FAMILI 100 BINTANG-BINTANG: "PEMAIN BOLA BEREBUT ANGKA DENGAN PARA PETENIS" (ANTEVE - SETIAP SABTU Pkl: 19.30 WIB)

 











GARANGNYA pemain dan penonton persepakbolaan nasional, tidak tampak sat para pemain Pelita Masstrans tampil di Famili 100 Bintang-Bintang. Listianto Rahardjo alias Bejo (penjaga gawang), Alex (bek kiri), Seto Nugraha (penyerang), didampingi mantan penjaga gawang putri Galanita – Muthia Datau kelihatan begitu santai dan menikmati penampilan mereka yang tergabung dalam kelompok Gol.

Mereka berhadapan dengan kelompok Smash yang beranggotakan: Irawati Moerid, Adrian Raturandang, Solihati Moerid, dan pahlawan tenis nasional di Filipina, Bonit Wiryawan. Barangkali banyak yang menyayangkan, kenapa bukan Widodo C. Putro, Kurniawan, Ansyari Lubis, atau nama-nama lain yang sedang melambung yang dimasukkan sebagai anggota kelompok Gol. Sebaliknya, dalam Smash bila Yayuk Bauski ikut, pasti lebih asyik.

“Sudah kita coba, tapi mereka benar-benar supersibuk,” ujar Dani, koordinator peserta 100 Bintang-Bintang. Meski tanpa nama-nama itu, para pemain yang tergabung dalam Gol dan Smash, rasanya cukup representatif membawa bendera masing-masing.

 














Babak pertama, Irawati, ‘leader’ Smash, berhadapan dengan ‘leader’ Gol, Muthia. Pertanyaannya, “Apa yang berhubungan dengan Borobudur?” Irawati dan Muthia sama-sama gagal. Gol mendapat peluang untuk membuka repson saat Bejo menjawab, “Tujuh keajaiban dunia.”

Satu dari delapan respon yang ada pun terbuka, nomor 7. Kata “Plaza” enteng saja keluar dari mulut Alex. Alex barangkali berpikir Borobudur itu tempat belanja. Peluang membuka respon pun pindah. Giliran Smash. Usul Soli, tempat ibadah, disetujui. Sayang, tak ada respon yang terbuka. 65 untuk Gol.

Pertanyaan, “Bahan-bahan untuk membuat bubur ayam?,” berhasil disambar Smash. Dari tujuh respon, tinggal satu yang tidak berhasil dibuka. Keesempatan beprindah. Muthia gigih dengan jawabannya sendiri. Usul Seto, Bejo, dan Alex dicuekin. “Garam!,” teriaknya yakin. Angka tetap bertahan di Smash, 76. Gol dan Smash tampak bersaing ketat dalam perolehan angka.

Babak ketiga, Soli dan Alex yang berebut di nilai ganda, gagal menentukan pemenang. Terpaksa babak tambahan pertama pun digelar, Seto versus Bonit. Mampukah Seto “menyarangkan bolanya” ke gawang Smash. Pertanyaannya, “Sebutkan benda yang terbuat dari busa!”

Ada empat respon di papan. Semuanya nyaris berhasil dibuka Smash. Tapi gagal ketika asmpai pada respon keempat Gol punya peluang. Seto usul: matras. Muthia setuju. “Matras!,” teriaknya yakin. Bila “matras” ada di papan, maka Gol (waktu itu) akan maju ke babak berikut.

Ditulis oleh: Lukmanoelhakim

Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer