FAMILI 100 BINTANG-BINTANG: "MANTAN PENYANYI CILIK VS MANTAN ARTIS CILIK" (ANTEVE - SABTU, 10 MEI 1997 Pkl: 18.30 WIB)

 



ADA ucapan yang kerap kita dengar saat seseorang bertemu dengan teman kecil atau publik figur yang dikenal dari usia sangat belia, seperti, “Dia makin gemuk aja, ya,” atau “Kok sekarang lebih cakep, ya.” Kalimat itu pula yang (waktu itu) akan muncul tanpa Anda sadari saat menyaksikan tayangan Famili 100 Bintang-Bintang (ANteve) kali ini. Penampilan beberapa aktor-artis dan mantan penyanyi cilik, tentu sesuatu yang menarik.

Melihat kembali wajah Fachrulrozi yang dikenal lewat Keluarga Ratu Asia, Nunu Datau – dulu (70an, red) tergabung dalam Keluarga Pak Is (tayangan TVRI ketika menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia-red), Ajeng Sardi, bintang cilik dalam Pengemis dan Tukang Becak, tentu bisa membuat kita kembali terkenang masa-masa tempo dulu (70an-red). Juga ada Vien Is Haryanto, mantan penyanyi cilik yang sempat melambung, tapi kemudian menghilang.

Paling tidak kerinduan atau rasa ingin tahu kita, sedikit terobati. Memang ada sebagian dari mereka yang terus tampil di permukaan, seperti Ira Maya Sopha, mantan penyanyi cilik yang (belakangan itu) jadi bintang iklan. Begitu juga dengan yang lain. Beritanya (sampai saat itu) bisa terus kita ikuti lewat media cetak maupun elektronik.

Tapi tak sedikit pula yang muncul, terkenal kemudian menghilang bak ditelan bumi. Nah, dalam episode “mantan artis cilik versus mantan penyanyi cilik,” kita bisa melihat gaya mereka kembali. Memang tak semuanya bisa ikut. Jadi tak perlu disesali bila yang tampil bukanlah Chicha Koeswoyo, Helen, Adi Bing Slamet, Nourma Yunita, Faradila Sandi, Diana Papilaya, atau Sari Yok Koeswoyo.

Mantan artis cilik seperti Fachrulrozi, Nunu Datau, Septian Dwicahyo, dan Ajeng Sardi, bersatu dalam kelompok Ketaba. “Kecil tapi hebat!,” kata mereka bersamaan saat ditanya Sonny Tulung. Ketaba berhadapan dengan para mantan penyanyi cilik yang bergabung dengan nama Mapeci alias mantan penyanyi cilik. Mereka terdiri Dina Mariana sebagai ‘leader’ kelompok, Fitria Elvie Sukaesih, Vien Is Haryanto, dan Ira Maya Sopha.

Di babak pertama, Fachrul berhadapan dengan Dina Mariana. Baik Fachrul maupun Dina, keduanya (waktu itu) sama-sama sudah berumahtangga. Pertnayaan, “Sebutkan artis Indonesia serba bisa!” Disambut Fachrul lebih dulu. Sayang, Fachrul terlalu lama berpikir. Kejadian serupa juga menimpa Dina. Ibu dari Ezra Mandira dan Ewaldo Andipo ini, cuma bisa bengong.

Akhirnya Sonny melempar kesempatan pada masing-masing anggota kelompok. Baru pada kesempatan ketiga, Vien berhasil menebak. Vien berhasil membangkitkan semangat Mapeci. Tak semua jawaban berhasil dibuka. Ketaba punya peluang ada merebut nilai. Usulan Septian, tak dipedulikan Fachrul. Fachrul punya jawaban sendiri. Sayang jawaban tak ada di papan. 53 untuk Mapeci.

Pertanyaan kedua, “Di mana orang bisa lihat iklan restoran?,” berhasil dibuka Nunu, ibu satu anak yang tampak masih sangat cantik (sampai saat itu) ini. Tapi, jawaban Fitria, lebih bagus. Lagi-lagi Mapeci gagal. Untung, Ketaba juga gagal. Angka bertambah untuk Mapeci.

Giliran Vien dan Septian memainkan babak pertama nilai ganda. Pertanyaan, “Apa yang dikatakan orang saat berpisah?,” berhasil dijawab Septian. Tapi, jawaban Vien lebih bagus. Mapeci lagi yang berpeluang. Sayang gagal. Ketaba berhasil memimpin, 126 untuk Ketaba.

Tapi angka belum mencapai 200. Terpaksa babak tambahan bernilai ganda dimainkan. Ira Maya Sopha berhadapan dengan Ajeng. Ira, ibu dari Kalista dan Defara, yang (belakangan itu) berprofesi sebagai ‘public relation’ kalaah cepat menjawab pertanyaan, “Selain gitar, apalagi alat musik yang bisa dipetik?”

Ketaba nyaris menyabet semua angka. Peluang lalu berpindah pada kelompok Mapeci. Bila “harpa”, jawaban yang disebut Dina Mariana ada di layar, maka Mapeci berhak maju ke babak berikut.

Ditulis oleh: Lukamnoelhakim

Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer