DIALOG FILM NASIONAL VERSUS CINEMA-CINEMA

 

Saat syuting Cinema-Cinema, paket kedua 


ADA kampanye film layar RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) dan SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Istilah “kampanye film,” memang lebih dikenal saat-saat menjelang Festival Film Indonesia. Saat macam ini, di beberapa tempat – biasanya di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta – diselenggarakan pemutaran secuplik film yang masuk unggulan, lantas diadakan diskusi dengan para artis, produser, dan sutradara.

Pengertian “diskusi” ini nyatanya tak lebih dari mengobral kecap belaka. Artinya, kalau nggak ngomongin kemungkinan mendapat piala Citra. Bagaimana menghayati peran, juga sejumlah hal lain yang sebetulnya membuang-buang waktu belaka.

Celakanya, soal ini juga diulang dalma paket Dialog Film Nasional, siklusnya, lantaran selanjutnya diudarakan “loncat-loncat” tanggal 9, 10, 11, 17, 18, dan 24 Oktober 1990. Ilham Bintang, sekretaris dewan film, yang jadi pengarah teknis dalam acara dialog ini bialng, “Dialog dimaksudkan sebagai kampanye film nasional pusat untuk kalangan menengah ke atas, sementara kampanye dan di pusat perfilman itu dimaksudkan untuk kalangan menengah ke bawah.”

Ilham memperhitungkan bahwa yang mampu jadi pelanggan lewat dekoder adalah dari golongan ekonomi mampu. Padahal, jika sudah tanpa dekoder, tipologi yang dipakai Ilham harus dipertanyakan. Kenapa ide yang konon muncul tahun 1986 ini – dan “ketemu” bentuknya setelah melihat Dialog Ekonomi – tak ditawarkan ke TVRI, yang pneonotnnya jauh lebih luas dan banyak?

“Saya dengar, sulit meminta waktu siar satu jam di TVRI. Apalagi bagi acara yang bersifat ‘talkshow’ begini.” Di tempat yang sama, RCTI maupun SCTV, nyatanya ada dua macam kampanye film, yakni Dialog Film Nasional itu sendiri dan Cinema-Cinema.

Jelas banyak sekali perbedaannya. Dialog merupakan paket yang disodorkan panitia tetap FFI. Sementara Cinema-Cinema dikerjakan oleh REI (Rocket Entertainment Incorporation). Yang terakhir lebih profesional mengerjakan paket-paket model begini, sementara yang pertama lahir karena dadakan.

Perbedaan lain, Cinema-Cinema lebih terasa sebagai paket hiburan yang segar – bukan semata lantaran juga menampilkan film barat – tapi juga para komentatornya, Noorca M. Massardi dan Zoraya Perucha, terasa lebih tahu permasalahan dibandingkan dengan Dialog yang kendati dipadu para wartawan film, toh yang kelihatan malah kekakuan-kekakuan dan kegagapan.

TAK hanya itu. Pantap FFI pun kebingungan soal film yang (waktu itu) akan diapresiasikan. Mereka didesak harus rekaman pada 8 September 1990. Sedangkan pengumuman film unggulan baru 28 September 1990. “Jadinya, diambil Keputusan untuk menayangkan berdasarkan jenis film saja, “jelas Ilham.

Keputusan itu ternyata menimbulkan masalah lain. Film Oom Pasikom dan Soerabaia 45 yang diapresiasikan konon (waktu itu) belum selesai digarap. Celakanya, dari tujuh buah film yang didialogkan, dua film yang tak termasuk film unggulan: Si Buta dari Goa Hantu dan Pengantin. Orang-orang pun jadi bertanya-tanya: ada apa di balik itu?

Komentar minor tak hanya ditujukan pada para pemandu, yang konon sudah diberi pengarahan dan latihan sehari penuh oleh H. Rosihan Anwar, seorang wartawan kawakan, yang juga jadi pengarah teknisnya. Apa katanya mengundang Anang Adennansi, anggota DPR RI, untuk “membahas” film si Buta?

Untuk pemilihan tokoh itu, sebenarnya ada hubungannya dengan film yang diapresiasikan, untuk jenis-jenis film-film remaja. Kata Ilham, yang cocok adalah Yapto S. Soeryosumarno, S.H. “Dia khan tokoh pemuda?”

Sedangkan untuk film berjenis drama rumah tangga, yang diundang misalnya psikolog. Cuma, rencana yang disusun itu – entah mengapa – berubah. Yapto malah menjadi pembahas tema film drama rumah tangga. Sednagkan Erina Witoelar malah menjadi pembahas film remaja.

Dialog (wkatu itu) masih akan menghadapi problem lagi. Jika FFI sudah habis, apa mereka akan terus bikin paket? Macam mana? Apa bedanya dengan Apresiasi Film Nasional di TVRI? Padahal, kecuali paket macam ini bisa sangat menolong – pemirsa dapat gambaran, produser dapat beradvertensi. Dan itu sudah ditunjukkan Cinema-Cinema, yang disponsori Subentra, alias kelompok 21.

“Soal ini sebetulnya tidaklah sukar,” ungkap Scott G, pengarah acara dari REI, hubungi distributor film, perlihtakan ‘demo-tape’, contoh rekaman dan cari pembawa acara yang berbakat.Yang lebih dipentingkan Scott di isni adalah semangat untuk kreatif dna kesanggupan meyakinkan pihak sponsor: ide acara tersebut – selain mempunyai nilai jual – dapat merebut perhatian penonton.

Dan Cinema-Cinema (perkiraan waktu itu) kayaknya bakal merebut minat. Sabtu, 27 Oktober 1990 ini, (waktu itu) akan ditayangkan film-film baru (era itu): Robocop 2, She Devil, dan Sesaat Dalam Pelukan. Entahlah, barangkali lantaran ada sponsor di baliknya, kritikan jadi (waktu itu) belum kita dengarkan. Lihat saja tayangan Sabtu, 13 Oktober 1990, perihal Catatan Si Boy IV serta Pretty Woman dan Air America itu.

Ditulis oleh: Tata/Christantiowati/Veven Sp Wardhana

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer