja memunculkan praduga dan prasangka, sang pembunuh adalah pendekar yang berilmu tinggi.

Nah, dugaan itu seperti dialamatkan pada tokoh Endang Patibroto. Benarkah tokoh menantu Prabu Jenggala di balik kasus itu? Dan apa yang dilakukan pendekar cantik itu?

Ditulis oleh: Adi Pamungkas

Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer