GLADYS SUWANDI: "1997, JADI ISTRI PRIA PAPUA NUGINI"
PROFIL UTAMA - MENIKAH DIAM-DIAM KARENA INGIN SUASANA LAIN
TIGA puluh satu tahun sebelum bacaan ini diturunkan Bintang, tepatnya 29 September 1966, Didi Suwandhi, pemuda Indonesia (era itu) kelahiran Cirebon yang (saat itu) sedang belajar di Cekoslowakia, menyunting dara (era itu) Praha bernama Dagmar, lalu menikahlah mereka di sana. Dari pernikahan itu lahir Gladys dan Denisa. Pernikahan orangtuanya mengilhami Gladys Suwandhi, menikah di tempat yang sama, 4 Januari 1997 lalu.
Bedanya, kalau sang ayah menyunting gadis (era itu) asli Cekoslowakia, ia disunting pemuda (era itu) berdarah Australia bernama Peter Gordon Colman. “Saya ingin tempat yang bersejarah bagi mama-papa juga berarti buat kami berdua,” kata Adys, panggilan akrab Gladys Suwandhi, yang lahir di Praha, 19 Desember 1969.
Sejak pertama kali bertemu, Peter, ‘creative director’ Bates Advertising – sebuah biro iklan multinasional di Jakarta, yakin Adys bakal jadi istrinya. “’One day U must be my wife’,” katanya kala itu. Ternyata, Adys juga punya perasaan sama. Ia menilai Peter beda dengan kebanyakan pria yang ditemuinya.
Tidak suka omong kosong, tapi lebih suka ngomong soal keluarga, hubungan antar manusia, sampai masa depan. Atas dasar itu, ia menerima lamaran Peter. “Ada dorongan dari dalam yang mengharuskan saya menerima lamarannya!,” tegas Adys. Keinginan Peter memperistri Adys mendapat sambutan hangat dari orangtua. “Papa dan mama terharu melihat keseriusannya,” ungkap artis yang pernah tergabung dalam trio Glamendys.
Jauh sebelum mengenal Peter, Adys punya impian, suaminya nantinya harus setia, sabar, dan penuh pengertian. 1997, Impian itu jadi kenyataan, yang hadir dalam diri Peter. Pria kelahiran Papua New Guinea, 3 Maret 1967 ini juga yang membuatnya mantap melangkahkan kakinya ke pelaminan.
“Tanpa kemantapan hati, mana mungkin saya memutuskan menikah?,” jelas Adys yang pernah main dalam film Pernikahan Dini dan Yang Masih Di Bawah Umur (layar lebar-red), serta serial Pondokan (TVRI). Kalau kemudian ia memutuskan menikah diam-diam, bukan karena ada yang tak wajar di balik pernikahan itu. “Saya hanya ingin suasana lain aja kok!,” tegasnya. 1997, Adys resmi jadi nyonya Colman. (Pihak Bintang waktu itu megnucapkan) selama tmenempuh hidup baru, semoga bahagia selalu.
Ditulis oleh: Masrur/Dyah Indrapati
Baru Pacaran 2 Setengah Bulan
“SAYA memang menikah dengan Peter, pria kelahiran Papua New Guinea berdarah Australia. Acaranya dilangsungkan 4 Januari lalu (1997-red) di Praha, Cekoslowakia, tepatnya di Karlstein Castle. Ia memberi saya sebuah cincin yang didesainnya sendiri, bertuliskan namanya.
Sedang baju pengantinnya dirancang Kim Thong. Kedua orangtua saya, saudara dan beberapa teman hadir pada acara sakral itu. Bertindak sebagai saksi, nyonya Leo Tobing, istri duta besar Indonesia di Praha. Sedang orangtua Peter berhalangan hadir, karena saat itu salah seorang iparnya yang jadi pilot mengalami kecelakaan.
Kenapa saya menikah diam-diam? Saya ingin suasana lain aja, kok. Jadi nggak ada sesuatu di balik pernikahan ini. Semuanya normal dan wajar-wajar saja. Doakan bulan Juli nanti (1997-red) kami bisa mengadakan resepsi pernikahan di Jakarta. Lalu, kenapa saya memilih Praha? Karena saya ingin tempat pernikahan papa dan mama, 30 tahun lalu (1967-red), juga membawa berkah buat kami berdua. Kebetulan saat itu sedang musim dingin. Jadi, setelah menikah bisa langsung bulan madu.
Wah, jangan ditanya soal perasaan deh, yang pasti ‘excited’ banget. Pokoknya membahagiakan diibaratkan seperti membangun rumah baru, bangunannya belum seluruhnya jadi. Di sana-sini masih memerlukan perbaikan. Nah, yang begini ini buta saya justru mengasyikkan. Sesuatu yang baru, yang membuat diri kita tertantang. Orang lain menganggap pernikahan saya terburu-buru, tapi bagi saya nggak. Saya menikah dengan kemantapan hati. Buat saya itu yang paling penting.
Mana mungkin saya menikah tanpa kemantapan hati? Terus terang, saya sendiri agak heran dengan keputusan saya menerima lamarannya. Padahal, waktu itu kami baru pacaran selama 2 ½ bulan. Tapi saya melihat Peter terlihat serius dan nggak main-main. Soalnya, saya takut kalau pacaran terlalu lama, ujungnya kegagalan yang saya terima! Selain itu, dorongan dalam hati yang begitu besar, membuat saya memutuskan menikah.”
5 Pertanyaan Sebelum Pernikahan
“JAUH sebelum kenal Peter, saya punya gambaran suami saya
kelak harus matang, sabar, sopan, dan penuh pengertian. Yang bisa ‘equal’ dan ‘sharing’,
serta berkomunikasi satu sama lain. Apalagi jika dia bisa jadi suami sekaligus
teman. Terus terang saya ngeri mendapat suami otoriter. Makanya saya bahagia
sekali ketika bertemu Peter. Pokoknya, semua keinginan saya hadir dalam diri
Peter.
Kebahagiaan asya bertambah, karena setelah menikah ternyata sifatnya nggak berubah, bahkan makin terlihat dewasa. Ia memberi kepercayaan dan kebebasan pada saya untuk melakukan segala kegiatan, asal untuk kemajuan diri. Ia nggak ingin saya hanya jadi ibu rumah tangga. Itu membahagiakan saya. Tapi itu pula yang kadang justru membuat saya kesal padanya.
Soalnya saya merasa kurang diperhatikan. Kalau sudah begitu dia pasti bilang, “Kamu sudah besar, sudah menikah, saya yakin kamu tahu batasan, mana boleh dan nggak.” Saya senang soalnya dia menganggap saya ‘perfect’, dan nggak mungkin macam-macam.
Sebagai pasangan suami-istri yang masih baru kayak kami, pertengkaran memang jarang terjadi. Kalaupun ada paling cuma kesalahpahaman kecil. Pokoknya yang manja-manjaanlah. Tapi bukan berarti dia nggak bisa marah lho. Yang membuat dia marah biasanya kalau saya mempertanyakan kenapa dia terlalu percaya saya.
Paling-paling cuma itu aja. Buat dia, pokoknya ‘everything is so simple’. Satu lagi yang menguatkan hubungan kami, 95% kami berdua cocok. Sebelum memutuskan menikah, kami membuat 5 daftar pertanyaan menyangkut soal pernikahan kami. Dari 5 pertanyaan itu 95% jawaban kami sama. Kami berharap pernikahan kami lancar-lancar saja.”
Sejak Awal, Dia Terlihat Serius
“SEMUA berawal di satu kafe, di Pondok Indah Mall, Jakarta, sekitar September 1996. Waktu itu saya dan beberapa teman sedang minum di sana. Tiba-tiba seorang pemuda bule mendatangi saya dan bilang, “Maaf kalau saya nggak sopan. Tapi saya nggak bisa nahan diri untuk berkenalan dengan Anda.” Waktu itu saya sempat kaget juga sih, tapi tetap bisa menguasai diri.
Kami lalu ngobrol banyak hal. Dia memang beda dengan yang lain. Ia serius dan ngomong macam-macam. Ia banyak cerita soal keluarga, hubungan antar manusia, dan masa depan. Jauh dari nuansa hura-hura. 2 minggu setelah perkenalan, Peter bilang ia cocok dengan saya. Bahkan ingin menikahi saya.
Setelah itu, saya pergi ke Belanda untuk urusan pekerjaan. Sebelum berangkat, saya beritahu dia agar tidak berpikir macam-macam dan terlalu jauh. Saya bilang begitu, karena saya takut bakal terjadi apa-apa. Bisa saja khan saya ketemu dengan pria lain yang lebih cocok, atau bisa jadi dia tergoda dengan wanita lain yang lebih mempesona. Apalagi 3 minggu khan waktu yang cukup panjang untuk sebuah perubahan. “Pokonya, kita lihat nanti saja!,” tegas saya.
Ketika urusan saya di Belanda selesai, saya pergi ke Praha. Tanpa saya duga, ia menelepon saya ke sana. Peter bilang papanya ada di Jakarta. Saat itu juga ia memberi kesempatan papanya ngomong sama saya. “Katanya kamu akan menikah dengan anak saya. “Ok, wish U luck’,” begitu kata papanya. Saya marah sama dia! Soalnya, dia nggak memberitahu sebelumnya.
Sekembalinya ke Indonesia, hubungan kami makin serius. Ia bilang, akan menikahi saya. Ketika itu saya sampaikan pada orangtua, mereka terkejut sekaligus terharu. Peter mengundang papa, mama, dan saya makan malam. Peter bilang, “Saya suka putri anda, saya ingin menikahinya.” Nggak ada mimik kebohongan dan main-main. Saya bisa merasakan, saat itu dia ngomong dari hati yang paling dalam, dengan segenap perasaan.
Ibu saya langsung menangis terharu. Tapi yang paling terharu justru papa saya. Mungkin karena saya putri sulungnya, yang sebentar lagi menjadi mempelai.”
“Keinginan Saya Sederhana Saja: Punya Suami Setia”
“SEPERTI wanita lainnya, saya nggak muluk-muluk dalam hidup
ini. Sebelum menikah, saya ingin mendapat suami yang setia. Soalnya, sulit
zaman sekarang (1997-red) mendapat suami seperti itu. Nah, kalau sekarang
(1997-red) saya dapat pria seperti dia, sungguh saya beruntung sekali.
Meski dia bekerja di ‘advertising’ yang setiap saat bisa ketemu wanita dengan berbagai tipe, tapi saya nggak khawatir dia akan “main-main”. Lagian pekerjaan khan bukan jaminan seseorang untuk menyeleweng atau tergoda. Yang lebih penting karakter dan kepribadian yang bersangkutan. Karena saya tahu karakter dan kepribadiannya, makanya saya tenang-tenang saja.
Kalau mau jujur, sebenarnya dialah yang harusnya khawatir dengan saya. Hahaha. Soalnya, saya lebih banyak ketemu dengan banyak orang. Tapi untung, kami saling memahami profesi masing-masing, hingga jarang sekali timbul kecurigaan. Kami saling menghormati satu sama lain. Dia nggak pernah membatasi aktivitas saya. Ia selalu menegaskan bahwa ‘trust’ adalah 'respect’. Dalam pernikaahan ‘trust’ sangat penting, lebih penting daripada cinta.
‘Respect’ pada suami sama nilainya dengan ‘respect’ pada orangtua. Kalau kita ‘respect’ pada suami, nggak mungkin kita menyakiti, apalagi mendustainya. Sama persis dengan harapan orangtua yang mengharuskan saya selalu menghormati suami. Mama saya selalu berpesan, apapun keadaannya, saya harus selalu mendampinginya.”
Pelajaran Penting dari Papa
“SEJAK usia 17 tahun saya terbiasa mencari uang sendiri dan
sibuk dengan berbagai bisnis. Salah satunya bisnis pertunjukan. Sini yang membuat
saya nggak tergantung pada siapapun, apalagi soal uang. Meski sekarang
(1997-red) sudah menikah, saya tetap melakukan kesibukan bisnis saya. Untuk
terjun lagi ke dunia ‘showbiz’, wah, kayaknya berat deh! Soalnya, keadaannya
sangat beda.
Meski Peter memberi saya kesempatan untuk melakukan apa saja, tapi saya nggak mau memungkiri bahwa saya sudah menikah. Saya harus melakukan tugas-tugas saya sebagai istri. Lagian saya vakum dari dunia ‘showbiz’ sudah sekitar 4 tahun (1993 hingga 1997-red). Main sinetron kayaknya nggak mungkin. Nyanyi pun demikian, aplaagi jika harus melakukan tur ‘show’ ke daerah-daerah.
Kasihan dong kalau Peter sering ditinggal. Yang paling pas barangkali jadi pembawa acara atau ‘host’ acara ringan seperti Rocket yang saya bawakan beberapa tahun lalu di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).
Saya melakukan itu bukan semata-mata karena uang, lho. Uang bukan segalanya, begitu ajaran papa kepada saya. Uang memang penting, tapi kebahagiaan lebih penting. Papa bisa bilang begitu karena ia mengawali semuanya dari nol. Ia lahir di kampung kecil di Cirebon. Ia mengajarkan saya banyak hal, salah satunya soal kebahagiaan. Kebahagiaan lebih penting dari apapun.”
Peter Gordon Colman: “Firasat Saat Ketemu “Orang Yang Tepat””
(Peter - waktu itu - bekerja sebagai ‘creative director’ di Bates Advertising, sebuah biro iklan multinasional di Jakarta).
“KAMI memang sudah menikah, 4 Januari lalu (1997-red) di Praha, Cekoslowakia. Kami memutuskan menikah di negeri itu karena orangtua Gladys juga menikah di sana. Kami menikah dengan cara Islam. 2 tahun sebelum ketemu Gladys, saya sudah jadi muslim. Kami ketemu pertama kali di Pondok Indah Mall. Waktu itu saya sedang minum kopi. Nggak jauh dari meja saya ada Gladys.
Saya pikir dia melihat ke arah saya dan tersenyum. Hingga saya beranikan diri mendatanginya. Dugaan saya salah. Ternyata dia bilang nggak senyum pada saya. Tapi karena terlanjur, ya saya terpaksa ngobrol sebentar dengannya. Saya minta nomor teleponnya. Lalu pergi. Malam itu juga saya langsung meneleponnya. Dan sejak saat itu, kami mulai telepon-teleponan.
Gladys enak diajak ngobrol, jujur, dan punya ‘sense of humor’ yang tinggi. Antara kami berdua juga punya banyak kecocokan. Saya nggak tahu kenapa suka dia. Beberapa bulan kemudian, kami sudah jadi suami-istri. Hebat ya?
Padahal sebelumnya, setiap akan memutuskan sesuatu saya nggak pernah berpikir secepat itu. Apalagi untuk keputusan besar semacam pernikahan. Saya berpatokan, setiap orang punya firasat kalau ketemu orang yang tepat (calon suami atau istri-red). Nah, itulah yang saya rasakan waktu itu. Lagian, kalau kita saling mencintai, semua pasti berjalan dengan baik.
Saya nggak tahu Gladys itu seorang artis. Bagi saya keartisannya bukan masalah. Makanya nggak masalah buat saya bila harus diwawancarai seperti ini. Ini sudah risiko menikah dengannya. Saya yakin ada yang berubah setelah pernikahan ini, paling tidak kami lebih matang dan bertanggung jawab. Kalau mau bukti, ya kita tunggu sajalah.
Hubungan saya dengan mertua baik-baik saja. Kebetulan saya termasuk tipe konservatif, di mana keluarga sangat penting. Saya sadar menikah itu menyatukan 2 pribadi dan keluarga yang berbeda. Jadi hubungan saya dengan keluarga Gladys harus baik. Kalau nggak, mana mungkin saya dibolehkan menikah dengannya? Pokoknya kami bahagia deh. Dan kebhaagiaan ini makin lengkap kalau nanti kami dianugerahi anak.”
Busana: Nicolas Edo
Tata rias:
'Make up': Ari
'Hair': Dono (Alfon's Salim Panglima Polim)
Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar