GUNAWAN SUBAGIO, KASUBDIT PEMBERITAAN TVRI, DIANCAM KARENA PEMBERITAAN KEGIATAN KAMPANYE TAK ADIL

 Gunawan Subagio

INFORMASI, PERSUASI. Akhir-akhir itu, menjelang pemilu, TVRI gencar menayangkan ‘filler’, spot program. Frekuensi penyiaran ‘filler’ ini makin gencar saja. Keuntungan spot program ini, pertama adalah pengiritan biaya produksi, karena secara berulang-ulang memutar materi yang sama. Kedua, misi yang dimaksudkan pun sampai ke sasaran. Nampaknya ada dua jenis ‘filler’, yang persuasif dan informatif. Atau perpaduan keduanya.

‘Filler’ tentang perawat, nelayan, petani dan guru lebih cocok disebut sebagai ‘filler’ persuasif. Tentang data pembangunan di masa orde baru lebih cocok disebut sebagai ‘filler’ informatif. Dan bentuk perpaduan antara keduanya, seperti yang terwujud di iklan layanan masyarakat tentang imunisasi campak yang tertayang di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

‘Filler’ ini ingin menginformasikan kepada pemirsa, bahwa di usia 9 bulan, bayi harus disuntik imunisasi campak. Yang paling dahsyat adalah ‘filler’ pariwisata yang tertayang di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). ‘Editing’-nya dahsyat. Coba kita perhatikan ketika kamera menancap di mata raksasa, tiba-tiba mata itu berlubang. Dan dari lubang itu nampaklah pemandangan indah nusantara.

Misi yang disampaikan oleh ‘filler’ ini adalah keramahan. Kamera menerawang keindahan geografis, kebudayaan dan religi yang beruratakar di masyarakat Indonesia. Dan misinya disampaikan, cukup dengan satu kalimat. “Ulurkan tangan, kembangkan senyum Indonesia. Karena kalimat ini dikesankan sebagai kesimpulan dari pandangan kamera sebelumnya, maka pemirsa pun tak merasa disuruh.

Hal demikian juga ditempuh direktorat pemberitaan TVRI dalam menghadapi pemilu. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), direktorat pemberitaan mengumpulkan prestasi orde baru. Panjang jalan yang telah dibuat, tingkat berkurangnya rakyat miskin, jumlah jembatan. “Siapa yang pantas melanjutkan pembangunan ini? Jawabnya adalah orde baru,” begitu di akhir ‘filler’ ini.

Salah satu kampanye PPP di Jakarta 

AUDIO, ANCAMAN. “Ini informasi bagi masyarakat tentang keberhasilan orde baru yang selama 25 tahun ini (1967 hingga 1992-red) jarang diungkapkan,” tutur Drs. Gunawan Subagio, kasubdit pemberitaan TVRI Jakarta. Ada yang menganggap ‘filler’ ini sebagai kampanye Golkar?

”Mereka yang menganggap ini kampanye Golkar, karena menganggap orde baru itu Golkar! Orde baru bukan hanya Golkar! Orde baru itu kita semua. PPP, Golkar, juga PDI! Nggak benar kalau ‘filler’ ini kampanye salah satu kontestan! Ini informasi tentang keberhasilan kita semua!,” tegasnya (waktu itu).

“Masukan yang saya daapt dari teman-teman yang meliput di daerah, mereka mengatakan kalau Golkar massanya memang luar biasa. Maka dari ‘angle’ kamera gampang menggambarkan situasi itu. Karena sitausi itu harus terliput, menggambarkan bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa yang besar, bukan kecil. Maka digunakan ‘angle long shot’ untuk menunjukkan bahwa itu peristiwa besar. Dan kenyataan, di setiap kampanye Golkar, massa mbludak.

Bisa jadi ini karena menggunakan artis, dibandingkan kontestan lain massa Golkar memang lebih besar. Ini kesulitan kita hingga ‘long shot’ jarang bisa digunakan. Malah ada di suatu daerah yang tidak ada kampanye kontestan lain. Seperti Palangkaraya, tak ada kegiatan kampanye PPP dan PDI. Maka saya perintahkan kalau tak ada kampanye agar mengambil gambar kantornya, atau ketika sedang menempel-nempelkan gambar.






"Kita sebagai sarana pemerintah harus adil terhadap semua peserta pemilu,” sanggah Gunawan kepada mereka yang menganggap peliputan kampanye tak adil. “Saya pernah dapat liputan Golkar saja. Karena PPP dan PDI belum muncul, maka saya tahan. Baru setelah ketiganya dapat, saya siarkan,” kata Gunawan tentang usahanya bertindak adil kepada semua kontestan. Meski adil tentu perlu dipersoalkan dan ditanya alasannya Gunawan “membelah” teve.

Media teve adalah media pandang dengar, media audiovisual. Mengapa di pesta demokrasi ini justru dikebiri audionya? Saya instruksikan sejak tanggal 14 Mei 1992 semua tak pakai audio. Penghilangan audio ini ditempuh sebenarnya hanya masalah teknis semata. Peralatan kita di daerah tak secanggih yang di sini. Ada yang audionya sudah rusak. Percayalah TVRI milik rakyat semua.” Kemudian tentang durasi Golkar lebih banyak, kata Gunawan karena kegiatan Golkar memang lebih banyak.

“Kami juga kewalahan dengan permintaan Golkar. Banyak yang terpaksa kami tolak, karena terbatasnya peralatan.” Dengan peniadaan audio, apakah ini tidak mengkhianati profesi sebagai jurnalis pandang dengar? “Ini terus kami evaluasi. Kalau sekiranya semua bisa dengan audio nanti semua dengan audio.” Apapun kata dan sikap Gunawan tentang keadilan di TVRI bagi ketiga OPP (organisasi peserta pemilu), ternyata mengundang macam-macam dugaan bahkan ancaman.

“Saya kena kritik bahkan teror ancaman fisik di kantor maupun di rumah karena dianggap tak adil dalam pemberitaan kampanye! Saya disarankan pakai satpam, saya bilang saya bukan menteri! Kalau terjadi apa-apa, itu risiko jabatan!,” tandas Gunawan dalam menghadapi para pengancam. “Mereka bilang anggota kelompoknya cukup besar! Kalau tak adil, katanya mau boikot iuran TVRI! Saya jawab, ya silakan saja!,” tiru Gunawan.

Ditulis oleh: Gatot Sukoco

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer