INNEKE KOESHERAWATI: "IH, MALU...." (GARA-GARA, RCTI/SCTV - SABTU, 30 MEI 1992 Pk: 18.00 WIB)

 

JAKARTA, 13 Desember 1975, sesosok bayi mungil (kala itu) lahir. Inneke Koesherawati namanya. Dalam perjalanan hidupnya dia terdampar dalam dunia mode. Dia memenangkan berbagai macam lomba.

“Awalnya sih, Ine disuruh foto sama kakak, Ine nggak tahu untuk apa. Nggak tahunya, kakak masukin foto Ine ke lomba Gadis Sampul. Ine sempat bingung juga. Malu sama teman-teman kalau nggak masuk final. Tapi, alhamdulillah, Ine sampai final dan meraih predikat berbakat,” tutur Ine. Nah, kalau ingin tahu lebih banyak lagi, buka saja halaman 13 (Bintang No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992).

KATA MAMANYA, INNEKE KOESHERAWATI MASIH SERING PLIN-PLAN

MODE, MISTERI. Dara (era itu) yang mempunyai tinggi badan 168 cm dan berat (kala itu) 54 kg ini, bisa jadi pendatang baru (waktu itu) dalam dunia sinetron dan film. Peran-peran yang dipercayakan kepadanya (waktu itu) masih berkisar pada peran-peran figuran. Namun begitu, dilihat dari postur tubuh dan wajahnya, gadis (era itu) ini mempunyai peluang (waktu itu) untuk terlibat lebih dalam lagi pada dunia sinetron dan film.

“Tapi Ine pernah dipercaya mas Lukmantoro untuk pegang prean utama dalam film Misteri Ronggeng,” jelas gadis (era itu) nomor 5 dari 6 bersaudara.

Keterlibatannya dalam dunia sinetron dan film, berawal dari ajakan. Seperti dalam serial Gara-Gara yang ditayangkan RCTI/SCTV setiap Rabu dua minggu sekali, Ine diajak sutradara Arizal. Juga dalam film (layar lebar-red) Lupus IV, Diskotiq, Rini Tomboy, maupun Bisa Naik Bisa Turun. Ine sendiri makanya lebih sreg di dunia mode. Makanya, hingga 1992, ia belum berani memutuskan untuk total mendalami film dan sinetron. Bahkan untuk cita-cita pun Ine (saat itu) belum bisa memutuskan. 

 




“Ine khan masih kecil, jadinya Ine sering plin-plan. Awalnya pengen jadi dokter, setelah itu berubah lagi. Nah, untuk total di film, kami masih khawatir. Habis dunia film khan nggak tentu, kadang ramai kadang sepi, kasihan Ine,” papar mama Ine yang turut mendampingi anaknya saat diwawancarai.

“Ine khan masih sekolah, masih kelas satu lagi. Jadi saat ini (1992-red) Ine belum tahu. Pengennya sih, setelah lulus nanti, sekolah di Perbanas. Tapi kalau dunia film punya harapan yang bagus, Ine mau total di film. Pokoknya belum tahu deh, terserah yang di atas,” jelas pelajar SMA PSKD II (era itu) ini sembari tertawa (waktu itu).

Meski begitu, Ine (waktu itu) tidak akan menolak tawaran main film, terlebih lagi yang bertema remaja dan komedi. “Untuk adegan ranjang dan buka-bukaan, Ine nggak janji deh. Kalau sebatas pakai celana pendek dan itu sesuai dnegna skenario, itu sih nggak keberatan,” paparnya. Menurutnya, dia lebih suka main sinetron daripada film.

“Habis, main film khan syutingnya lama. Ine nggak enak sama guru-guru, kalau terlalu banyak bolos. Nah, kalau di sinetron khan penggarapannya lebih pendek, kayak pembuatan sinetron Perwira Samudra (kemudian diputar TVRI Programa 1 dengan judul Putra Samudera-red) di Surabaya, beberapa waktu lalu. Jadi nggak banyak bolosnya,” papar artis yang selalu dikawal mamanya saat syuting.

Dalam mempersiapkan sebuah peran, Ine lebih banyak belajra secara mandiri. Tidak seperti di mode yang dia tekuni di sanggar ‘OQ Modelling’.

“Dalam mempersiapkan peran, Ine lebih banyak belajar sendiri. Kalau agak sukar, saya tanya sama papa. Habis, papa khan waktu di Bandung dulu terlibat di dunia teater. Papalah yang biasanya membaca skenarionya, lalu memberi pengarahan-pengarahan apa yang mesti Ine lakukan,” jelas pengagum Christine Hakim, Meriam Bellina, dan Rano Karno. Lantas, bagaimana dengan kehidupan pribadinya?

“Waktu kecil, Ine sih bandel, tapi nggak badung. Ya bandelnya anak-anaklah. Kata mama, Ine juga manja. Tapi menurut Ine, biasa-biasa saja, kayak anak-anak yang lain. Cuma, waktu kecil Ine paling suka kalau ikut lomba-lomba peragaan busana antar RT. Wah, seneng banget, gitu,” ujarnya sembari tertawa panjang.

Soal pacar (waktu itu)? “Ih, malu, habis ada mama, ha.. ha… ha…., tapi nggak apa-apa. Ine saat ini (1992-red),…. Ada deh, tapi baru sekolah di Amerika. Pokoknya orangnya baik, suka sembahyang, pokoknya begitulah. Orangtua Ine udah tahu siapa dia. Dia itu khan fans Ine.

Dia awalnya kirim surat, sampai yang kedua belum Ine balas, terus surat yang ketiga dia marah-marah, ya Ine balas. Dari surat menyurat, akhirnya waktu liburan dia datang dan anaknya boleh juga. Lantas, ya pokoknya begitu…,” ujarnya tersipu-sipu. Menurutnya, sang pacar (kala itu) mengerti kesibukannya. Bahkan, sang pacar (kala itu) suka kasih saran-saran dan masukan-masukan untuk karier Ine.

“Tapi untuk jenjang perkawinan, masih jauh, Ine harus menyelesaikan SMA dulu, terus pengen kuliah dulu, pengen berkarier dulu, ya masih lama, tapi nggak tahulah…,” ujar gadis (era itu) buah cinta Hery Koesherbinin dengan Lenny (waktu itu). Lantas, Ine pun bercerita panjang tentang kebaikan dan kisah kasihnya dengan sang pacar. Soal dicium pacar?

“Ah, mana dia berani, ha.. ha.. ha… Tapi untuk soal itu, Ine pertama kali ngalami waktu SMP. Rasanya, ya cuma kaget aja. Nggak ada kesan apa-apa. Waktu itu khan masih cinta-cintaan, jadinya ya biasa-biasa saja,” ujarnya.

Ditulis oleh: Adi Pamungkas

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer