GINA SONIA: "HIDUP DI ANTARA DUA WANITA"

 Gina (waktu itu) masih mengepakkan sayap, mencari yang lebih baik lagi

MEMPUNYAI ibu bintang film bukan keharusan hidup glamor. Bahkan sejak dini, Gina Sonia, anak bintang kenamaan Farida Pasha sudah memutuskan untuk tidak menjamah dunia film dan lebih menekuni studinya. Namun, nasib menghendaki lain. Meski berbeda media, profesi Gina (belakangan itu) mirip mamanya. Sejak diterima menjadi penyiar TVRI Bandung, 1987, Gina tak bisa mengelak masuk dalam jajaran ‘public figure’.

Profesi itu dimasukinya dengan penuh kesadaran karena memang sesuai dengan bekal pendidikannya di jurusan humas FIKOM Unpad (Universitas Padjadjaran), Bandung. Sampai 1992, minat Gina masih pada peningkatan pendidikan formalnya. Sehingga ketika ditawari TVRI ikut pendidikan ‘master of business administration’ (MBA) yang diselenggarakan Telkom, Bandung, gadis (era itu) kelahiran Tasikmalaya, 7 Maret ini, spontan bersedia.

Kalaupun (belakangan itu) bisa dibilang ia gandrung akan profesi sebagai penyiar, Gina mengaku tak menyangka bakal terjun ke dunia itu. “Dulu (sebelum 1992-red), cita-cita Gina sebenarnya mau jadi insinyur. Sempat diterima lewat PMDK di IPB (Institut Pertanian Bogor). Cuma dilarang sama ibu. Terus, Gina ikut Sipenmaru dan diterima di FIKOM Unpad. Dan di Unpar juga lulus dan diterima di ekonomi.

Ibu yang sebetulnya adalah nenek Gina, bilang, “Ambil saja yang di Unpad, kamu pasti cocok di sana.” Gina sempat tidak bisa diterima keputusan ibu. Tapi sekarang (1992-red) setelah Gina jalani, baru Gina sadar kebenaran ucapan ibu,” kisah gadis sulung (era itu) keturunan Sunda-Pakistan ini (waktu itu).

GINA yang berbobot/tinggi (waktu itu) 48 kg/160 cm, sejak kecil memang hidup dengan nenek yang dipanggilnya denga nsebutan ibu. Sementara kedua orangtua dan dua adiknya tinggal di Semarang.

“Sejak Gina dibawa ke nenek di Bandung, nenek tidak mau melepas Gina sampai meninggalnya tahun 1988. Mungkin karena saat itu mama Gina masih sangat muda, sehingga nenek Gina takut mama tidak bisa mengurus Gina,” jelas gadis (era itu) penyuka warna hitam-putih ini tentang awal mula tinggalnya bersama sang nenek.

Hidup di antara dua wanita, Gina mengaku tidak mengalami kesulitan. “Kekacauan bisa terjadi kalau keduanya tinggal satu atap dalam waktu berasmaan. Kalau Gina khan enggak, ibu di Bandung, sedang mama di Semarang. Masukan dari mama maupun ibu tidak datang secara bersamaan, tapi satu-satu, ada hal-hal di mana ibu lebih berperan, dan mama di lain soal, namun keputusan tetap ada di tangan Gina,” jelasnya serius.

Menjadi anak artis, ujar gadis (era itu) yang hobi nonton dan bac aini, tidak mengubah keseharian hidupnya. Mungkin karena sejak mula sang mama lebih mendorong gadis (era itu) ini untuk menekuni bidang studi. “Mama orangnya disiplin, lho. Apalagi kalau menyangkut sekolah Gina.” Ketika ditanya tentang rencana menikah, gadis (era itu) ini (waktu itu) menjawab singkat, “Tidak tahu!”

Tidak mau atau tidak tahu? “Untuk soal yang satu ini, Gina benar-benar tidak tahu! Gina serahkan pada Tuhan. Kalau Tuhan sudah menentukan, tidak mungkin kita bisa menolak atau ngotot pengen segera!,” elaknya dalam nada berfilsafat. Tapi, calon (waktu itu) sudah ada khan? “R-H-S. Pokoknya Gina belum menikah,” jawabnya (saat itu) sambil tersenyum.

Ditulis oleh: Erika Paula 

Alamat Gina Sonia (waktu itu):

Jl. Sawahkurung Timur 6

Bandung

Dok. Citra – No. 120/III/15-21 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer