FILM-FILM SCTV TAK DISENSOR LEBIH DULU
SCTV, Surabaya Centra Televisi, atau belakangan itu Surya
Citra Televisi yang mengudara sejak pekan terakhir Agustus 1990 dari kawasan
Pradah Kali Kendal, kecamatan Tandes (lebih beken dengan nama Darmo Permai),
Surabaya, (waktu itu) mulai menghimpun pemirsa.
Bukan cuma dalam radius jangkauan siarnya, sekitar 80 kilo. Lebih daripada itu, daerah-daerah seperti Jombang, Kertosono, Probolinggo, atau Malang, yang jaraknya lebih dari 80 kilo dari Surabaya (waktu itu) masih bisa menangkapnya. Tentu dengan tambahan perangkat antena. “Saya bikin sendiri dari kawat jemuran dan beberapa lempengan aluminium.”
Itu cerita seorang sopir taksi di Surabaya yang punya rumah di Jombang. Dengan sebuah pipa yang tidak seberapa tinggi, antena itu dipasang di atap rumahnya. Maka tayangan SCTV pun nongol di pesawat televisi berwarnanya. “Tapi kalau antenanya kena goyang sedikit, gambanrya hilang.”
Antusias penonton televisi di Surabaya terhadap SCTV tak terkatakan lagi. Akhudiat seorang sutradara drama yang dulu (jauh sebelum 90an-red) sering memenangkan sayembara penulisan drama versi DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) sampai dapat membuat statistik penonton televisi Surabaya. “Dalam satu kampung, akan terlihat: yang tevenya berwarna akan nonton SCTV, yang tevenya hitam putih, nonton TVRI.”
Keinginan menyaksikan tayangan SCTV bukan cuma datang dari Surabaya, Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan wilayah sekitarnya.
Surat-surat yang masuk ke SCTV seharinya mencapai 70 pucuk. Malahan ada yang datang dari Bondowoso maupun Yogyakarta. Yang jaraknya tentu lebih dari 100 kilometer dari Surabaya. “Mereka menanyakan bagaimana caranya bisa menangkap tayangan SCTV.” Tentu jawaban Gina Raliana, ‘public relations’ alias humas televisi swasta kedua di Indonesia ini sembari guyon. “Ya, pindah ke Surabaya saja.”
Yang jelas, Gina beserta staf humasnya dibikin pusing menjawabi surat sebanyak itu. “Kami konsekuen akan menjawab surat-surat yang masuk. Soalnya kami yang minta tanggapan masyarakat, mengenai acara-acara SCTV.” Memang, sejak minggu kedua SCTV mengudara, di sela-sela paket acara dna film serinya menyodorkan telop.
Mulanya, antara lain: “Jangan lupa, kirimkan saran Anda ke studio SCTV.” Belakangan, ketika surat-surat yang masuk ke stasiun televisi swasta yang dimodali – antara lain – Sudwikatmono ini mulai menumpuk, ada telop baru (waktu itu): “SCTV Mengucapkan Terima Kasih Bagi Anda Yang Telah Mengirimkan Laporan ke Studio Kami” (kalimat ini ditulis sesuai dengan susunan huruf dan kata-kata telop yang ditayangkan SCTV).
Berbagai tanggapan disampaikan lewat surat-surat itu. “Yang paling banyak soal acara, terutama penayangan musik.” Para pemirsa SCTV itu menayangkan, kenapa kok spot musik selingannya cuma “itu-itu” melulu? Kebanyakan dari penyanyi dan lagu barat yang tidak disebutkan nama penyanyi dan lagunya.
“Penonton mengharapkan paket musik Indonesia diperbanyak,” kutip Gina yang suka ber-‘English speaking’. Di samping itu, ada juga tanggapan-tanggapan yang lebih serius. Misalnya, soal penjadwalan acara dan jam siarnya. Film seri – yang cenderung berupa ilmu pengetahuan – Beyond 2000 ditayangkan pada pukul 23.00 WIB. Padahal, film ini lebih kena sasran kalau ditayangkan pada jam siaran yang lebih sore.
“Kami masih akan terus menyesuaikan tayangan acara dengan minat pemirsa,” janji Gina maupun staf humas SCTV lainnya, Sirikitsyah. Penyesuaian itu (waktu itu) akan berlangsung selama kuartal terakhir tahun 1990 ini. “Setelah itu, barangkali kami sudah mulai mantap untuk menyusun program SCTV.”
Tak perlu heran kalau ‘light up’ acara yang disodorkan SCTV setiap hari sering berubah. Kalau mau teliti, jadwal acara yang ditayangkan hari itu untuk program besoknya atau lusanya, pas hari penayangannya bisa diganti “Biasanya, ada perubahan film yang dikirim dari Jakarta (RCTI-red).” Tka ada keterangan rinci mengenai alasan perubahan kiriman film itu.
Atas: salah satu petualangan Mac Gyver. Bawah: dari kiri: Joe Penny sebagai Jake dalam seri Jake and The Fatman, dan dengan L.A. Law. Semuanya diloloskan begitu saja.
YANG pasti, film-film seri yang (waktu itu) akan ditayangkan SCTV baru jelas episodenya, paling cepat sehari dua sebelum penayangannya. Tapi kalau ingin tahu episode apa yang (waktu itu) akan ditayangkan – L.A. Law misalnya – minggu sebelumnya. “Episode film seri yang ditayangkan SCTV, adalah episode yang ditayangkan RCTI minggu sebelumnya.”
Itulah sebabnya, menurut Sirikit, koran-koran Surabaya yang menulis sinopsis episode film seri yang (waktu itu) akan ditayangkan SCTV, disarankan (waktu itu) untuk mengutip majalah Vista. “Majalah itu khan memuat lengkap jadwal acara RCTI.”
Kalau kemudian tiba-tiba SCTV menayangkan Miami Vice pada minggu pertama siarannya sudah meningjak episode tokohnya James Sonny Scrocket dan Tubbs sudah bekerjasama, dan pada minggu selanjutnya episode Crooket baru kenal Tubbs, ini memang sebuah kerancuan yang tidak disengaja. “Soalnya, RCTI juga mengawali film serinya dari ‘pilot’-nya.”
Maksud Gina adalah episode awal dari film seri yang bersangkutan, di mana baru memperkenalkan tokoh-tokoh utamanya. “RCTI pun memulai episodenya dari awal kembali. Dulu (sebelum 24 Agustus 1990-red) pemirsanya khan cuma 120 ribu pelanggan dekoder. Sekarang (Oktober 1990-red), 7 juta pneduduk Jakarta dan sekitarnya ikut nonton RCTI.”
Pengadaan film seri untuk SCTV memang “patungan” dengan RCTI Jakarta. Ini pun tidak diterangkan secara rinci mengenai bentuk “patungan”-nya. “Yang jelas, kalau RCTI bisa menayangkan lebih dulu film seri yang bersangkutan, karena di Jakarta, fasilitasnya lebih lengkap. Di sana ada BSF (Badan Sensor Film), bisa langsung bikin terjemahan, ‘titling’ dan tentunya kalau ditayangkan di Surabaya duluan, nggak efisien.”
SCTV mendapatkan kiriman ‘copy’ film seri itu. “Kecuali kalau ‘copy’-nya jelek, baru dikirimkan ‘master’-nya. Tapi harus dikembalikan lagi ke Jakarta (RCTI-red),” jelas staf ‘programming’ SCTV. Pada waktu-waktu yang (kala itu) akan datang, SCTV memang merencanakan utnuk mebmeli film sendiri, menrejemahkan sendiri, jadi tidak tergantung pada RCTI.
Kendati demikian, Gina ngotot kalau RCTI harus dibedakan dengan SCTV. Bedanya? “RCTI di Jakarta, sedangkan SCTV di Surabaya.” Karena perbedaan itulah, program acara SCTV (waktu itu) masih kocar-kacir. “Kami sebenarnya sudah bikin program untuk satu bulan di muka. Tapi kalau setiap waktu kiriman filmnya berubah, khan payah.”
1990 ini, menurut Gina, jika SCTV berani melempar jadwal acaranya seminggu sekali – paling tidak – untuk media massa di Surabaya. “Itu pun setiap kali harus menelepon mereka jika ada perubahan mendadak.” Fenomena SCTV barangkali wajar bagi sebuah ‘broadcast’ – yang (waktu itu) baru muncul di tengah masyarakat pemirsanya.
Sebuah usulan menarik datang dari seorang dosen komunikasi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Airlangga Surabaya, Soetojo Darsosentono, M.S. “SCTV harus banyak berkonsultasi atau berdialog dengan para ilmuwan, sosiolog, antropolog, budayawan, atau malah ‘entertainer’. Pokoknya jangan ahli pendidikan dan agama. Nantinya akan banyak acara yang ditabukan.”
Usulan ini, tentu untuk megnhasilkan program siaran yang proporsional, yang enak ditonton berbagai segmentasi pemirsa.
Pasalnya, kendati pernah dirilis koran-koran lokal Surabaya, bahwa SCTV (kala itu) akan dipantau oleh kelompok tim komisi siaran, kayaknya (waktu itu) belum berjalan. A. Sudiono, seperti dikutip Surabaya Post, (sampai saat itu) belum pernah dihubungi mengenai adanya komisi siaran itu. Seorang staf SCTV sendiri menegaskan, (waktu itu) belum melihat kerja komisi itu. “Tentunya mereka akan mengawasi dan memberikan masukan tentang berbagai acara SCTV.”
Entah kalau komisi itu bersifat nasional. “Idealnya per wilayah. Soalnya televisi swasta ini jangkauan siarnya khan terbatas.” Yang pasti, untuk materi acara yang ditayangkan SCTV, tidak ada sensor dari daerah. Sebagaimana film layar lebar yang sudah disensor BSF Jakarta, (waktu itu) masih harus disensor Bafida. Semacam BSF di daerah provinsi. “Kita terima jadi matengan dari Jakarta, langsung ditayangkan.”
Maka benar dugaan Akhudiat, yang dikutip di depan. “Program SCTV masih nyetel video.” Tpai video yang ditayangkannya menjadi santapan “baru” massa (waktu itu). “Di kampung-kampung, yang menikmati tayangan SCTV, karena tevenya berwarna, adalah orang-orang yang punya toko ‘pracangan’ (jualan sembilan bahan pokok-red), sedangkan yang tevenya hitam putih adalah ‘bakul’, pedagang rujak.”
Ditulis oleh: Rusdi Zaki
Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan









Komentar
Posting Komentar