INTRODUKSI - ASMARA DAN DARA (SCTV): "MENCOBA MENAMPILKAN JAGOAN WANITA"
SUKSES menelurkan sosok hero, Handoko, lewat serial Jalan Makin Membara (SCTV), PT Sepro Karya Pratama, griya produksi milik aktris tiga zaman Rahayu Effendi kembali menampilkan sosok ‘hero’ sebagai “pasangan” Handoko, lewat serial Asmara dan Dara. Serial yang ide ceritanya dari Bob Effendi, kakak kandung Dede Yusuf, (waktu itu) akan menampilkan tiga cewek jagoan, pembasmi kejahatan.
“Selama ini sosok wanita yang ditampilkan selalu stereotip. Pertama, wanita sebagai obyek lemah. Selalu butuh pertolongan dari kaum laki-laki. Kedua obyek seks. Karenanya, perlu ada penyeimbang kehadiran wanita dalam industri film. Maka, PT Sepro mencoba untuk menampilkan sosok wanita yang selain bisa menjaga diri, juga mampu membasmi kejahatan dengan kecerdasannya. Lahirlah Asmara dan Dara,” ujar Bobby Effendi.
Meski para wanita ditampilkan sebagai sosok jagoan, menurut Bobby, mereka tetap manusia biasa. “Mereka tetap wanita yang punya perasaan, butuh perhatian dan sebagainya. Dan di sinilah menurut saya daya tarik serial ini,” ujarnya serius.
Keseriusan Bobby untuk memberikan tontonan menarik sudah terlihat sejak awal proses produksi. Bobby tidak segan-segan mengumpulkan beberapa wartawan di Puncak, Bogor untuk mematangkan konsep. “Kesediaan teman-teman wartawan untuk terlibat langsung sangat melegakan saya. Mereka mempunyai visi lain, sehingga bisa menambah warna serial ini,” ujarnya.
Serial yang diproduksi 20 episode ini, rencananya (waktu itu) akan ditayangkan SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) sekitar bulan Juni-Juli 1997. “Saat ini (April 1997-red), sudah selesai 5 episode. Mudah-mudahan saja, semua berjalan lancar sesuai target,” harapnya (waktu itu).
Cerita Asmara dan Dara dimulai dari kisah tragis seorang wanita muda, Asmara. Baru dua tahun menikah, dia mesti rela menjadi janda. Suaminya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Untuk bertahan hidup, Asmara membuka usaha kos khusus wanita. Pelan tapi pasti, usaha itu mulai menunjukkan hasil. Ada tiga orang yang indekos, antara lain Lydia, instruktur aerobik sekaligus jago bela diri, Tamara, fotomodel serta Ratih, wartawati.
Hari demi hari, hubungan mereka kian akrab. Asmara tidak segan-segan menceritakan kasus kematian suaminya yang sangat tragis. Kata Baskoro, seorang wartawan, kematian suami Asmara karena pembunuhan. Merasa senasib – sama-sama pernah menjadi korban kejahatan – ketiga cewek itu membantu ibu kosnya membongkar kasus kematian sang suami.
Serial produk terbaru (kala itu) Sepro Karya Pratama ini, disutradarai Sam Sarumpaet, pembuat serial Jenderal Nagabonar versi Sandy Nayoan. Bintang-bintangnya Sandy Nayoan, Lela Anggarhini, Anne J. Coto, dan Kasandra.
Ditulis oleh: Adi Pamungkas
Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar