GOSIPASIA - LI TZEHSI, SI LELAKI BERTOPENG DALAM MISTERI PERKAWINAN (SCTV)
NAMANYA (waktu itu) belum dikenal di Indonesia. Kendati
demikian, perannya sebagai Ke Chihsuan dalam Misteri Perkawinan (waktu itu –
sedang ditayang SCTV), telah mendongkrak ketenarannya di Asia Timur dan Asia
Tenggara. Sosoknya jauh dari keglamoran bintang. Ia justru lebih identik
sebagai seorang penganut Buddha yang sederhana dan taat beribadat. Berikut
bincang-bincang langsung Citra dengan Li Tzehsi di Taipei, Taiwan.
Li Tzehsi saat berperan sebagai Ke Chihsuan, lelaki
bertopeng dalam MP
Si Kembar yang Sakit-Sakitan
“Hai, maaf ya, saya terlambat. Macet sih, tadi habis ikut perkumpulan bisbol,” sapa bintang kelahiran Taipei, 11 Agustus 1964 itu dengan ramah pada Citra yang menemuinya di ruang kerja Mr. Ping Hsintao, suami novelis kenamaan Taiwan, Chiung Yao. Tzehsi yang siang itu mengenakan atribut dihbuungi Miss He Hsiuchiung, menantu Chiung Yao.
Obrolan seputar karir dan serial televisi Misteri Perkawinan (MP) yang (saat itu) sedang diputar di SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) pun berlangsung dengan manis. Tzehsi enak diajak bicara. Sehingga tanpa terasa bincang-bincang mengahbiskan waktu lebih dari dua jam, yang sesekali diseling dengan menikmati seduhan teh hangat Oolong.
“Saya tertarik pada dunia film karena keluarga saya semuanya pemain Opera Peking, jadi hitung-hitung saya sudah sekitar 13 tahun (1983 hingga 1996-red) berkecimpugn di dunia ini, “katanya mengawali perbincangan. “Sebelum lulus dari sekolah drama, saya sudah ikut syuting film. Gui Zhangfu (Misteri Perkawinan) itu serial televisi saya yang pertama. Sudah nonton belum?,” katanya (saat itu) sambil menghirup tehnya.
Citra lalu menanyakan dengan latar belakang keluarga penekun seni tradisional, mengapa Tzehsi tidak berniat mengikuti jejak langkah mereka? “Waktu kecil, saya sakit-sakitan karena saya punya saudara kembar (juga bintang film, red.).” Walau sepasang saudara kembar yang sama gantengnya ini agak sakitan, mereka berdua toh tetap tidak bisa melepaskan diri dari dunia seni.
Uniknya, walau si kembar Li ini sama-sama bintang film, Tzehsi mengaku (sampai saat itu) cuma pernah dua kali bermain bersama adiknya. “Yang terakhir kami main berdua. Dia main bagian awal, saya main bagian akhir. Tapi kami sama-sama memerankan orang yang sama, yakni seorang Cina perantauan dari Korea. Lucu ya, selebihnya enggak pernah tuh kita main bareng. Belakangan dia malah sibuk bantu mama bisnis giok…,” katanya panjang lebar.
Sebagai seorang yang (sampai saat itu) telah berkecimpung di dunia perfilman dan pertelevisian selama 13 tahun (1983 hingga 1996-red) sejak lulus dari sekolah drama, Tzehsi mengutarakan kondisi perfilman di Taiwan belakangan (ketika itu) cukup memprihatinkan.
“Sebetulnya, kualitas film Taiwan, termasuk para bintang dan sutradaranya enggak perlu diragukan. Buktinya, banyak dapat penghargaan di ajang internasional, apalagi orang Taiwan itu sebetulnya doyan nonton film. Cuma masalahnya bikin film khan bukan sekadar untuk dapat penghargaan… tapi juga membuat semua orang suka melihatnya,” katanya sambil menyebut beberapa film yang sempat menyabet penghargaan.
Aman Chow-Jodie Foster
Obrolan pun berlanjut ke bintang, sutradara, dan film favorit. Pemuda lajang (era itu) berbibir tipis penggemar bisbol ini lantas bilang kalau dia paling suka sama Aman Chow, Robert de Niro, Al Pacino, Meg Ryan, dan Jodie Foster. “Saya suka sama Aman Chow. Kepingin sekali deh main bareng sama dia. Apalagi dia sekarang (1996-red) sedang berkembang di Hollywood.”
Perihal sampai kapan ia (waktu itu) akan menekuni dunia film, “Saya neggak tahu. Soalnya ini khan minat saya. Lagipula sebagai seorang Buddha yang taat saya percaya bahwa kehidupan itu selalu berubah… Kepinginnya sih terus main… apalagi memerankan berbagai peran yang berbeda,” jawabnya datar.
Ekspresi di wajahnya yang sejak tadi agak serius mendadak jadi ceria waktu diajak bercerita tentang wanita idolanya. “Tahu enggak sampai sekarang (1996-red) saya belum nemu tuh. Padahal, adik asya sudah menikah… bulan madunya malah ke Bali!,” katanya (waktu itu) sambil tersenyum.
Tentang wanita impiannya, ia berujar, “Dia mesti baik dan penuh bakti. Sekarang (1996-red) saya merasa calon pacar saya itu mesti beragama Buddha, karena tentu bisa lebih kompak… apalagi baru-baru ini saya dan beberapa orang artis seiman mengadakan kegiatan sosial. Kalau bisa sih dia berasal dari kalangan luar film.”
Kenapa? “Wah, jangan salah sangka. Bukan maksud saya orang di dalam lingkaran artis itu jelek. Mereka justru lebih bisa mengerti pekerjaan saya, tapi saya rasa frekuensi pertemuan bisa sedikit. Kalau orang biasa khan enggak… padahal kamu tahu sendiri kalau perasaan itu mesti dipupuk!,” tandas lelaki berdarah B ini sambil tersenyum manis.
“Pokoknya, dia harus berpikiran tradisional, dan penuh bakti, juga mesti memahami kebudayaan Cina. Dan… harus bisa merawat orangtua saya, deh!,” tambahnya lagi.
Usai berbincang soal wanita idola, Tzehsi membagi pengalamannya bermain film terutama film-film yang paling berkesan, “Ada satu film berjudul Lumang Shijia (Dunia Gangster),” katanya. Sambil menjelaskan bahwa dalam film inilah ia pertama kali menjadi ‘gangster’ yang harus melakukan adegan laga. “Saya enggak pernah berantem. Terus saya tanya sama sutradara, “Gimana caranya melakukan adegan ini?”…
Eh, dia bilang, “Ya kayak kalau kamu berantem aja waktu kecil!”” Tzehsi tertawa terkikik. “Saya bilang saya enggak pernah berantem!... He… he sutradaranya jadi bingung sendiri… Habis dulu dari pertama main film, saya selalu berperan jadi pelajar yang baik-baik,” katanya sambil terkikik lagi. “Tahu enggak, adegan berantemnya dilakukan di pantai. Jadi, seluruhb adan saya teras asin. Udah gitu penuh lumpur. Pokoknya, seru banget deh!”
Tzehsi mengatakan ia (waktu itu) masih ingat betapa lelahnya dia setelah memerankan adegan laga selama seharian. “Saya merasa jadi orang bodoh atau orang gila, tapi menarik. Boleh dibilang, film inilah yang mengubah pandangan saya, bahwa seorang aktor harus bisa memerankan berbagai peran, itu baru asyik!”
Peran apa sih yang paling disukai Tzehsi? “Saya lebih suka jadi orang jahat, misalnya jadi psikopat. Lebih menarik. Kamu nonton deh nanti malam,” katanya sambil menyebut judul satu film di mana dia berperan jadi seorang psikopat yang membunuh turis asal Jepang. “Film ini diangkat dari kisah nyata, lho!,” timpalnya lagi.
(Malam harinya Citra betul-betul nonton film dimaksud, dan merasa beruntung ketemu Tzehsi sebelum nonton film ini. Karena kalau tidak, bisa merasa sebel berhubung terpengaruh aktingnya yang begitu meyakinkan sebagai seorang psikopat yang sadis!) “Kalau sedang mempelajari peran jahat, saya berkonsentrasi mengingat-ingat adegan sadis dalam film-film yang sudah pernah saya tonton!”
Menangis Lihat Anjing
Akhirnya obrolan mereka berdua (Pangesti Atmodibrata/Taipei ’96 dengan Li Tzehsi) pun mengalir ke perannya dalam MP. “Saya suka peran Chihsuan, soalnya gejolak emosinya sangat tinggi! Saya suka yang begini!, “ujarnya sambil menggerak-gerakkan tangan di atas dadanya.
“Hubungan kerjasama saya dengan Ye Ling baik sekali. Dia itu lucu kalau mau nangis mesti lihat foto anjingnya dulu,” katanya sambil menceritakan kesulitannya saat melakukan syuting MP selama empat bulan di Cina daratan. “Saya masih ingat yang paling sulit adalah melakukan adegan menangis. Saya harus membuat air mata saya mengalir ke luar topeng. Itu khan sulit sekali karena ada jarak atnara topeng dengan pipi saya…,” katanya sambil mempraktekkan adegan itu.
“Terpaksa saya harus memencet mata saya sampai air matanya keluar. Sudah itu, harus diambil sudut khusus supaya bisa tampak dramatis. Sakit sekali mata saya. Padahal, seluruh wajah di balik topeng sudah basah bersimbah air mata,” paparnya panjang lebar. Terakhir, dalam perjalanan mencari taksi di sepanjang jalan Tunhwa, Tzehsi yang sama sekali tak tampak angkuh sebagai bintang, menitipkan pesannya untuk para pemirsa televisi Indonesia, terutama yang (waktu itu) masih pelajar.
Begini katanya, “Kalian yang masih pelajar, selain menyukai seorang idola juga tetap harus belajar. Saya berharap, Anda semua di Indonesia sehat-sehat selalu.” Dan, “Kalau ada kesempatan syuting di Indonesia saya pasti mau… eh, saya naik taksi duluan ya, mobilnya saya tinggal di stasiun televisi. Habis macet,” Katanya sambil naik ke atas taksi.
Dok. Citra – No. 315/VII/8-14 April 1996, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar