GRAND FINAL VIDEO MUSIK INDONESIA (RCTI) 1996/97: "VIDEO KLIP MUSIK KEBEBASAN (SINGIKU) MEMBORONG GELAR TERBAIK"

 Untuk kedua kalinya MTV Asia ikut meramaikan GF-VMI. Bintang tamu dari MTV Asia, Rahul Kanna dan Bianca Adinegoro menambah gengsi acara tahunan VMI.

GLEN Kainama ternyata bukan cuma bisa mengedit gambar. Tapi juga piawai menjadi sutradara. Video hasil arahannya, Kebebasan (Singiku) menyabet empat gelar bergengsi dalam ‘grand final’ VMI (Video Musik Indonesia, diputar RCTI-red) 1996-1997.

Dalam perhelatan besar insan video musik Indonesia yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam (20/6/97) lalu, Glen yang mengawali kariernya sebagai penyunting gambar di Broadcast Design Indonesia (BDI) dikukuhkan sebagai sutradara video musik terbaik tahun 1996.

Berkat kemenangannya, ia berhak atas piala Visia, sebuah penghargaan tertinggi bagi seniman video musik di Indonesia. Dengan kemenangan ini, Glen menyamai sukses Rizal Mantovani, Garin Nugroho, dan Gusti Hermansyah, tiga sutradara video musik yang lebih dulu merebut piala Visia, sejak ajang ‘grand final’ VMI ini digelar tahun 1993 (ketika masih diputar TVRI, sebelum VMI pindah ke RCTI sejak Februari 1996-red).

Sukses Glen semakin lengkap karena video musik buatannya menyabet tiga piala Visia lainnya untuk kategori penata kamera/fotografi terbaik, penata cahaya terbaik dan video musik terbaik. Dalam ‘grand final’ VMI tahun 199 ini tersedia tujuh penghargaan utama (Piala Visia) yang diperebutkan 12 video musik finalis.

Dari 7 piala yang tersedia, Kebebasan (Singiku) meraih emapt. Tiga piala Visia lainnya disabet video musik Teman Baik (Nugie) untuk kategori penyuntingan (‘editing’) Terbaik, video Kala Sang Surya Tenggelam (Chrisye) untuk kategori penata artistik terbaik dan Nita Tilana (Tak Ada Waktu) untuk kategori interpretasi artis terbaik.

 

Glen Kainama (kedua dari kanan) menerima Piala Visia kateogri video klip musik terbaik, didampingi Singiku. 

Kemenangan video Kebebasan adalah pertanda bahwa video musik Indonesia sudah demikian kaya warna. Video dengan pola presentasi yang modern, bahkan cenderung beracuan ‘post-modernism’, sudah menjadi bagian dari gaya penyutradaraan video musik Indonesia. Setelah sekian lama industri video musik kita bertumpu pada kekuatan piktoral, di mana gambar bagus dan penceritaan yang verbal menjadi fokus, (belakangan itu) lahir video dengan desain produksi baru.

Video Kebebasan sungguh menawarkan konfigurasi baru dalam video musik Indonesia. Dan ini menjadi unsur penting dalam penilaian akhir ketujuh juri dalam GF-VMI tahun 1997 ini. “12 video yang masuk final, sama bagusnya.

Untuk memastikan siapa yang berhak meraih terbaik, harus diperhitungkan juga unsur di luar teknis produksi. Video Kebebasan kami lihat mampu memberi motif baru bagi perkembangan video musik Indonesia. Desainnya, baik itu gambar, warna dan kerja kamera, memberikan pemahaman tentang video musik modern,” kata Teguh Karya, salah seorang anggota dewan juri.

Video Kebebasan yang bersaing ketat dengan video Ingat-Ingat Pesan Mama dan Kala Sang Surya Tenggelam dalam penilaian akhir, oleh keenam juri lain yaitu Andrew Hoppe (‘vice president’ MTV Asia), David Hewitt (sutradara film dan iklan dari Australia), Garin Nugroho, Ria Irawan, Noboru Nomura (direktur penerangan dan kebudayaan Kedubes Jepang) dan Erwin Arnada (wkl pemred BI), dinilai sebagai sebuah karya yang final dan utuh.

Dari awal hingga akhir, menyuguhkan tata fotografi dan pencahayaan yang terjaga. “Sutradaranya jeli dan rapi dalam memilih pewarnaan dan aksesori pengisi komposisi gambar,” komentar Ria Irawan dan Garin Nugroho saat penjurian.

Selain piala Visia, malam itu dipersembahkan juga beberapa penghargaan khusus. Tahun 1997 ini tersedia dua trofi dari dua lembaga di luar panitia pelaksana produksi VMI. Trofi untuk kategori video dengan gagasn inovatif terbaik, persembahan tabloid Bintang Indonesia, diberikan kepada video musik Selama Kau Di Sini (Chintami Atmanegara). Trofi dari MTV Asia untuk kateogori video musik alternatif jatuh ke tangan Humania, lewat video Ya Udah.

Secara keseluruhan, pelaksanaan GF-VMI tahun 1997 ini jauh lebih baik dibanding tahun 1996 lalu. Terutama konsep pemanggungan ke-12 finalis. Set panggungnya berganti demikian cepat, tanpa harus kehilangan kerapian dan keindahannya.

Tak kurang, Rahul Kanna, VJ MTV Asia yang ikut membacakan nominasi bersama Bianca Adinegoro, terpesona dengan penataan dekor panggung. “Saya tak mengisi acaranya semeriah ini. ‘Performance’ di atas panggung sungguh-sungguh membuat saya kagum,” ujar Rahul Kanna, yang khusus datang mewakili MTV Asia.

Ditulis oleh: Erwin Arnada

 
Hasil ‘Grand Final’ VMI 1996-1997

Penghargaan Utama (Piala Visia)

Penata artistik terbaik: Kala Sang Surya Tenggelam (Chrisye)

Penyunting gambar terbaik: Teman Baik (Nugie)

Penata cahaya terbaik: Kebebasan (Singiku)

Penata kamera terbaik: Kebebasan (Singiku)

Sutradara terbaik: Glen Kainama (Kebebasan/Singiku)

Video musik terbaik: Kebebasan (Singiku)

Artis interpretasi terbaik: Nita Tilana (Tak Ada Waktu)

 

Penghargaan Khusus

Gagasan inovatif terbaik: Selama Kau Di Sini (Chintami Atmanegara)

Video musik alternatif terbaik: Ya Udah (Humania)

Kostum terbaik: Tenda Biruku (Padhyangan 6)

Model pendukung terbaik: Susan (Kala Sang Surya Tenggelam)

Spesial efek terbaik: Jujur (Huchie Wiby)

Video favorit: Berartinya Dirimu (Anang Hermansyah-Krisdayanti)

Penampilan artis terbaik: Oppie Andaresta (Rumahku)


Dok. Bintang, Edisi 328/Th. VII/minggu keempat Juni 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer