INTRO: SEPEKAN PALEMBANG, SIAPA MENANG

 

DALAM suatu pembicaraan formal dengan Citra (beberapa waktu sebelumnya), kepala TVRI Stasiun Palembang, Fachruddin Djamil, mengemukakan keinginannya menggairahkan produksi sinetron di tempat tugasnya. Waktu itu pak Fachruddin baru beberapa bulan memimpin stasiun televisi ‘wong kito’ – yang sebelumnya menjadi pimpinan di stasiun TVRI Ujungpandang.

Alasan menggairahkan produksi sinetron memang tidaklah muluk-muluk. Selain paket sinetron itu sendiri merupakan tayangan primadona TVRI, juga Menteri Penerangan Harmoko memberikan mandat, bahwa hendaknya setiap stasiun televisi daerah membikin (sekurangnya) dua sinetron dalam satu tahun.

Sesungguhnya di balik masalah tersebut, pak Fachruddin mencoba untuk memahami betapa wilayah tempat tugasnya (provinsi Sumsel) menyimpan kekayaan budaya yang melimpah. Cerita rakyat atau legenda banyak yang (sampai saat itu) belum digali. Sehingga bukan tidak mungkin semuanya itu (waktu itu) akan diangkat ke layar gelas – khususnya TVRI Stasiun Palembang.

Kepala stasiun itu juga menyadari untuk mewujudkan tidaklah mudah. Banyak faktor, di antaranya adalah keterbatasan dana. “Jika Citra mau membantu, jelas kami berterima kasih. Tapi, memang sebaiknya Citra membantu kami membantu eksistensi stasiun daerah,” celetuk pak Fachruddin.

Tentu tidaklah berlebih-lebihan bila celetuk pak Fachruddin akhirnya menjadi kenyataan, 1992 ini. Bahwa pada awal Juni 1992 – bertepatan dengan suasana minggu tenang menyongsong pemilu – TVRI Stasiun Palembang mengudarakan sepekan sinetron. Berarti untuk yang ketiga kalinya stasiun televisi daerah – baca: TVRI daerah, red – (pertama Bandung disusul Surabaya) telah memperlihatkan kemampuannya.

Sepekan sinetron yang diselenggarakan TVRI Stasiun Palembang, kendati penontonnya terbatas wilayah Sumatera Selatan, toh – bisa disebut – mempunyai makna tersendiri. Maklum, diselenggarakan dalam situasi seusai kampanye, sehingga masyarkat Sumsel bisa menenangkan pikiran. Serta sebaga ihiburan, memang pantas pemirsa menyaksikan.

Apalagi diketengahkan kuis yang berhadiah total tiga juta rupiah. Kuis ini terbuka bagi siapa saja (pembaca Citra di seluruh Indonesia), dan pemirsa tinggal memilih sinetron terbaik. Asal tidak lupa pula menyimak tabloid Citra. Barangkali (perkiraan waktu itu) Anda yang bakal memenangkan kuis tersebut.

Kita pun layak mengucapkan salut, terhadap kerja konkret TVRI Stasiun Palembang yang berupaya menciptakan gebrakan, bahwa sepekan sinetron ini dapat mewadahi budaya Sumsel. Dengan cara ini pula TVRI Stasiun Palembang bisa lebih banyak menemukan jati dirinya – untuk membuat sinetron yang jempolan – yang selama itu dicuatkan TVRI Stasiun Pusat. Barangkali saja (siapa tahu) televisi ‘wong kito’ bisa menetaskan sinetron yang digdaya seperti miniseri Sitti Nurbaya.

Bagi Citra juga hal yang menggembirakan bila mampu terwujud. Tapi itulah tantangan yang mesti dijawab. Artinya, bukan tidak mungkin kerjasama TVRI Stasiun Palembang dengan Citra tambah mesra – sebagaimana maunya pemirsa, maunya pembaca.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer