GARA-GARA LAUT MATI, KUIS BERSERI MENGUKIR PRESTASI (RCTI/SCTV) DIGUGAT PESERTANYA
LAUT, LAWAN. Saat syuting Kuis Berseri Mengukir Prestasi (RCTI/SCTV) yang dipandu Kris Biantoro pada Kamis, 18 Februari 1993, grup Burhanuddin Abe, Mia, dan Arie beradu pengetahuan dengan grup lawannya. Pertarungan kedua grup berlangsung ketat dan seru sehingga kedudukan seimbang. Untuk menentukan pemenang, akhirnya Kris Biantoro melontarkan sebuah pertnayaan yang harus dijawab peserta.
Pertanyaannya adalah, “Laut apa yang tidak bisa dilayari karena kadar garamnya tinggi?” Pertanyaan ini dijawab oleh grup Burhanuddin Abe dengan jawaban Laut Hitam.
Saat itu juri dan pembawa acara membenarkan jawaban tersebut, sehingga grupnya Burhanuddin Abe keluar sebagai pemenang, dan berhak atas hadiah dari sponsor. Tapi hadiah (waktu itu) belum diterima datang telepon dari PT Scorta (produser kuis ini) yang membatalkan kemenangan tersebut dengan alasan jawaban itu salah. Jawaban yang benar adalah Laut Mati, bukan Laut Hitam.
“Jawaban yang benar memang Laut Mati, tapi salah seorang anggota grup itu ngotot dan mengatakan kalau Laut Hitam adalah Laut Mati. Kris Biantoro terpengaruh dan menganggap menang,” jelas K. Suprapto, ‘production manager’ dari Scorta. “Tapi Kris Biantoro dan kami tidak yakin, lalu kami buka peta dan akhrinya terbukti kalau Laut Hitam berada di daerah Rusia dan Turki, sedangkan Laut Mati di Yordania,” jelasnya lebih lanjut.
Kris Biantoro
“Kemudian, kami hubungi kelompok Burhanuddin Abe untuk menginformasikan hal ini. Kami nyatakan kelompoknya mereka kalah dan yang menang adalah grup yang satunya,” ungkap K. Suprapto.
Selanjutnya, pihak Scorta melakukan ‘editing’ untuk megnhilangkan adegan tersebut, sehingga pemirsa RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) tidak melihat debat tentang Laut Hitam dan Laut Mati di layar kaca saat ditayangkan pada hari Minggu, 9 Mei 1993 jam 17.30 WIB. Tapi, pihak Burhanuddin Abe tidak puas dengan keputusan tersebut dan meminta Scorta mengulangi bagian akhir dari kuis itu.
“Tapi mereka menolak karena terbentur biaya produksi yang cukup besar untuk syuting ulang adegan itu,” jelas Burhanuddin Abe. Untuk merekam ulang, memang cukup memakan biaya. Jadi, PT Scorta memutuskan untuk mengedit bagian itu, kemudian masuk adegan Kris Biantoro mengumumkan jawaban yang benar serta pemenangnya. Lalu kenapa hal itu bisa terjadi?
“Saya kebetulan ada pada saat syuting dan sudah ragu-ragu atas keyakinan kelompok tersebut. Malam harinya, kami bongkar peta dan mencari tahu mana jawaban yang benar. Setelah kami peroleh, segera kami hubungi kelompok tersebut. Itu saja masalahnya,” jelas Suprapto lebih lanjut. Bagaimana dengan hadiah?
K. Suprapto
“Pemenang tetap mendapat hadiah utama dari sponsor kami.
Tapi kelompoknya Burhan khan sudah kalah. Ya, memang tidak memperoleh
hadiahnya, bukannya dibatalkan! Kelompok mereka tidak memenangkan kuis ini!,”
tegas K. Suprapto, yang merangkap produser pelaksana kuis ini. “Namun,
sayangnya kelompok Burhan menganggap acara ini ibarat pertandingan olahraga!
Bila juri atau wasit menyatakan menang, otomatis mereka pemenangnya!
Acara ini khan memerlukan jawaban yang absolut! Tidak bisa menyamakan jawaban Laut Mati dengan Laut Hitam! Jadi terpaksa kami buat acara ini menurut aturan yang kami buat! Seandainya Burhan kecewa atas peristiwa ini, kami beri kesempatan lagi pada mereka untuk tampil lagi di acara ini, dan mengadu kepintaran dengan kelompok yang mengalahkan mereka!,” tandas K. Suprapto. Bagaimana, (waktu itu) mau coba lagi?
Ditulis oleh: Ludiyanto Hasibuan
Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar