FIRDHA RAZAK: "KETIGA TAK SEENAK YANG KEDUA"
GURU TERCINTA, sinetron serial RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)-SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) tiap Sabtu malam yang dihentikan sementara itu, mencatat penampilan Firdha Razak sebagai murid SMA.
Lagi-lagi, ia “dipasang” sama dengan film-filmnya dahulu (jauh sebelum 90an-red). Serupa. Sepertinya wajah imut-imutnya tak mau peduli dengan usia yang (saat itu) sudah 28, anak (waktu itu) sudah 2. Tak ingin tambah lagi? “Belum ada pikiran, takut yang ketiga tak seenak yang kedua,” jawabnya (kala itu). Lho, melahirkan anak enak to?
Firdha sudah membenarkan. Setidaknya, sampai batas dua kali. 1992, terlihat betapa dewasanya Firdha. Menjadi ibu dan (sampai saat itu) 8 tahun menjadi istri, membuatnya sampai tingkat kematangan. Karenanya, dengan enak pula ia menganggap anak-anak dan suaminya (kala itu) sebagai teman.
“Sebagai istri, saya harus tahu kapan melayani suami.” Nah, ia bahkan sduah menyinggung titik penting hidup berumahtangga. “Jangan dipaksain, anggap sebagai suatu ‘refreshing’,” ia bahkan menasihati. “Sebaiknya dilakukan ketika sama-sama membutuhkan, sama-sama suka, baru dapat dirasakan kenikmatannya.”
Memang. Itulah Firdha yang sebenarnya. Yang sudah pemberang sejak kecil, yang jempolnya sering dipencet ibunya, yang kalau ribut dengan suami selalu menceburkan kepalanya ke bak mandi. Mau tahu lebih lanjut? Ya buka saja halaman 12 (Citra No. 121/III/22-28 Juli 1992), si muka bocah ini akan cerita lebih lugas.
KALAU RIBUT DENGAN SUAMI, FIRDHA RAZAK NYEBUR KE BAK MANDI
MESKI selalu memerankan tokoh remaja yang centil dan manja (sampai saat itu), Firdha Razak merasa, pendidikan anak adalah tanggung jawabnya. Dan wanita tidak bisa melepaskan kodratnya sebagai seorang ibu, walau sesibuk apapun.
“Dari kecil saya nggak bisa diam. Saya seorang pekerja. Jadi dari pertama, saya sudah memiliki rencana dalam mendidik anak-anak. Saya sering mengajak mereka ke tempat syuting dan ke bank. Biar mereka tahu, uang yang diperoleh itu untuk apa saja. Tapi tidak semua permintaan mereka saya penuhi. Saya akan membeirkan setelah mereka menunjukkan suatu prestasi,“ jelas ibu dari Rafi dan Ilham ini.
“Dan ibu yang baik harus bisa menjadi manajer rumah tangga, bisa mengurus semua keperluan,” tambah istri pengarah acara di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), Razak Satari (waktu itu) ini (kala itu). Bagi Firdha, anak ibarat teman. Jangan heran, kalau anak-anaknya terlihat cukup berani.
Bahkan sanggup ngobrol dengan rekan-rekan Firdha apabila diajak bepergian. Putranya dinilai (waktu itu) sudah terbiasa dan mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Namun, Firdha sendiri (waktu itu) belum dapat menilai, apakah dia sudah berhasil mencapai target sebagai ibu yang baik.
“Saya belum tahu. Karena sifat masing-masing anak itu berbeda. Saya masih menerapkan berbagai cara, masih mencari,” ucapnya. Wanita yang terlahir dengan nama Amatul Firdhausya ini, menikah ketika usianya masih belia, 21 tahun. Ia tidak pernah merasa kecewa dengan pernikahan mudanya. Karena dalam usianya (kala itu, 28 tahun, 1992-red), ia tidak merasa kerepotan dalam mengurus anak-anaknya.
Pernikahannya dengan pasnagannya yang dinilai pendiam, dirasanya sangat cocok. Mereka tetap sering berkomunikasi, meski keduanya sibuk. “Pokoknya harus seimbang antara kerja dengan melayani suami. Kadang saya menyesuaikan dengan jadwalnya. Saya datang ke sana (RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta-red) nganterin makanan. Pokoknya, komunikasi jalan terus.”
RESEP kelanggengan perkawinannya sampai 8 tahun (1984 hingga
1992-red) ini? “Saya nganggapnya tetap sebagai teman, lebih enak, karena bisa
mengkritik dan memuji tidak dengan pamrih,” ungkap wanita bertinggi-berat (waktu
itu) 155-44 ini. Tapi jangan dikira pasangan ini tidak pernah bertengkar.
“Ada juga! Tapi setiap berantem, nyebur aja di bak, biarpun berantemnya jam 2 pagi! Kalau udah mau mecahin barang atau muka saya udah ungu, langsung lari ke kamar mandi!,” ucapnya dengan mimik serius. Kalaupun berantem, tidak pernah lebih dari 2 jam, serta tidak di hadapan anak-anak.
Firdha juga punya resep selalu minum jamu hasil ramuan ibunya. Untuk menjaga badannya biar tetap kencang dan mampu memberikan pelayanan yang tetap memuaskan untuk suaminya. Diingatkan tentang keengganannya melahirkan ketiga kali, Firdha punya pengalaman tersendiri. Ia sempat senewen mendengar cerita seorang ibu yang merasa sangat kesakitan pada saat melahirkan yang keempat kalinya.
Padahal saat itu, Firdha sedang menunggu kelahiran putra kedua. Inilah yang membuatnya sedikit was-was untuk melahirkan lagi. Keseriusan Firdha dalam mendidik anak dan melayani suaminya, sama dengan keseriusannya dalam menekuni dunia sinetron. Kehidupan sehari-harinya memang tidak jauh berbeda dengan peran-perannya.
“Nggak nyesel, sih. Tapi kondisi memang sekarang (1992-red) begitu. Kalau seseorang dinilai cocok satu peran, pasti akan terus mendapat peran yang sama.” Akibatnya, kalau sedang pertunjukan, pipi Firdha harus rela dicubit penggemar. “Bahkan ada ibu-ibu yang tidak percaya, saya dikira operasi plastik. Sampai-sampai pipi saya ditarik-tarik,” tutur wanita yang dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1964 ini.
KALAU sebagian orang menuduhnya sombong, Firdha menyadari itu. “Saya memang susah untuk memulai dengan orang-orang yang belum kenal. Tapi kalau udah kenal, rame terus. Dan saya dari kecil pemberang, paling nggak suka kalau diliatin orang. Bawaannya kesel, kalau udah gitu, cara jalannya lurus aja, nggak liat kiri-kanan! Tapi ibu sering ngingeitn, jempol saya ditekan, supaya senyum,” katanya sambil terkekeh.
Akibat mukanya yang imut-imut, dan peran remaja sekolah, terasakan juga pada pergaulannya pada sesama pengusaha. “Saya pernah nggak diperhatikan oleh ibu-ibu pengusaha, karena dikira masih anak-anak. Tapi setelah saya banyak mengajukan ide-ide cemerlang, baru saya diajak diskusi,” ungkap wanita yang (waktu itu) juga menekuni usaha pakaian jadi untuk anak-anak, bahkan sudah ekspor ini.
Kalau (belakangan itu) Firdha aktif di dua profesi, keinginan untuk mencoba bidang lain (waktu itu) masih ada. Firdha ingin mencoba membuat sinetron situasi komedi. Untuk mewujudkan rencannaya ini, ia mendapat bantuan dari beberapa rekannya. “Saya ingin memberikan kesempatan pada yang muda-muda, dan sekaligus juga melihat adanya peluang di televisi swasta yang lumayan baik,” ucap wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Akademi Ilmu Sekretaris Indonesia, Jakarta, ini.
Banyak yang ingin dicoba untuk ditekuni. Sebagai upaya untuk mencapai keinginan utamanya sejak kecil: jadi orang kaya biar bisa ngasih ke orang yang nggak punya. Untuk itu, Firdha siap dengan berbagai risikonya. “Orang hidup harus berani berspekulasi. Kalau belum menemui kegagalan, nggak bakalan mau berusaha. Kegagalan itu jadi pelajaran, bias ngasih tahu ke orang lain. Jangan salah, kegagalan itu juga ilmu!,” tuturnya.
Ditulis oleh: Utami Sri Rahayu
Alamat Firdha Razak (waktu itu):
Jln. Komp. DPR A 5/6
Bintaro, Jakarta Selatan
Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar